Petugas Wisma Itu Ternyata Calon Doktor

Pada kurun waktu 2008-2009 saya sempat tinggal di Aceh selama 4 bulan. Waktu itu saya  bekerja pada kantor konsultan SMEC yang dikontrak Asian Development Bank. Klien kami adalah Bank Daerah Aceh yang memerlukan bantuan tehnis untuk mengembangkan portofolio kfredit pertaniannya. Untuk menghemat uang harian,  saya memilih tinggal di wisma, yang tarifnya bisa sepertiga tarif hotel bintang 4. Waktu itu di Banda Aceh(BA)  banyak rumah-rumah pribadi yang disulap menjadi wisma untuk melayani konsultan-konsultan asing dan NGO yang bertugas pasca tsunami Aceh. Pada waktu masih ramai-ramainya konsultan yang bekerja di Aceh, 1 wisma bisa laku Rp1 milyar per tahun. Tahun 2008 sudah banyak konsultan dan NGO yang pulang, sehingga wisma-wisma tadi kamarnya disewakan secara harian.

 

1353208464721607414

Wisma Damayanti Neusu, Banda Aceh (dok pribadi)

 

Atas saran teman, saya tinggal di Wisma Damayanti, didaerah Neusu milik orang Banda Aceh yang menjadi bupati di Simeuleu. Tarifnya Rp200,000 per hari, tetapi karena saya tinggal untuk jangka yang lama didiskon menjadi Rp150,000 per hari. Ketika pertama kali check-in saya disambut oleh seorang pria  sekitar usia 40-an, dengan penampilan celana jeans dan kaos oblong sedikit  kumal, membantu menurunkan barang-barangku dari mobil dan menaruhnya di kamar. Pada malam harinya dia juga kelihatan dikantor wisma sambil mencatat-catat sesuatu dibuku register. Sebelum masuk tidur sempat pula menanyakan untuk  besok pagi mau sarapan apa.  Saya langsung men-” judge” pasti dia petugas wisma. Untuk hari-hari selanjutnya dengan enaknya saya selalu menyuruh- nyuruh dia, dan diapun melayani saya dengan sangat baik.

Pada suatu hari, pagi-pagi saya lihat dia dengan seragam coklat2 seperti seragam pemda, siap untuk berangkat ke kantor. Penasaran, langsung saya interogasi. Ternyata dia seorang dokter hewan yang berdinas di Dinas Kehewanan Propinsi BA, sudah menyelesaikan S2 dan sedang menyelesaikan S3 di Universitas Syah Kuala BA. Dia tinggal dimuka wisma dan membantu mengurusi  wisma karena pemiliknya tidak ada di BA. Dalam hati saya malu sekali karena terlalu gegabah menilai orang. Sesudah peristiwa itu hubungan kami tidak berubah. Dia masih tetap melayani segala kebutuhan saya, tetapi saya sekarang meperlakukannya dengan lebih hormat. Calon doktor ini namanya Salahuddin atau saya biasa panggil pak Dien. Sekarang pasti sudah Doktor. Salam hormat pak Dien and I miss you very much.

 

 

 

13532080001206977146

Pak Dien (kiri) bersama penulis (dok pribadi)

Explore posts in the same categories: Sketsa

Tag: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: