Cita-cita

Sejak kecil anak-anak sudah sering ditanya :”Nanti kalau sudah besar mau jadi apa.”. Sebenarnya yang ingin ditanyakan apa cita-citanya nanti. Cita-cita seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan terdekatnya, seperti apa yang dikerjakan orang tua, ayah atau ibunya, sangat mempengaruhi pilihan cita-cita mereka. Yang ayahnya dokter akan cenderung memilih dokter sebagai cita-cita, begitu pula yang ayahnya polisi nanti kalau sudah besar ingin jadi polisi. Lingkungan terdekat kedua adalah sekolahan. Setelah anak mulai masuk sekolah, hampir sepertiga waktunya dihabiskan di sekolah. Tambahan pengetahuan dari guru tentang berbagi-bagai jenis profesi akan membentuk idealisme cita-cita anak-anak.

Ayah saya dulu seorang tentara, tetapi bukan bagian perang. Waktu revolusi memimpin pabrik karet yang disulap menjadi bengkel persenjataan di daerah Batujamus, Karangpandan, Surakarta, dengan tugas memperbaiki senjata dan menyiapkan amunisi untuk para pejuang. Sesudah penyerahan kedaulatan ditugaskan untuk menjadi komandan Dinas Tehnik Tentara (DTT), atau kalau sekarang namanya Peralatan Angkatan Darat (PALAD), di Solo. Sejak kecil saya dan kakak-kakak saya nampaknya tidak begitu tertarik untuk menjadi tentara. Mungkin karena tidak pernah mendengar cerita-cerita pengalaman heroik dari ayah saya. Sedang cerita-cerita masalah tehnik pabrik senjata agak sulit untuk dicerna anak-anak. Jadi kalau ditanya, saya dan kakak-kakak, tidak pernah bilang ingin jadi tentara.

Ayah saya tukang radio

Ayah saya adalah seorang tehnisi komplit, hasil pendidikan jaman Belanda dulu. Mulai dari mekanik (mobil, alat-alat listrik dan mesin-mesin besar), elektronik (radio dan alat-alat komunikasi) sampai ke presisi seperti jam dan alat-alat ukur lainnya, bisa semua.. Berkat keahliannya ini, dijaman Belanda ayah bekerja sebagai tehnisi di pelabuhan dengan gaji disamakan dengan gaji seorang tehnisi Belanda. Ayah saya sering bernostalgia betapa enaknya hidup di jaman kolonial dulu. Namun yang menjadi spesialisasinya adalah elektronik, atau pada waktu itu utamanya radio.

Sehabis pulang kantor, jam 2 siang, ayah bisa berjam-jam menghabiskan waktunya utntuk mengotak-atik radio. Biasanya ayah membeli radio bekas atau amplifier yang rusak, kemudian diperbaiki, lantas kalau ada yang berminat dijual. Bisa untuk menambah penghasilan memang, namun sebenarnya lebih banyak untuk menyalurkan hobinya dibidang elektronik. Karena selalu laku dijual maka di rumah hampir tidak pernah punya radio yang bagus untuk dipajang. Ibu selalu mengeluh, tukang radio kok nggak pernah punya radio.

Di rumah sosok ayah lebih nampak sebagai tukang radio daripada seorang tentara. Sejak awal ayah juga tidak pernah berusaha memperkenalkan dunia elektroniknya kepada anak-anak. Walaupun kalau lagi memperbaiki radio saya sering disuruh-suruh untuk mencari alat-alat ini dan itu, tetap saja dunia keradioan tidak menarik bagi saya. Bukan berarti saya tidak menikmati hasil kerja ayah saya. Berkat radionya yang canggih saya bisa menangkap siaran Radio Hilversum Nederland atau Radio ABC, Australia, mengungguli teman-teman di sekolah.

Guru tokoh idola

Setelah mulai sekolah saya betul-betul kagum dengan profesi guru. Bagi saya guru adalah sosok yang hebat sekali. Bukan saja sebagai pendidik, tetapi juga sebagai teman, bapak dan tempat dimana segala macam pertanyaan bisa diajukan. Salah satu guru saya yang sangat berkesan dalah Bu Narti, guru klas empat. Beliau sering mengisi jam-jam pelajaran terakhir dengan bercerita. Cerita tentang apa saja, pengalaman-pengalamannya, cerita dari buku-buku atau film yang pernah dibaca atau ditontonnya. Namun yang paling berkesan adalah Pak Harno, guru klas enam. Masih muda, mungkin kira-kia usia 20-an, ganteng dan selalu kelihatan necis dengan bajunya yang bagus-bagus. Karena penampilannya, pak Harno bukan hanya menarik sebagai seorang guru, tetapi juga menarik sebagi seorang laki-laki. Saya bisa merasakan anak-anak perempuan di kelas nampaknya pada jatuh hati pada pak Harno. Saya kurang tahu persis pada waktu itu apakah beliau sudah berkeluarga atau masih bujangan.

Guru pada waktu itu memang mempunyai status sosial yang tinggi di masayarakat. Sampai tahun 60-an gaji guru masih relatif tinggi dan lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari. Ukurannya sepeda yang dinaikinya, bukan sepeda motor atau mobil, karena hanya orang yang kaya yang bisa beli motor atau mobil. Rata-rata guru memiliki sepeda-sepeda seperti Raleigh, Humber, Fongers, Gazelle, merk-merk sepeda mahal pada waktu itu. Mungkin kekaguman saya terhadap profesi guru lebih banyak dipengaruhi penampilan fisiknya, yang kelihatannya serba enak dan berkecukupan.

Sampai SMA saya masih bercita-cita ingin jadi guru. Salah satu guru saya yang saya kagumi adalah pak Hartanto, guru bahasa Indonesia. Saya masih ingat ketika di kelas membahas penyair Chairil Anwar dengan sajaknya yang terkenal “Aku”. Beliau begitu bagusnya dan intens dalam memperagakan penyair ini sehingga kita bisa membayangkan seperti apa tokoh yang terkenal kontorversial ini. Begitu pula dengan pak Suwadji, guru Aljabar ayahnya pak Pranowo Suwadji. Beliau ini terkenal galak, keras dan disiplin, namun semuanya dengan obsesi bagaimana supaya anak didiknya menjadi pintar. Lama sekali kekaguman saya kepada bekas guru-guru saya membekas di lubuk hati kami. Guru bukan hanya sekedar digugu dan ditiru, tetapi juga dihormati dan dikagumi.

Kapan ingin menjadi bankir?

Pada waktu saya kuliah, kira-kira awal tahun 60, ketika itu sedang jaya-jayanya perusahaan negara(PN) seperti Panca Niaga, Dharma Niaga, Kerta Niaga. Jamannya jual lisensi, kuota, dan monopoli yang diberikan pemerintah, membuat PN betul-betul berkibar. Saya perhatikan kehidupan pejabatnya kelihatan enak-anak dengan rumah dinas, mobil bagus dan berbagai fasilitas lainnya. Sedang disisi lain, ekonomi semakin memburuk, inflasi tinggi, harga-harga membubung terus dan kehidupan semakin sulit. Profesi pegawai negri dan guru saya lihat sudah tidak menarik lagi. Jadi sekarang saya ganti cita-cita, ingin kerja di PN kalau sudah selesai kuliah nanti.

Sekitar tahun 68 ditempat saya kost mendapat tambahan 2 penghuni baru, mas Hari, pegawai Dinas Metrologi dan mas Akhsan, pegawai BKTN (BRI) Kantor Daerah Semarang. Dengan mas Hari saya tidak terlalu dekat, ya sekedar kenal sesama teman satu kost. Sebaliknya, dengan mas Akhsan saya sangat dekat, sering diajak nonton atau makan direstoran. Dari mas Akhsan inilah berawal ketertarikan saya untuk bekerja di bank. Saya lihat setiap hari kalau berangkat ke kantor dijemput bus, pakaiannya selalu necis, baju putih dengan celana gelap dari bahan yang halus. Tiap Minggu pagi dengan pakaian olah raga putih-putih berangkat main badminton. Suatu ritme kehidupan yang ideal sekali. Saya tidak tahu posisinya apa di bank, tapi nampaknya uangnya cukup banyak. Untuk orang indekost-an, ukuran orang kaya itu sederhana, baju bagus ditambah tiap minggu bisa nonton atau makan di restoran sudah cukup.

Persepsi atas sukses

Begitu lulus dari fakultas ekonomi Undip tahun 1972, saya ikut-ikutan teman-teman yang lain ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Cita-cita untuk kerja di PN atau bank hilang semua. Pokoknya pekerjaan apa saja yang pertama didapat akan saya ambil, supaya bisa survive di Jakarta. Pertama kali saya mendapat pekerjaan sebagai auditor junior di SGV-Utomo, sebuah kantor akuntan patungan Indonesia-Pilipina yang berkantor di jalan Thamrin. Saya hanya bertahan setahun di kantor ini. Saya tidak melihat prospek yang cerah di kantor ini, karena latar belakang pendidikan saya bukan akutansi. Disamping itu sebagai orang yang biasa bertahun-tahun di daerah, hidup di Jakarta ternyata susah juga. Saya masih ingat gaji saya waktu itu Rp30,000. Untuk bayar kamar Rp12,500, sisanya untuk makan dan transport(bus kota), betul-betul kehidupan yang pas-pasan.

Ketika membaca iklan sebuah bank pemerintah (BRI) mencari tenaga untuk dididik menjadi calon pimpinan, maka tanpa menunggu-nunggu lagi saya langsung mendaftar. Bayangan saya dengan bekerja di bank saya akan mempunyai kesempatan menjadi pejabat, punya pangkat, kedudukan dan kehidupan yang enak. Cita-cita, apakah mau menjadi guru, tentara, pegawai PN atau bankir sebetulnya tidak relevan lagi. Yang ada keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tidak perduli profesinya apa. Kalau kebetulan lowongan yang muncul pertama dulu Pertamina, atau Departemen Keuangan, atau Garuda, mungkin saya tidak akan menjadi pejabat di BRI..

Jadi di masyarakat yang disebut sukses itu punya pangkat, jabatan dan kaya. Kalau ada seseorang dengan jabatan tinggi tetapi melarat dianggap bodoh dan gagal. Kalau seseorang ingin jadi polisi, jaksa, hakim, bankir, bupati, atau menteri, sebetulnya tidak selalu untuk memenuhi idealisme sejak kecil, tetapi lebih banyak sebagai sarana untuk mencari sukses dalam pengertian diatas. Ketika pertama diterima bekerja di BRI dulu, gaji saya Rp16.500 sebulan ditambah beras 15 kg, tetapi saya optimis bahwa di BRI saya akan bisa hidup lebih baik. Ketika ada lowongan pegawai negri, ribuan orang melamar, walaupun kita tahu menjadi pegawai negri sipil (PNS) gajinya kecil. Persepsi bahwa PNS hidupnya enak-enak mendorong banyak orang meniti karir sebagai Pegawai negri.

Orang tua dan cita-cita anak-anak.

Seperti orangtua yang lain, tadinya saya juga bercita-cita agar anak-anak menjadi sarjana semua. Ketika Doni, anak saya yang paling besar, lulus SMA, saya dorong untuk meneruskan kuliah. Saya tidak terlalu mengarahkan harus kuliah dimana. Pengalaman kurang menyenangkan berurusan dengan penegak hukum sewaktu bertugas di BRI, membuat saya berharap anak-anak tidak memilih profesi dibidang hukum seperti : jaksa, hakim, pengacara atau polisi. Doni berhasil menyelesaikan Sarjana Tehnik-nya dari Trisakti dan memperoleh MBA dari University of Baltimore, Maryland. Pulang dari Amerika bekerja di Astra-Graphia, sampai sekarang.

Vitry, adiknya yang selisih 5 tahun, sedikit berbeda. Ketika selesai SMA tidak mengatakan ingin kuliah dimana, tetapi ingin bekerja dibidang jurnalisme. Jadi sejak awal memang sudah jelas profesi yang akan dipilihnya nanti. Ketika dia kuliah, obsesinya bukan untuk mencari gelar sarjana, tetapi mencari ilmu dan keahlian dibidang jurnalisme. Sejak SMA memang sudah kelihatan bakatnya dalam event-organizing atau mengelola majalah dinding. Vitry berhasil memperoleh S1 dari University of Oregon dibidang journalism dengan spesialisasi broadcasting. Setelah kembali ke Indonesia sempat bekerja di beberapa advertising agency selama 2 tahun. Sekarang dia mengelola perusahaan sendiri yang bergerak dibidang iklan dan promosi, pembuatan brosur, company profile, annual report dan website.

Saya kurang tahu mewarisi dari siapa, tetapi nampaknya darah seni mengalir ditubuh Didit, anak saya nomer 3. Ketika masih SMP klas 1, di Surabaya, minta dibelikan gitar. Saya masih ingat betapa susahnya, dengan bantuan Handono, oomnya, dia mencoba menguasai ABC-nya chord gitar. Ketika SMA, diluar dugaan saya, bakat musiknya, baik gitar maupun tarik suara, berkembang pesat. Saya coba salurkan dengan membelikan seperangkat alat musik lengkap. Ketika selesai SMA, berbeda dengan kakak-kakaknya, tidak terdengar kata-kata sedikitpun tentang rencananya selepas SMA. Walaupun tidak pernah diutarakan, saya bisa merasakan kalau Didit bercita-cita ingin menjadi pemusik.

Perlu diingat bahwa seniman cenderung berpembawaan santai, seenaknya, acuh, kurang perduli terhadap lingkungannya. Seniman juga kurang senang dengan hal-hal yang serba teratur dan yang bersifat sudah mapan. Ahli psikologi mengatakan seniman lebih kuat otak kanannya, sehingga lebih menyukai situasi yang memberikan dia ruang untuk berkreasi dan berimajinasi. Hal-hal yang sifatnya anlalitis dan memerlukan kemampuan logika kurang disukai.

Berbekal dengan pengetahuan diatas saya tidak akan meminta Didit untuk sekolah yang konvensional, seperti hukum, ekonomi, atau bisnis. Sebagai gantinya saya kirim ke sekolah manajemen perhotelan di Blue Mountain, Australia. Hanya bertahan satu setengah tahun, gagal. Ternyata mengirim anak ke sekolah perhotelan hampir seperti mengirim anak ke akademi militer. Jadwal yang padat, kehidupan asrama dengan disiplin yang keteat,  tugas-tugas yang berat sangatt tidak cocok dengan jiwa anak saya yang seniman.

Kembali dari Australia Didit saya beri kebebasan untuk sekolah kemana. Dia memilih mengambil D3 dibidang desain computer dan multi media, bidang-bidang yang lebih mudah dicerna jiwa senimannya. Namun kali ini lebih bersemangat, karena disamping sekolah juga bisa menyalurkan bakat musiknya. Sekarang dia bekerja sebagai creative designer di perusahaan kakaknya dengan tetap main musik sebagai profesi.

Novi, anak saya yang ke empat, perempuan, adalah anak mamah. Kita terlalu protektif sejak kecil, kemana-mana diantar. Bahkan saya tidak pernah mengijinkan dia pergi-pergi dengan naik kendaraan umum, takut ada apa-apa. Akibatnya dia tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, walaupun kemampuan intelegensianya tinggi. Selepas SMA juga tidak ingin meneruskan kuliah, tetapi memilih sekolah mode.

Selesai sekolah di ESMOD, sekolah mode dari Perancis yang membuka cabang di Indonesia, kemudian melanjutkan mengambil fashion business di LASSALE. Sempat bekerja selama satu tahun di perusahaan garment milik orang India. Tidak tahan, karena jam kerjanya seperti rodi dengan gaji kecil. Sekarang dia bekerja dirumah dengan menerima jahitan. Cukup berhasil, karena banyak menerima pesanan dari ibu-ibu klas atas atau dari kantor-kantor. Namun masih tetap stress berat kalau ada langganan yang mengeluh soal kualitas jahitan.

Pelajaran buat orang tua

Sebagai orang tua sebaiknya kita tidak memilihkan cita-cita untuk anak-anak kita. Biarkan mereka menentukan cita-citanya sendiri. Yang lebih penting mempersiapkan anak-anak dengan memberi bekal nilai-nilai moral yang baik. Nilai-nilia seperti disiplin, kejujuran, amanah dan integritas perlu ditanamkan sejak dini. Pemilihan pendidikan anak-anak juga harus memperhatikan pembawaan, bakat dan karakteristik kejiwaan anak. Jangan terlalu memaksa anak-anak untuk jadi sarjana. Memang bangga punya anak-anak sarjana semua, tetapi apa gunanya punya anak-anak sarjana kalau nganggur semua. Biarkan mereka memilih pendidikan yang sesuai dengan bakatnya dan memudahkan mereka untuk mencapai cita-citanya, walaupun tidak memberi gelar sarjana.

Explore posts in the same categories: Sketsa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: