Wisata kuliner Jogya (1)

Pendahuluan

Sejak Ari, anak saya yang paling kecil, kuliah di UGM , saya jadi sering ke Jogya. Paling tidak 2 bulan sekali saya ke sana sama nyonya. Disamping untuk menengok anak, juga untuk sejenak ganti suasana , melepaskan diri dari panas, kotor, bising dan macetnya kota Jakarta. Kalau ke Jogya sering bingung mau bawa pakaian apa. Soalnya merasa sudah ninggal beberapa pakaian disana tetapi selalu lupa yang mana. Maklum sudah kepala enam, jadi sering lupa. Jadi supaya tidak lupa dan kalau ke Jogya tidah usah banyak-banyak bawa ganti, sebaiknya saya catat dan saya masukkan ke blog. Buka sok internetan, tapi kalau dicatat di tempat lagi nanti susah lagi nyarinya. Yang sudah ditinggal di tempat kost Arie antara lain :
2 Kaos golf panjang
3 T shirt
2 kaos oblong untuk tidur

1 celana training

1 handuk besar

1 baju lengan pendek

Kalau pas ada di Jogya sering diajak teman-teman main golf di Adisucipto. Nah saya juga nyimpan perlengkapan golf. Supaya tidak usah berat-berat bawa alat-alat golf, sebaiknya dicatat juga apa saja yang sudah saya simpan di sana.
Perlengkapan olah raga
1 set golf clubs tanpa putter
1 sepatu sepatu golf kulit + kaos kaki
1 sepatu golf karet
1 sepatu jogging
1 tas ganti golf
1 tas bola + glove dan bola
2 topi golf
Tulisan diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wisata kuliner, tapi hanya untuk membantu ingatan saya soal bawa ganti baju.

Soto sapi pak Ngadiran

Hari Minggu pagi, tgl 15 Juni 2008, jam 7.30 pagi saya sudah mendarat di Adisucipto Airport. Dari rumah berangkat habis sholat Subuh, berarti belum sempat sarapan. Sampai di Sawit Sari, tempat kost Ari, pertanyaan pertama ; “Makan dimana Ri?”. Ari langsung menyarankan ke soto daging sapi Pak Ngadiran. Dia tahu, kalau di Jogya saya selalu mencari makanan-makanan yang tradisional, yang enak tapi dengan harga yang realtif murah. Bukan mau ngirit, tetapi serasa ada kenikmatan tersendiri kalau bisa makan murah tapi rasanya masih mak nyuus.
Soto Pak Ngadiran terletak di daerah Klebengan, masuk dari Gading Mas, atau dari selokan Mataram. Agak susah kalau harus nyari sendiri, mungkin lupa lagi bisa nggak ketemu.
Resto ini nampaknya memang murah meriah. Pagi-pagi sudah penuh pengunjung, terutama dari kalangan mahasiswa. Menu andalan memang hanya soto sapi, tetapi dengan beberapa variasi : misalnya soto sapi campur (nasi), soto pisah, soto sapi daging dobel. Ada juga soto campur kuah (alias tanpa daging). Wah kalau yang ini namanya sudah ngirit banget. Mungkin untuk mahasiswa yang lagi telat kirimannya. Untuk sekedar informasi harga, soto daging campur Rp4.500, tempe goerng Rp300, es jeruk Rp1.500.

Tips untuk Anda, makan soto Pak Ngadiran tidak lengkap rasanya kalau tidak ditemani tempe goreng tepungnya yang berukuran mini dengan rasanya yang maxi. Kalau mau lebih nikmat lagi, pesanlah babat gorengnya yang bernuansa manis-gurih untuk melengkapi citarasa hidangan anda. Jangan lupa dengan krupuk kritingnya. Sambelnya enak, dicampur kecap bisa untuk teman makan tempe, hanya menurut saya agak terlalu pedas


Warung Makan Lombok ijo,
sego abang

Saya makan disini untuk pertama kali dibawa Pak Bambang Setiari, pensiunan BRI yang berwiraswasta dengan usaha tanaman hias di jalan Kaliurang. Lokasinya agak jauh dari pusat kota, di daerah Pakem di pinggir jalan raya menuju Tempel. Tepatnya di Jl Pakem Turi Km 1, Sleman.
Sangat tradisional, bangunan dari bambu sederhana, suasana sangat rumahan sekali. Bisa duduk di kursi atau lesehan, ditemani gemericik air yang mengalir di sawah dan ditiup angin sejuk dan segar dari gunung Merapi. Makanannya sangat sehat, khas Gunung Kidul yang jarang ditemui lagi di kota-kota besar. Beras merahnya gurih dan pulen. Daging empal dan ayam gorengnya empuk sekali, dibumbu agak manis tetapi terasa pas di lidah. Sayur lodehnya hanya berisi tempe dan irisan cabe ijo. Sayur daun papayanya tidak terasa pahit sama sekali, malah agak sedikit manis. Dan jangan lupa pesan teh kenthel gula batu. Sambil menunggu pesanan, kita bisa ngemil rempeyek kedele hitam. Pelayanan cepat, walaupun banyak tamu tetapi tidak terlalu lama menunggu. Pemiliknya sangat ramah. Ketika kelihatan minuman sudah hampir habis, dia sendiri yang mengisi lagi. Begitu pula ketika kita selesai makan dan mau pulang, dia ikut mengantar sampai kedepan. Betul-betul keramahan Jogya yang sukar dilupakan.

Menu favorit ;
Nasi beras merah
Empal daging
Ayam goreng
Tahu/tempe bacem
Sayur lodeh lombok ijo
Sayur daun papaya
Bothok mlanding
Teh poci gula batu
Trancam

Menu diatas adalah sudah standar, artinya begitu kita duduk tidak usah pesan langsung disediakan. Sistemnya hampir kaya rumah makan Padang, tidak usah dihabiskan semua, kita hanya bayar yang kita makan. Praktis sekali.

Cowmad, tempatnya penggila sapi

Senin malam, medio Juni 2008,  Ari sama Ariana, pacarnya, ngajak makan malam di Cowmad, warung makan baru serba sapi, yang terletak Deresan, belakang Percetakan Kanisius, sebelah utara Happy Holy Kids.

Cowmad adalah warung makan untuk para penggila sapi, begitu kata si-empunya warung. Sajian utamanya memang daging sapi. Mulai dari sate, iga bakar, sup iga, sup buntut, sampai brongkos kikil. Tapi selain sapi-sapian, ada juga sayuran seperti brokoli bawang putih, kangkung hot plate dan tauge cah ikan asin. Minumannya juga beraneka ragam, mulai dari minuman tradisional seperti kunir asem dan jamu komplit sampai dengan aneka juice dan minuman dengan nama sapi-sapian seperti The Matador dan Sexy Cowmad. Untuk yang tidak ingin makan berat, Cowmad juga menyediakan cemilan berupa kentang goreng dan pisang goreng/bakar. Lengkap lah pokoknya!

Kami berempat memesan menu yang berbeda-beda, supaya bisa saling mencicipi menu masing-masing. Saya pesan Sapi bumbu mongolian, karena digambar kelihatan enak dan porsinya besar. Ternyata porsinya kecil sekali. Nyonya pesan sup buntut goreng, yang rupanya kurang begitu meresap bumbunya dan dagingnya agk keras. Ariana pesan iga bakar hoisan. Wah yang ini siip banget, mak nyuus. Ari pesan sup iga “selangit”, ternyata tidak selangit rasanya. Kurang lebih sama dengan sup buntunya.

Tempatnya cukup nyaman. Tempat makan utama berada di rumah kayu dengan gaya joglo, meja sisanya ditata di taman sekeliling rumah. Di bagian belakang sekarang sedang dibangun meeting room, jadi bagi yang ingin rapat sambil makan daging sapi, langsung saja datang ke Cowmad (kalau meeting room-nya sudah jadi.. hehehe…)

Harga makanan dan minuman Cowmad tidak murah untuk ukuran Jogya, namun cukup terjangkau. Tamu yang naik motor juga berani mapir ke sini. Harga minuman sekitar 8000 rupiah dan makanan berkisar di 19.000 rupiah sampai 25.000.

Brongkos Bu Padmo

Brongkos adalah seperti sayur lodeh tetapi memakai kluwek sehingga warnanaya kehitam-hitaman. Berbeda dengan brongkos vegetarian yang isinya didominasi sayuran (labu siem dan kacang tolo), brongkosnya bu Padmo isinya hanya daging sapi. Orang Surabaya bilang ini rawonnya orang Jawa. Walaupun cukup banyak warung nasi brongkos di Jogya, tetapi kalau kita tanyakan ke penggemar brongkos pasti mereka akan me-rekomendasikan ke warungnya Bu Padmo, Namanya Warung Ijo Bu Padmo, tempatnya di Pasar Tempel, dibawah jembatan kali Krasak yang menghubungkan perbatasan Jateng – DIY. Warungnya yang berwarna hijau nyempil ditengah kios-kios pasar lainnya. Saking sempitnya, kalau ada tamu lain yang selesai makan duluan kira sering harus berdiri semua untuk memberi jalan lewat.
Sekarang dibawah tulisan warung ijo ditambahi kata-kata “mak nyuus”. Mungkin ini gara-gara pernah dikunjungi Pak Bondan, pengasuh acara Wisata Kuliner dari Trans-TV. Jangan sampai keliru, karena disekitar lokasi tersebut sekarang bermunculan warung-warung makan lain yang juga menyajikan menu brongkos.
Disamping brongkos, disini kita juga bisa memesan nasi pecel, nasi terik daging, atau nasi koyor, tapi tetap menu andalannya brongkos. Memang beda dengan brongkos vegetarian, brongkos yang satu ini aromanya khas masakan daging dengan keharuman rempah yang menghanyutkan. Rasanya sangat gurih dengan gigitan rasa pedas yang membuat tidak enek. Dagingnya empuk sekali dan lumayan banyak, satu porsi cukup kenyang untuk orang-orang seusia saya. Secara keseluruhan brongkos daging ini enak banget, meskipun sepertinya lebih cocok untuk makan siang karena citarasanya yang lebih berat.
Harganya betul-betul bersahabat. Tujuh ribu satu porsi, ditambah minum, krupuk dan tempe goreng jadi sepuluh ribuan. Warung ijo ini ternyata sudah lumayan lama beroperasi, 50-an tahun. Dan yang lebih hebat lagi, Bu Padmo walaupun sudah sepuh, 80 tahun, masih ada dan masih sering mengecek keaslian rasa brongkos yang layak mendapat titel pusaka kuliner Jogya ini. Tapi harap diingat, meskipun sudah sangat beken warung yang satu ini tidak pernah buka cabang di tempat lain.

Bakmi Pak Mardi, Muntilan

Kalau ke Jogya biasanya tidak pernah saya lewatkan untuk makan bakmi Jawa. Dulu sewaktu masih dinas di BRI, setiap turne ke Joigya tiap malam selalu makan bakmi Jawa. Jadi kalau dinasnya tiga hari, ya tiga malam makan bakmi terus. Teman-teman turne sering kesel, karena tentunya bosen tiap malam kok makan bakmi terus. Hampir semua warung bakmi di Jogya sudah saya coba, ada Mundiyo, Kadin, Prawirotaman, Jombor, mbah Mo di Bantul sampai Pakem.
Kali ini saya diajak pak Bambang untuk mencoba bakmi Pak Mardi, yang katanya lain dari yang lain. Tempatnya di Tugu Besi, Lakar Santri, Muntilan. Untuk lebih tepatnya, kalau mau ke sana tanya saja sama BRI Muntilan. Di Muntilan ternyata terdapat suatu lokasi yang kalau malam hari penuh dengan warung-warung tenda yang berjualan segala jenis masakan, namun kebanyakan bakmi Jawa atau sate kambing.
Warung pak Mardi ini juga warung tenda yang kecil, diisi dua meja panjang dengan 10 kursi. Waktu saya datang kelihatan sepi, hanya ada dua orang yang sedang makan. Ternyata kami sudah tamu yang ke 15. Rupanya untuk pelanggan yang sudah tahu, karena tidak mau menunggu lama-lama, mereka pesan jauh-jauh sebelumnya. Jadi baru datang kira-kira kalau gilirannya sudah hampir tiba. Harap maklum, bakmi Jawa dimasak satu persatu, jadi harus sabar menanti. Kami beruntung karena memang sudah pesan sebelumnya, lewat salah satu pegawai BRI Muntilan, jadi tidak harus berlama-lama menunggu.
Bakmi pak Mardi sebetulnya tidak jauh berbeda dengan bakmi Jawa yang lain, hanya rasa bawang putihnya yang sangat menonjol. Juga berbeda dengan warung bakmi Jawa yang lain, bumbu-bumbu tidak disiapkan sebelumnya tetapi diracik secara mendadak setiap kali memasak pesanan. Akibatnya pada waktu dimasak aroma bawang putihnya terasa sangat keras dan betul-betul menggugah selera. Disini menawarkan menu bakmi godog, bakmi goreng, magelangan (bakmi goreng campur nasi) dan nasi goreng. Menurut saya yang paling mak nyuus adalah bakmi gorengnya.
Bagaimana dengan harganya ? Saya tidak tahu persis berapa per porsinya, tetapi untuk 8 orang dengan minum jeruk anget dan tambah uritan (telur muda) saya membayar Rp82 ribu. Saya kira cukup murah.
Sedikit sejarah, pak Mardi ini dulu sebelum jualan bakmi jadi kuli bangunan, tugasnya mengaduk semen. Sekarang tiap malam mengaduk bakmi dan nasi goreng. Bakmi pak Mardi memang lain dari yang lain, hanya sayang agak jauh dari Jogya. Ingat kalau ke sana sebaiknya pesan tempat dulu, jangan langsung datang.

Explore posts in the same categories: Catatan perjalanan

Tag: , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: