Kekayaan bahasa Jawa

Di Indonesia ada tren, khususnya di kalangan pejabat, kalau berbicara didepan publik selalu dicampur-campur dengan bahasa asing (Inggris). Mungkin memang karena tidak ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang pas, tetapi lebih banyak untuk gagah-gagahan supaya kelihatan modern dan pinter. Di lingkungan akademisi atau dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, penggunaan kata-kata asing memang sulit dihindari. Mencari padanannya dalam bahasa Indonesia disamping susah juga dapat menimbulkan salah arti, atau sulit dimengerti dikalangan ilmuwan. Malaysia lebih maju dari kita. Di sana ada upaya yang serius untuk secara maksimal menggunakan bahasa Malaysia dalam dokumen-dokumen resmi, walaupun untuk komunikasi lisan dikalangan intelektual dan bisnis umumnya menggunakan bahasa Inggris.

Sampai sekarang kalau ngobrol dengan teman-teman, khususnya dengan yang berasal dari Jawa, saya masih suka campur-campur denganbahasa Jawa.Saya merasa dengan berbahasa Indonesia tidak dapat sepenuhnya menyampaikan maksud yang ingin saya utarakan. Bahasa Jawa rasanya lebih mengena dan mempunyai istilah yang lebih tepat untuk situasi-situasi tertentu. Coba simak ungkapan berikut ini: “Anake mati konduran truk.” Maksudnya adalah, anaknya mati karena ketabrak truk yang bergerak mundur kebelakang. Kita tidak bisa menterjemahkan dengan “anaknya mati ketabrak truk”, karena ketabrak itu pengertiannya bisa dari depan atau dari belakang.Begitu pula dengan ungkapan: “Dalane gronjalan.”Yang ingin kita katakan adalah jalannya rusak, tidak rata dan mungkin berlubang-lubang, tetapi tidak ada satu kata Indonesia yang pas yang mewakili pengertian gronjalan.Kalau ada salah satu keluarga kita yang meninggal, apakah istri, anak atau orang tua, masyarakat Jawa mempumyai istilah khusus, yaitu kesripahan. Begitu pula pemberitahuan kalau ada yang meninggal, namanya “lelayu.” Kalau kita pergi ke undangan resepsi (bukan undangan rapat) disebutnya jagong.

Untuk rasa yang berhubungan dengan sakit perut, bahasa Jawa mempunyai beberapa istilah, seperti : mlilit (rasa seperti kalau telat makan), senep (rasa seperti menusuk di perut), mules (kalau kita sedang diaree), dan sebah ( perut seperti penuh makanan dan terasa keras). Untuk baju atau kain yang robek ada beberapa istilah sesuai dengan tingkatan robeknya, dimulai dari yang paling rendah : suwek, bedhah dan yang paling parah amoh. Bahasa Indonesia hanya mengenal satu kata untuk “melempar”, tidak membedakan apakah alat yang digunakan untuk melempar itu batu kecil, sedang atau batu besar. Orang Jawa membedakan antara dipathak (dengan batu kecil), dibalang (sedang) atau dibandhem (dengan menggunakan batu besar). Miskram atau keguguran hanya untuk manusia, kalau untuk binatang istilahnya keluron. Kalau ada yang mendorong dari belakang sehingga kita jatuh tertelungkup, disebut kejongor atau kejlungup. Kalau sebaliknya, sehingga kita jatuh tertelentang, disebut kejengkang.

Menurut ahli sosiologi, orang Jawa yang dulunya mayoritas agraris, mempunyai banyak waktu luang untuk mengotak-atik apa yang terjadi disekelilingnya, termasuk budaya bahasa. Barangkali hanya di Jawa kita mempunyai nama-nama yang lengkap khusus untuk anak-anak binatang. Kita mengenal anak anjing disebut kirik, anak sapi pedhet, anak kerbau gudel, anak kuda belo, anak harimau gogor, anak kucing cemeng, anak burung piyik, anak ayam kuthuk dstnya. Kata “malu” digunakan untuk ungkapan rasa bersalah karena telah berbuat tidak sepatutnya terhadap orang lain atau takut ditertawakan orang lain. Bahasa Jawa mengenal beberapa ungkapan : isin atau lingsem (takut ditertawakan orang lain), sungkan atau rikuh (takut merepotkan orang lain), klincutan (malu, misalnya karena datang terlambat), wirang (malu karena telah berbuat hal yang tidak senonoh).

Berikut beberapa kausa kata bahasa Jawa yang susah dicarikan penggantinya yang pas dalam satu kata bahasa Indonesia: Cotho, tidak bisa mengerjakan sesuatu karena ada peralatan yang hilang. Misalnya kita akan memperbaiki sepeda yang rusak, tetapi ada salah satu kunci pas yang hilang sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sering juga kita mendengar ungkapan: Wah cotho, Iyah(pembantu RT) mudik nggak pulang-pulang. Prigel, mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus secara cepat dengan hasil yang baik. Prigel ini tingkatannya lebih tinggi dari terampil. Merak ati, ini berlaku untuk wanita yang dari segi penampilan menarik untuk dipandang. Merak ati tidak harus cantik, barangkali istilah Inggrisnya yang lebih tepat charming. Dalam sastra Jawa sering kita mendengar: Merak ati eseme ngujiwat. Wah, yang ini lebih susah lagi mengalihkannya kedalam bahasa Indonesia. Gandhes, masih berhubungan dengan wanita yang dari tingkah laku serba luwes dan menarik. Cucuk, ini sebetulnya ada padanannya, yaitu “sepadan” antara hasil dengan pengorbanan. Namun diantara orang Jawa lebih senang menggunakan istilah cucuk.

Beberapa contoh lain : Ingah-ingih, penampilannya agak malu-malu seperti yang kurang percaya diri (PD). Clila-clili, hampir seperti ingah-ingih, tetapi ini karena kurang mengenal medannya. Seperti kalau kita datang ke undangan atau rapat sendiri dan ternyata disana tidak ada yang kita kenal, maka kita merasa clila-clili.Kapiran, tidak ada yang mengurusi sehingga menjadi terlantar. Sembada, kira-kira artinya tanggung jawab dan mampu mencukupi apa yang dibutuhkan. Misalnya kita mengundang teman main ke Jogya, lantas kita katakan :” Sudah jangan kawatir, nanti nginep dan makannya saya yang tanggung.” Gendulak-gendulik, orang yang ragu-ragu mengambil keputusan. Hari ini mengambil keputusan A, tidak lama berselang berubah B. Yang B belum dilaksanakan sudah ganti ke A lagi. Orang Jawa mengatakan: Gendulak-gendulik, apa sida apa ora. Cengengesan, sering ketawa sendiri tanpa alasan yang jelas. Dapat juga berkonotasi negatif, yaitu orang yang kalau diajak bicara tentang suatu hal memberi jawaban yang lain, dengan maksud untuk melucu tetapi tidak pada tempatnya.

Kalau ingin dilanjutkan masih ada beberapa contoh lagi : Jenggirat, tiba-tiba bangun, baik karena kaget atau takut. Awang-awangen, malas melakukan sesuatu karena takut tidak mampu melakukannya dengan baik. Mak jegagik, berhenti melakukan sesuatu karena tiba-tiba ada yang muncul didepan kita. Keblondrok, merasa tertipu misalnya membeli barang tidak ditawar sehingga kemahalan. Kemepyar, lepas-lepas, tidak lengket untuk nasi atau rasa segar dibadan sehabis meminum teh atau kopi panas. Grusa-grusu, berhubungan dengan tingkah laku yang serba buru-buru dan agak kasar.Kudu ngguyu, ingin ketawa sendiri karena ingat sesuatu pengalaman yang lucu.

Mungkin karena dirasa lebih mengena, banyak kata-kata bahasa Jawa yang sudah diadopsi dan diterima sebagai bahasa Inbdonesia. Antara lain : otak-atik, tetek-bengek, mumpung, ketimbang, risi(h), jajal, ampuh, bablas, bludag, brangus, wadhah, (m)entas, gembar-gembor, gledhah, godhog, kemplang(ngemplang), kinclong.

Contoh-contoh yang kami uraikan diatas adalah bahasa Jawa versi Solo, untuk Jogya barangkali lain. Dospundi Pak Wondo? mBok menawi kangungan wawasan sanes? Sumonggo.

Explore posts in the same categories: Sketsa

Tag: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Komentar pada “Kekayaan bahasa Jawa”

  1. yudijokosat Says:

    Sip Mas…tulisannya bagus, jadi tambah “kesengsem” sama budaya sendiri…


  2. sarujuk kaliyan pangandikan Panjenengan Pak..Bs Jw estu raosipun langkung mathuk..Excelent posting..hehehe


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: