Acara foto-foto yang mengganggu

perkawinan.jpg

Pada acara resepsi perkawinan, prosesi umumnya dimulai dengan kirab penganten, yatitu masuknya rombongan pengantin ke gedung pertemuan. Kemudian setelah pengantin dan kedua  orang tua menempati kursi pelaminan, acara dilanjutkan dengan sambutan mewakili kedua orang tua dan pembacaan doa. Sambutan biasanya singkat saja karena merupakan formalitas ucapan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran para tamu dan kepada semua fihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Pembacaan doa selamat umumnya juga singkat saja, karena untuk orang Islam rasanya kurang afdol melakukan suatu hajatan besar tanpa diawali doa.  Selesai pembacaan doa baru para tamu undangan dapat memberikan ucapan selamat.

Kalau saya perhatikan baik untuk sambutan maupun pembacaan doa, hampir tidak pernah ada yang mendengarkan. Undangan umumnya sibuk ngobrol sendiri, disamping sudah tidak sabar lagi untuk memberi ucapan selamat dan segera menikmati hidangan. Untuk itu sebetulnya untuk pemilihan siapa yang akan memberi sambutan dan membaca doa, kita tidak perlu repot-repot mencari orang yang hebat-hebat. Karena disamping mahal honornya juga mubazir, karena toh tidak ada yang mendengarkan. Malah kasihan sebetulnya, kalau yang memberi sambutan atau yang membaca doa orang yang sangat terpandang tetapi tidak ada yang memperhatikan.

Resepsi perkawianan biasanya diselenggarakan antara jam 11.00–13.00 kalau siang hari, sedang untuk malam hari antara jam 19.00-21.00. Untuk undangan jam 19.00 seharusnya tepat jam 19.00 pengantin dan kedua orang tua sudah siap untuk menerima ucapan selamat. Yang sering terjadi, untuk undangan jam 19.00 baru setengah jam kemudian para tamu bisa memberikan ucapan selamat. Baik karena datangnya rombongan pengantin yang terlambat, atau karena lamanya acara sambutan2. Atau kadang-kadang sengaja rombongan pengantin baru muncul menunggu setelah cukup banyak tamu yang berkumpul di gedung resepsi.

tari-jawa.jpgAda juga tuan rumah yang ingin menampilkan tari-tarian daerah agar acara kelihatan lebih bagus dan semarak. Masalahnya sering sesi tari-tarian ini merupakan bagian dari prosesi. Jadi, tari-tarian ditampilkan sebelum sambutan dan pembacaan doa. Akhirnya para tamu yang datang awal atau tepat waktu harus menunggu sampai satu jam sebelum dapat memberikan doa restu. Acara perkawinan dengan adat Padang selalu menyajikan tari-tarian sebagai bagian dari prosesi. Sambutannya juga panjang-panjang karena ada petatah-petitih. Kalau tahu acaranya menggunakan adat Padang, saya selalu datang satu jam lebih lambat supaya tidak terlalu lama menunggu.. Kalaupun ingin menampilkan tari-tarian  boleh-boleh saja tetap dilakukan, tetapi pada waktu selesai acara pembacaan doa, jadi tidak memperlambat prosesi.

Didalam beberapa resepsi yang pernah saya hadiri, acara sambutan dan pembacaan doa ditiadakan. (Perkawinan putri Bp Dono Indarto, mantan Komisaris BRI) Jadi, ketika rombongan pengantin sudah datang dan siap untuk menerima ucapan selamat, pembawa acara menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih sambil mempersilahkan. para tamu untuk langsung memberikan ucapan selamat. Menurut saya ini lebih tepat dan praktis, karena pembacaan doa seharusnya dilakukan pada saat acara akad nikah yang merupakan bagian dari ritual perkawinan.  

Bahkan pernah saya menghadiri acara perkawinan di hotel dimana pengantin dan kedua orang tua menunggu di pintu gerbang untuk menerima ucapan selamat. Setelah sebagian besar undangan datang dan memberikan ucapan selamat baru mereka menempatkan diri di pelaminan. Untuk tamu-tamu yang datang terlambat dapat langsung ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.

Yang sangat mengganggu adalah acara foto-foto para tamu VIP. Ketika kita sedang antri menunggu giliran untuk memberikan ucapan selamat, sering diinterupsi dengan datangnya tamu VIP yang langsung didahulukan tanpa harus antri. Ditambah lagi tamu VIP ini masih diminta kesediannya untuk diabadikan bersama kedua pengantin. Mendahulukan tamu VIP masih bolehlah, tetapi menurut saya acara foto-foto ini sebaiknya dihilangkan atau dikurangi seminimal mungkin. Karena disamping mengganggu dan menyinggung perasaan tamu undangan lainnya, juga toh hasilnya setelah dicetak tidak pernah dikirim ke kita. Pengalaman waktu saya masih menjabat dulu, sering diminta untuk foto bersama pengantin tetapi tidak pernah diberi hasilnya. Saya kira para tamu VIP ini juga risi, karena kedatangannya telah merepotkan tamu-tamu lainnya.

Pada waktu saya mengawinkan anak saya, pukul 19.00 tepat saya bersama kedua pengantin telah siap di pelaminan. Sambutan dan pembacaan doa saya lakukan sendiri. Disamping efisien waktu juga efisien biaya karena tidak usah pakai honor. Tepat pukul 19.10 para tamu sudah bisa mulai memberikan doa restu. Saya beritahu panitya bahwa tidak akan ada acara pengambilan foto tamu VIP. Sebagai gantinya saya wanti-wanti  kepada MC agar jeli mengamati setiap tamu penting yang datang. Kepada beliau-beliau ini supaya diberi sambutan selamat datang dan ucapan terima kasih secara pribadi dengan menyebutkan namanya secara lengkap.

Intinya adalah, para tamu harus kita hormati karena kita sangat mengharapkan kedatangannya. Mereka telah bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk memenuhi undangan kita. Jangan biarkan mereka berlama-lama menunggu, Semua undangan adalah terhormat. Mereka yang tidak masuk dalam daftar tamu VIP  mungkin banyak yang termasuk orang-orang VIP di tempat lain. Jangan sampai keinginan kita untuk menghormati tamu-tamu VIP menganggu kenyamaman tamu-tamu lain (yang notabene juga VIP) dalam menghadiri acara kita. 

Karena panjangnya antrian, sering MC mempersilahkan para undangan untuk mennikmati hidangan dulu sebelum memberi ucapan selamat. Ini juga kurang pas, karena kita menganggap seolah-olah para tamu datang untuk sekedar mencari makanan. Disamping itu berarti kita tidak menghargai para undangan yang datangnya tepat waktu.  Akhirnya, bisa-bisa orang yang datang terlambat langsung makan, sedang tamu-tamu yang disiplin kehabisan makanan.   

Selain hal-hal diatas, sudah barang tentu yang tidak kalah pentingnya adalah masalah makanan. Kalau harus memilih antara kualitas dan kuantitas saya lebih memilih kuantitas. Jadi jangan sampai tamu yang datang belakangan tidak kebagian makanan,  Harus ada anggota panitya yang khusus mengawasi makanan. Tidak semua perusahaan catering jujur, yang mau mengeluarkan seluruh makanan yang sudah dipesan. Kalau kira-kira anggarannya terbatas ya undangannya yang dibatasi, sehingga kualitas dan kuantitas hidangan dapat terpenuhi. Semoga tulisan singkat ini bermanfaaat, khususnya mereka yang belum mantu.

 

Explore posts in the same categories: Sketsa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: