BRI Unit yang modern: antara persepsi dan realitas

bri-unit.jpgDi Indonesia, sampai dengan tahun awal tahun 90-an belum banyak orang naik mobil matic (mobil dengan transmisi otomatis). Saya sendiri baru memakai mobil matic tahun 1997. Itupun karena disediakan BRI sebagai mobil dinas, kalau untuk membeli sendiri mungkin masih mikir-mikir. Orang beranggapan bahwa persnelling otomatis susah perawatannya, kalau mogok tidak bisa didorong, tidak bisa lari, kalau dijual lagi susah dls. Padahal kenyataannya tidak demikian. Tehnologi transmisi otomatis hampir sama usianya dengan tehnologi mobil itu sendiri. Di Amerika Serikat (AS) cukup banyak mobil matic produk tahun 60-an yang sampai sekarang masih jalan bagus. Sekarang, trend-nya justru ke mobil matic, terutama di Jakarta sudah merupakan kebutuhan karena jalanannya selalu macet. Orang merasa lebih bergengsi naik mobil matic. Bahkan untuk merk-merk seperti Nissan Sentra, Serena atau X-Trail seri terbaru tidak mengeluarkan model manual.

Kalau ditanyakan mana yang lebih aman naik pesawat dibanding dengan naik kereta api atau naik bus, orang akan langsung menjawab naik pesawat resikonya lebih tinggi . Alasannya sederhana saja. Kalau ada pesawat jatuh, hampir tidak ada yang selamat, sedang kalau ada tabrakan kereta atau bus paling hanya beberapa puluh saja yang tewas. Disamping itu kalau ada pesawat jatuh, liputan medianya besar-besaran, gaungnya kemana-mana. Agak berbeda dengan kalau ada bus masuk jurang atau kereta anjlog. Realistasnya, statistik membuktikan bahwa lebih banyak orang meninggal karena kecelakaan didarat dibanding dengan kecelakaan udara.

Kalau kita ke resepsi naik mobil Mercy, walaupun itu Baby-Benz tua tahun 90-an, pasti kita mendapat layanan VIP dari Satpam, sehingga bisa parkir di dekat lobby. Sebaliknya kalau kita naik Toyota New Camry atau Nissan Cefiro, atau bahkan Audi A-6, walaupun itu mungkin keluaran tahun 2004, tetap saja disuruh parkir di basement. Jadi Satpam taunya Mercy itu mobil paling mahal, yang naik Mercy pasti orang kaya, atau paling tidak yang punya Mercy pernah kaya.

Pandangan atau anggapan bahwa mobil matic sulit perawatannya, yang punya Mercy pasti orang kaya, atau naik pesawat lebih ber-resiko daripada naik bus disebut “persepsi”. Jadi, persepsi adalah suatu proses dimana seseorang meng-interprestasikan dan memberi arti kesan-kesan yang diperoleh dari pengamatannya terhadap sesuatu peristiwa, benda, orang atau situasi. Persepsi tidak selalu benar dan tidak harus sama dengan kenyataan. Dua orang bisa mempunyai persepsi yang berbeda atas obyek yang sama. Masyarakat mempunyai persepsi sendiri tentang pegawai negri, polisi, jaksa, artis, bank pemerintah, bank swasta, atau anggota DPR. Demikian pula, masyarakat mempunyai persepsi sendiri tentang BRI atau BRI Unit.

Persepsi dan perilaku

Mengapa kita konsern dengan persepsi, walaupun kita tahu perepsi tidak selalu sama dengan realita. Karena perilaku manusia lebih banyak didasarkan atas persepsi atas suatu realita bukan atas dasar realita itu sendiri. Mengapa demikian ? Hal ini lebih banyak berhubungan dengan fungsi otak. Kita mengenal fungsi otak sadar dan fungsi otak bawah sadar. Otak sadar berfungsi me-respon masa kini, segala sesuatu yang sedang kita hadapi saat ini. Kita haus ingin minum, kita lapar cari makanan, bermain golf, mengerjakan soal ujian, semuanya ini fungsi dari otak sadar. Logika, akal dan analisa sangat berperan dalam proses otak sadar.

Otak bawah sadar sangat dipengaruhi masa lalu, seperti : kesan-kesan, pengalaman, cerita, kata orang, mitos, legenda, trauma dan persepsi. Tindakan manusia dibawah pengaruh otak bawah sadar adalah melakukan pilihan atas dasar pengalaman, kesan, dan cerita masa lalu serta persepsi yang berkembang waktu itu. Logika dan akal pikiran tidak berperan lagi dalam proses bawah sadar. Pertanyaannya : mana yang lebih dominan antara otak sadar dan otak bawah sadar didalam mempengaruhi perilaku manusia ? Sedikit mengejutkan, berdasarkan penelitian tingkah laku manusia 12 % dipengaruhi oleh fungsi otak sadar dan 88 % dipengaruhi oleh fungsi otak bawah sadar. Jadi mudah dimengerti kalau perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi.

Di AS pemuda-pemuda kulit hitam (Afro-American) menganggap menjadi pemain basket, baseball atau football lebih mudah daripada harus meneruskan kuliah ke college untuk menjadi Medical Doctors. Harus diakui di ketiga cabang olah raga tersebut memang didominasi oleh atlit-atlit hitam. Jadi persepsi yang berkembang adalah menjadi pemain basket lebih mudah daripada meneruskan kuliah. Bahwa banyak atlit kulit hitam yang sukses dan kaya raya mungkin benar, tetapi bahwa menjadi pemain basket dan bisa masuk ke National Basket Associationd(NBA) lebih mudah daripada sekolah di college belum tentu benar. Banyaknya Insinyur Pertanian yang kerja di bank mungkin juga karena persepsi bahwa kalau kerja di bank lebih cepat jadi “orang” ketimbang kerja di Departemen Pertanian.

Kalau sekarang anda harus mengirim undangan, misalnya undangan perkawinan, saya berani bertaruh anda akan menggunakan jasa pengiriman (courier service) bukan menggunakan jasa PT Posindo. Karena apa ? Karena (persepsi) anda tidak yakin dengan menggunakan PT Posindo undangan bisa sampai ke alamat yang dituju tepat waktu. Mungkin sekarang kualitas layanan PT Posindo sudah jauh lebih baik, tetapi siapa yang berani ambil resiko.

Modernisasi BRI Unit

Program on line (Brinets) pada saat ini telah selesai diimplementasikan diseluruh kantor cabang BRI. Secara bertahap BRI Unit juga akan di-on line-kan. Sampai dengan akhir 2004 BRI Unit yang sudah on line mencapai 450 unit. Dengan perkembangan tehnologi informasi ini maka nasabah BRI Unit yang sudah on line dapat melakukan transaksi-transaksi seperti : pengambilan dan penyetoran simpanan BritAma, Simpedes, Simaskot antar cabang/unit, transfer antar cabang/unit, informasi saldo dan pengambilan tunai melalui fasilitas ATM secara lebih cepat dan mudah. Bukan hanya itu, bahkan nasabah juga bisa memperoleh kemudahan untuk membayar tagihan telpon,. listrik atau kartu kredit melalui BRI Unit yang sudah on line.

Dengan kemampuan pelayanan seperti diatas, dari segi tehnologi sebetulnya BRI Unit sudah sama dengan Kantor Cabang atau bank-bank umumnya lainnya. Orang BRI pasti tahu bahwa sebagian BRI Unit sudah on line. Sebagian nasabah BRI Unit pasti juga menyadari bahwa banknya sekarang kemampuan pelayanannya sudah jauh meningkat. Pertanyaannya : Bagaimana dengan persepsi masyarakat tentang BRI Unit kita? Apakah masyarakat sudah melihat bahwa BRI Unit sedang dalam dalam proses untuk menjadi bank yang modern. Atau, mereka masih menganggap BRI Unit masih seperti dulu : tradisional, kuno, sederhana, manual, belum on line, hanya cocok untuk rakyat pedesaan atau pedagang di pasar dan sebagainya. Realitanya, sebagian BRI Unit telah mampu melaksanakan transaksi perbankan secara elektronik. Namun sepanjang persepsi masyarakat masih menganggap bahwa BRI Unit masih seperti yang dulu, maka peningkatan kemampunan sistem penyaluran (delivery system) tidak akan efektif dalam meningkatkan daya saing untuk menjaring nasabah-nasabah baru.

BritAma adalah salah satu produk tabungan BRI yang sudah diakui sangat berhasil dan dapat disejajarkan dengan produk-produk tabungan bank lain seperti Tahapan-BCA, Taplus-BNI, atau tabungan Mandiri. Sebelum lahirnya BritAma, BRI sudah mempunyai Tabanasbri. Tabanasbri sudah lama dikenal masyarakat sebagai produk tabungan tradisonal BRI, belum on line, belum sistem bunga harian , tidak bisa menggunakan ATM, hanya dapat mengambil atau menyimpan di cabang asal dsbnya. Seandainya tetap menggunakan nama Tabanasbri, walaupun fiturnya sudah jauh berbeda, saya tidak yakin akan bisa memperoleh tingkat keberhasilan sebagimana yang dicapai BritAma sekarang ini. Jadi perubahan nama dari Tabanasbri menjadi Britama merupakan salah satu cara untuk merubah persepsi masyarakat bahwa BritAma bukan lagi seperti Tabanasbri yang dulu.

Bagi pengambil kebijakan di BRI, pertanyaan yang perlu diajukan adalah : Apakah seluruh, atau sebagian besar, BRI Unit akan di-on line-kan ? Kalau jawabannya ya, maka pertanyaan lanjutannya : Bagaimana kita ingin BRI Unit kita dipersepsikan oleh masyarakat setelah kini mampu memberikan pelayanan secara on line dengan segala macam fiturnya? Apakah kita ingin tetap di-persepsi-kan sebagai bank yang tradisional, simple, mudah dan ramah terhadap orang kecil atau kita ingin BRI Unit kita dipersepsikan sebagai yang modern yang sejajar dengan Capem BCA atau Danamon yang beroperasi tidak jauh dari kantor-kantor kita.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyarankan agar BRI Unit ditampilkan secara modern, atau menyarankan supaya BRI Unit tetap seperti sekarang ini. Diperlukan penelitan pasar yang lebih tajam untuk mengetahui persepsi masyarakat dan harapan-harapan mereka terhadap BRI Unit saat ini. Sementara ini dikalangan orang BRI terdapat anggapan agar penampilan BRI tetap dipertahankan sederhana, jangan terlalu mewah, sedikit kotor tidak apa-apa agar orang kecil yang pakai sarung dan sandal jepit tidak takut masuk kantor BRI Unit. Apakah memang demikian persepsi masyarakat, atau ini hanya persepsinya orang BRI sendiri ?

Explore posts in the same categories: Manajemen

2 Komentar pada “BRI Unit yang modern: antara persepsi dan realitas”

  1. harmenk Says:

    Memang benar apa yang Pak Roes kemukakan tentang persepsi khususnya BRI Unit, persepsi BRI khususnya BRI unit akan lebih baik apabila lokasinya oke, contoh BRI Kcp cinere sebelumnya sudah bagus diruko depan Cinere mall, tapi sekarang dipindah diseberangnya yang tempat parkirnya sangat susah dan terbatas. Kemudian, masalah penampilan baik gedungnya, interior didalamnya yang sangat tidak modern, tidak seperti bank2 lainnya. Kemudian lagi bentuk toonbank dan mesin ATM yang tidak ada tempat menaruh tas ini penting terutama bagi para wanita, belum lagi kalau kita bicara mengenai sangat seringnya trouble di mesin ATM. Yah ini sekelumit urun rembug.

  2. britongas Says:

    dulu orang baru bisa bangga kalo sudah punya tabungan di BCA, sekarang beralih ke MANDIRI, padahal teknologi dan kemudahan menjadi nasabah BRI mengalahkan bank manapun
    http://britongas.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: