Istri ikut membongkar kasus

Pada bulan Agustus 79 saya menerima SK penugasan pertama sebagai Kakanca  di Cibadak, sebuah kota kawedanaan  yang terletak antara Bogor dengan  Sukabumi. Semula Cibadak hanya ranting yang menginduk ke kanca Sukabumi. Pada akhir tahun 60-an ditingkatkan menjadi cabang penuh. Pada waktu saya menjabat disana, dinas-dinas tehnis dan pemerintah daerah(pemda) masih menganggap Cibadak bawahannya Sukabumi. Bagi saya tidak ada masalah, bahkan ada untungnya dari situasi ini. Pada waktu itu masih ramai-ramainya masalah Bimas dan kredit-kredit program lainnya. Untuk rapat-rapat koordinasi kanca Cibadak jarang diundang, karena pemda menganggap sudah terwakili oleh kanca Sukabumi. Kanca juga sedikit terbebas dari permintaaan sumbangan-sumbangan, disamping itu waktu saya juga tidak terlalu banyak tersita untuk mengurusi kredit program.

Sebagai kota kawedanaan, Cibadak relatif kecil dan sepi sekali. Untuk rekreasi dan mencari hiburan kita harus ke Sukabumi atau sekalian ke Bogor. Cabang Cibadak, yang semula ranting, dibentuk karena adanya kebutuhan bisnis diwilayah itu, bukan karena keharusan untuk membuka cabang. Biasanya cabang-cabang seperti ini bisa bertahan lama dan terus berkembang. Bank BNI sempat membuka cabang pembantu, namun hanya bertahan 5 tahun. Mereka hanya bisa menjaring nasabah yang di kota, yang jumlahnya relatif sedikit, sedang nasabah di pedesaan semua nge-bank-nya ke BRI.

Sesuai dengan perkembangan usaha dan kegiatan kanca, saya mendapat ijin dari kantor daerah untuk menambah formasi mantri(sekarang AO) menjadi 6 orang dari semula 4 orang.  Saya mulai mencari-cari siapa kira-kira pegawai yang cocok untuk saya jadikan mantri. Salah satu pegawai yang menarik perhatian saya adalah Sdr. Tata (bukan nama sebenarnya) , pegawai bagian pengawasan tunggakan. Sdr. Tata ini kerjanya rapih, produktif, disiplin waktu. Penampilannya selalu necis, bajunya cukup bagus untuk ukuran waktu itu. Pokoknya dari penampilan luarnya saya sudah terlanjur jatuh hati untuk memilih Tata sebagai calon mantri.

Barangkali perlu saya jelaskan bahwa pada waktu itu di Cibadak sistem administrasi dan pembukuannya masih menggunakan   sistem tulis tangan atau istilah tehnisnya non-mechanized system (NMS). Ketika cabang yang besar-besar mulai mengganti mesin NCR-nya dengan mesin Burroughs, Cibadak justru kembali ke administrasi tulis tangan.  Khusus untuk administrasi pinjaman, kartu-kartu pinjaman yang lancar disimpan di petugas loket di depan, sedang untuk nasabah-nasabah yang sudah menunggak kartunya dikelola oleh petugas pengawasan tunggakan (Sdr Tata). Nasabah-nasabah penunggak apabila akan menyelesaikan kewajibannya langsung berhubungan dengan Sdr Tata.

Suatu hari Sdr Tata saya panggil ke kamar saya. “Ta, bagaimana kalau kamu saya jadikan mantri BRI?” demikian saya memulai pembicaraan.

“ Terimakasih pak, tetapi kalau boleh saya mohon waktu untuk mempertimbangkannya.” jawabnya. Saya mulai agak heran, ditawari jadi mantri kok malah minta waktu.  Keesokan harinya Tata minta waktu untuk menghadap.

“Pertama-tama saya mengucapakan terima kasih atas kepercayaan bapak, tetapi mohon maaf kalau boleh saya tidak usah jadi mantri saja.”  kata Tata.

“Mengapa?”, jawab saya semakin penasaran.

“Maaf pak, ini menyangkut masalah kesehatan saya. Terus terang saya tidak kuat naik motor” jawab Tata menlanjutkan. Di Jawa Barat ini, menjadi mantri BRI adalah jabatan paling diidam-idamkan oleh semua orang. Orang rebutan pengin jadi manatri, bahkan kalau perlu, mereka bersedia membayar untuk bisa jadi mantri.  Katanya menjadi mantri jam kerjanya longgar, kalau memeriksa ke lapangan sering mendapat oleh-oleh dan hatur lumayan dari nasabah Yang satu ini, ditawari malah menolak.

Saya mulai curiga, mungkin Tata sudah merasa enak sebagai petugas pengawasan tunggakan. Jangan-jangan disana dia memperoleh penghasilan tambahan, sehingga tidak tertarik lagi untuk menjadi mantri. Terbesit fikiran nakal untuk menyelidiki keadaan rumah tangganya. Suatu hari pulang dari kantor saya bicara dengan istri saya : “Mah, sekali-sekali mbok coba ditengok rumahnya Bu Tata”.

“Memangnya ada apa pah ?” istri saya bertanya.

“Tidak ada apa-apa,”  kata saya, “hanya sekedar kunjungan silaturahmi saja sama bawahan.” Selesai kunjungan, istri saya membuat laporan : “Rumahnya besar dan bagus, perabot rumah tangganya bagus-bagus, pokoknya kehidupannya kelihatannya enak.”

Keesokan harinya,  sebelum pulang kantor saya panggil Sdr Tata untuk menyerahkan seluruh kartu-kartu yang berada dalam pengelolaannya untuk ditaruh di meja saya. Kemudian saya panggil OO (pak Achyar) dan CO(pak Aruman Hidayat) keruangan saya. “Pak Achyar, pak Aruman,” kata saya,” ini kartu akan saya bagi tiga, mari kita periksa sama-sama. Saya hanya ingin tahu apakah Sdr. Tata sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.”

Dari hasil pemeriksaan tersebut terungkap pelanggaran-pelanggaran yang merugikan bank. Modusnya : tidak memungut denda, bunga yang seharusnya dipungut 6 bulan hanya dihitung 2 bulan, menyatakan lunas padahal seharusnya belum. Pokoknya memberi keringanan dan kemudahan kepada nasabah dengan cara yang merugikan bank. Akhirnya, bukan saja jabatan mantri yang hilang pangkatpun harus turun dan pindah ke bagian lain.

Mengapa saya menyuruh istri saya berkunjung ke rumah Sdr Tata ? Untuk lebih meyakinkan bahwa gaya hidupnya melebihi kemampuannya, yang nampaknya tidak mungkin dibiayai dari gajinya sebagai seorang pelaksana. Seandainya waktu saya tawari untuk menjadi mantri dia bersedia, mungkin dia akan terus jadi mantri dan kasus ini akan lama terbongkar. Pelajaran bagi pimpinan : Kalau seorang pegawai ditawari pekerjaan yang enak menolak, mungkin ada sesuatu.

Explore posts in the same categories: Pengalaman di BRI

One Comment pada “Istri ikut membongkar kasus”

  1. misslucu Says:

    menanggapi blog masalah korupsi sdr.tata(nama samaran) di BRI, saya teringat dengan kasus serupa yang dialami ayah saya tapi dilain bank. Ayah saya adalah orang yg selalu disiplin, rajin, berpenampilan rapi, necis, dan bersahaja karena selalu berhadapan dengan para nasabah peminjam. Padahal pakaian ayah yang rapi adalah murah sekali yg merupakan pemberian kepala bank yang lama.tapi beliau selalu meminta ibunda untuk segera mencuci tiap kali pulang kerja sehingga selalu terlihat baru.Ayah saya ditempatkan dibagian pengawasan tunggakan.Suatu posisi yang sangat rawan korup sekaligus posisi penuh kecurigaan rekan maupun atasan kerjanya. Suatu hari ibunda saya mendapat uang hasil penjualan tanah dari kakek saya. rumah kami hanyalah terbuat dari anyaman bilik bambu yang hampir runtuh yang dulu adalah rumah yang dikontrak orangtua saya.Sehingga mau tak mau ayah merenovasi rumahnya menjadi rumah yang cukup layak dari hasil penjualan tanah kakek..Sisanya dibelikan perabotan elektronik untuk investasi karena suatu saat pasti akan dijual kembali berhubung peralatan elektronik jaman dulu masih seperti emas yang bisa dijual kembali. Suatu ketika ayah saya mendapati kecurangan2 yang dilakukan oleh rekan kerjanya di bank. Antisipasi balik,oknum rekan2 inilah yang bersekongkol membuat skema seolah2 ayah saya yang melakukan tindakan kecurangan dana. dan akhirnya entah apa yang dilaporkan oleh persekongkolan ini kepada kepala cabang sehingga kepala cabang mulai TERMAKAN omongan2/bisikan2/manipulasi data kerja ayah saya oleh sang komplotan.Entah karena orang2 persekongkolan ini IRI HATI atas kerajinan dan kejujuran ayah dalam bekerja, bisa karena kecemburuan karena secara materiil memiliki lebih dari rekan2 kerja seniornya atau karena hal2 “lain”. Tumben, sang istri kepala cabang dengan penuh curiga pura2 berkunjung kerumah melihat2. Dan tak lama berselang, ayahanda saya diturunkan jabatannya karena FITNAH oknum2 mafia bank dan pikiran sempit “objektif” sang kepala cabang yang bisa dikelabui dengan mudahnya oleh sang komplotan pemfitnah ayahanda saya. Ayah hanya bisa ikhlas menerima ulah mafia bank. Ayah saya sampai saat ini telah banyak mendapat penghargaan dari bank pusat atas kerajinan, kejujuran dan tekad keras serta kontribusi positif untuk bank sehingga tuduhan omong kosong itu terbukti hanya isapan jempol belaka.SEKARANG Ayah telah berhasil menjadikan putera-puterinya melebihi atas apa yang menjadi pekerjaan ayahanda sekaligus menjadi tokoh masyarakat yang disegani. Berbanding terbalik dengan oknum2 mafia bank pemfitnah ayah saya, mereka jatuh dalam lembah yang semakin hitam pekat. Ayahanda menjadi korban fitnah tuduhan korupsi saat ibunda mengandung saya.Saya dilahirkan dalam keadaan orangtua yang dipenuhi ujian hidup. Saya mengetahui ayah saya pernah menjadi korban fitnah bukan dengar dari ayahanda tapi dengar dari masyarakat termasuk orang2 top management kantor pusat dimana masih terdapat orang2 jujur 100% yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. ALLAH SWT adalah SANG MAHA PENGADIL. Saya tidak dendam atas fitnah terhadap ayah saya, dengan keikhlasan hati dan syukur nikmat, ALLAH SWT telah menguji ayah saya sebagai jalan menjadi orang yang paling tegar yang saya tahu dan ayah yang paling berhasil menjalankan fungsinya dalam membimbing ibunda dan putera-puterinya mencari dunia dan akhirat. Subhanallah…

    ANDA BILANG : Pelajaran bagi pimpinan : Kalau seorang pegawai ditawari pekerjaan yang enak menolak, mungkin ada sesuatu.

    SAYA BILANG : Pelajaran bagi pimpinan : Jadilah pimpinan yang menilai berimbang antara subjek dan objek laporan, jangan mendahulukan emosi tapi penilaian kinerja seluruh karyawan termasuk point of interest amongs inside-outside employment competition. Penilaian karyawan dalam bekerja bukan hanya feeling dan intuisi serta intensitas kedekatan tapi historical and typical. Karyawan bawahan yang terlihat memiliki seperti yang anda bilang : “istri saya membuat laporan : “Rumahnya besar dan bagus, perabot rumah tangganya bagus-bagus, pokoknya kehidupannya kelihatannya enak.” –> inilah contoh penilaian intuisi tanpa menanyakan asal-usul kekayaan bawahan. Karena hanya dengan omongan seperti yang istri anda katakan. Omongan ini dapat membuat orang2 tak bersalah yang kebetulan terlihat mapan menjadi korban seperti ayahanda saya.

    Terima kasih and shake hands!!


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: