Awal karir di BRI

picture-004.jpgBegitu lulus dari fakultas ekonomi Undip tahun 1972, saya ikut-ikutan teman-teman yang lain ke Jakarta untuk cari pekerjaan. Pada waktu itu orientasinya selalu Jakarta, katanya disana mudah cari pekerjaan. Teman tentir(belajar) saya, Purwanto dan Witono sudah duluan ke Jakarta dan bekerja di SGV-Utomo, Kantor Akuntan Publik(KAP) yang terkenal, patungan Indonesia-Filipina. Sebagai orang Jawa saya juga terpengaruh filsafat “mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan asal kumpul), maka saya melamar ke SGV-Utomo dengan harapan agar kumpul lagi dengan Pur dan Witono. Saya termasuk beruntung karena hanya sempat menganggur 3 minggu, sebelum diterima juga di KAP yang sama sebagai junior auditor. Saya hanya bertahan 8 tahun di kantor tersebut. Sebagai tenaga non-akuntan saya melihat tidak ada prospek untuk maju dan kalah bersaing dengan rekan-rekan yang lain yang dari akuntan.

Ketika membaca iklan sebuah bank pemerintah mencari tenaga untuk dididik menjadi calon pimpinan, maka tanpa menunggu-nunggu lagi kami beramai-ramai langsung mendaftar. Yang saya maksud beramai-ramai adalah dengan teman-teman sekantor seperti : Bambang Priyanto(terakhir Kaur Diklat), Suharto (sekarang pensiun di Jogya), Katiyo, Purwanto, Witono. Seluruh proses dari melamar sampai diterima memakan waktu 4 bulan. Saya tidak perlu mencuri-curi waktu untuk mengikuti test-test di BRI. Pak Mulyadi, manajer saya, sangat penuh pengertian memberi saya kelonggaran untuk meninggalkan kantor untuk mengikuti seleksi di BRI. Terima kasih pak Mul. Alhamdulillah, pada pertengahan Nopember 72, kami menerima pemberitahuan bahwa kami diterima sebagai calon staf di BRI.

Pada waktu itu seluruh proses seleksi dan penerimaan tenaga sarjana sepenuhnya diserahkan ke Bagian Pendidikan, yang merupakan bagian dari Biro Personalia KP BRI. Pada waktu yang sama sebetulnya saya juga dalam proses seleksi di Bank EXIM. Saya masih ingat waktu wawancara terakhir, pak Oemarjudi, Kabag Pendidikannya, bertanya: “Sdr Roes Haryanto mengapa memilih di BRI bukan di EXIM?”.

Saya jawab: “Pak, pokoknya saya kepengin sekali kerja di daerah, nampaknya saya kurang cocok dengan iklim kerja di Jakarta Kalau program BRI ini untuk kantor pusat saya lebih baik pilih di EXIM saja.” Waktu itu persepsi saya EXIM lebih hebat dari BRI. Belakangan saya sadar bahwa jawaban saya tersebut sebetulnya kurang diplomatis untuk seorang yang sedang mencari pekerjaan.
Saya diterima di BRI sebagai siswa Kursus Calon Wakil Kepala Kantor Cabang Angkatan I (SUSWAKAKANCA I). Satu angkatan 54 orang termasuk peserta dari dalam. Sekarang tinggal 43 orang, karena 11 teman-teman saya sudah mendahului dipanggil menghadap Allah Swt. Dari satu angkatan, 4 orang : Daddi Effendi, Djoko Suryoko Ruslan(alm), Rustam Dachlan dan saya sendiri, bisa mencapai posisi direktur.

Explore posts in the same categories: Pengalaman di BRI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: