Setelah 61 tahun merdeka : Mengenang jaman normal

plymouth-tua.jpgDulu ketika masih kecil ayah saya sering cerita betapa enaknya hidup di jaman normal. Apa-apa murah, gaji lebih dari cukup, bahkan dari gaji saja bisa pelesir, menabung atau membeli rumah. Yang dimaksud ayah saya adalah jaman masih dijajah Belanda dulu, sebelum kita merdeka. Orang pribumi yang bisa menikmati jaman normal umumnya para priyayi atau amtenaaren. Mereka ini adalah orang pribumi yang mendapat pendidikan sekolah Belanda seperti HIS, HBS, MULO atau AMS dan bekerja di infrastruktur pemerintah Hidia Belanda seperti onderwijser (Guru SD), opziener (penilik sekolah), beheerder (kepala kantor), commies (pegawai diatasnya klerk) dan jabatan-jabatan di pamong praja. Hanya sebagian kecil orang pribumi yang beruntung memperoleh pekerjaan-pekerjaan diatas, selebihnya atau sebagian besar yang bekerja sebagai “koeli” atau petani tetap saja melarat dan bodoh.

Menjadi ambtenaar memang menjadi impian orang pribumi, karena disamping gajinya besar juga bisa bergaul dan “Hollands spreken” dengan sinyo-sinyo dan noni-noni. Harap diingat bahwa dengan non-priyayi orang Belanda tidak mau menggunakan bahasa Belanda, tetapi bahasa Melayu kasar. Status sosial kaum priyayi masih dibawah keluarga kraton tetapi sudah diatas pedagang dan petani atau buruh. Jadi urutan strata sosial orang Indonesia waktu itu kalau dimulai dari yang paling tinggi : keluarga kraton, priyayi, pedagang (umumnya Cina dan Timur Asing) dan petani atau buruh. Fenomena ini juga menjelaskan mengapa orang-orang tua kita dulu selalu menndambakan anaknya kalau besar nanti bisa menjadi pegawai negri.

Ayah saya dulu bekerja di “marine” atau pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Tugasnya memeriksa dan memastikan bahwa sistem radio dan komunikasi dari setiap kapal yang masuk ke pelabuhan berfungsi dengan baik. Mungkin kalau sekarang kepala tehnisi. Gajinya disamakan dengan gaji orang Belanda yang menduduki posisi yang sama. Mungkin waktu itu agak langka mencari orang pribumi yang mempunyai keahlian elektronik.

Saya sendiri belum sempat menikmati, karena waktu itu memang belum lahir, namun menurut ayah saya gajinya besar sekali sehingga mampu membuka toko radio, jam, sepeda dan alat-alat rumah tangga yang lengkap di Tembok Dukuh. Sayang ketika pecah perang, NICA masuk Surabaya, semuanya harus ditinggal mengungsi dan tidak pernah diurus lagi.

Sekarang setelah 61 tahun merdeka, saya mencoba mengingat-ingat kembali kapan saya pernah mengalami hidup di jaman normal. Dulu di tahun 50-an, ketika masih di sekolah rakyat(SR Kleco) saya ke sekolah jalan kaki tidak pakai sepatu. Bukan tidak punya, tetapi teman-teman lebih banyak yang “nyeker”. Jadi yang memakai sepatu malah kelihatan aneh. Sampai sekarang gedung sekolahnya masih ada, masih kokoh dan tidak takut kalau sewaktu-waktu ambruk. Walupun negara kita baru saja merdeka, tetapi sisi baiknya, anak-anak sekolah mendapat pembagian (istilahnya paringan) buku tulis, pensil, penggaris dan tinta, tanpa bayar. Sampai klas 3 SMP saya masih sempat menikmati pembagian alat-alat tulis ini. Untuk buku pelajaran saya memakai bekas kakak-kakak saya, karena bukunya tidak tiap tahun ganti seperti sekarang ini.

Disamping pembagian alat-alat tulis, seminggu sekali anak-anak juga mendapat pembagian susu yang dapat langsung diminum. Yang perlu disiapkan hanya membawa botol dari rumah. Karena tidak ada batasan ukuran botol yang boleh dibawa, saya selalu membawa botol besar ukuran 1 liter, sampai di rumah bisa diminum seluruh keluarga. Belakangan saya ketahui bahwa susu tersebut berasal dari bantuan PBB, karena Indonesia masuk kedalam golongan negara miskin. Miskin tetapi anehnya pemerintah bisa membebaskan uang sekolah, masih mendapat pembagian macam-macam lagi. Sampai SMA saya tidak pernah membayar uang sekolah atau kalau sekarang SPP.

Guru adalah sosok yang hebat dan tokoh idola yang sangat kita kagumi. Pagi-pagi setiap guru datang kita selalu berebutan mengambil sepedanya. Yang tidak kebagian sepeda berebut membawakan tasnya. Sisanya berbaris seperti pager ayu sampil mengucapkan “Selamat pagi pak Harno” atau “Selamat pagi bu Yati”. Sepeda guru rata-rata sepeda mahal, seperti : Humber, Gazelle, Fongers, yang memakai versnelling dan kalau jalan bunyinya cik ….cik…cik…..merdu sekali.

Guru saya klas 6 dulu namanya pak Harno. Kalau mengajar selalu memakai hem lengan panjang yang disetrika halus merk Columbus atau Sanforized, merk-merk yang lagi nge-tren waktu itu. Gaji guru SR tahun 50-an sekitar Rp600,-, untuk indekost dan segala kebutuhan sehari-hari sebulan tidak menghabiskan Rp200,-. Bisa dibayangkan kalau punya anak perempuan dilamar mas guru pasti langsung diberikan. Profesi guru benar-benar profesi yang terpandang. Sampai SMA saya masih mempunyai cita-cita, nanti kalau besar mau jadi guru.

Saya mulai naik sepeda setelah masuk SMP karena sekarang sekolahnya agak jauh. Juga sekarang harus pakai sepatu karena sekolahnya di kota, Dulu sepeda harus bayar pajak, namanya penning, bentuknya seperti sticker bayarnya kalau tidak salah Rp2,50 untuk setahun. Kita tidak pernah berani naik sepeda yang belum ada penning-nya. Begitu pula kita tidak pernah berani naik sepeda malam-malam tanpa berco (lampu). Bukan karena takut ada razia, tetapi memang masyarakat waktu itu dikondisikan untuk selalu taat peraturan dan hukum.

Nonton bioskop adalah hiburan paling top pada waktu itu, karena televisi belum ada, apalagi segala macam permainan elektronik seperti anank-anak sekarang ini. . Gedung bioskopnya rata-rata besar-besar, bisa muat sampai 1000 orang. Namun demikian kalau pas filmnya bagus, sering tidak kebagian karcis. Untuk nonton yang jam 5 kita sering harus sudah antri jam 3 siang. Film-film yang jadi favorit adalah film barat, khusunya film western. Yang seangkatan dengan saya tentu masih ingat judul-judul seperti : Last train from Gun Hill, Gun fight at OK Corral, Shane, High noon, Colorado.

Kalau di rumah satu-satunya hiburan ya mendengarkan radio, siaran wayang orang atau ketoprak.. Pada waktu itu ada serial ketoprak Mataram yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu lakon Joko Sudiro dengan pemain utamanya Tjokrodjijo. Menginjak SMA mulai beralih ke siaran Radio Australia. Tidak semua radio bisa menangkap sinyal radio Australia, jadi merupakan kebanggaan tersendiri kalau di sekolah kita bisa bercerita perkembangan tangga lagu-lagu radio Australia.

Oh ya, barangkali perlu saya ceritakan apa kegiatan ayah saya sesudah kemerdekaan. Pada waktu revolusi ayah masuk tentara, tidak ikut angkat senjata tetapi dibagian peralatan, yatitu menyiapkan senjata dan amunisi untuk para pejuang. Sesudah penyerahan kedaulatan diangkat menjadi komandan Dinas Tehnik Tentara (DTT) yang kantornya di Kusumoyudan, Solo, dengan pangkat Letnan Satu. (Pada waktu itu Pak Harto komandan Koremnya, dengan pangkat Letkol)

Harus saya akui bahwa kehidupan keluarga saya masih serba enak. Ayah mendapat mobil dinas sedan merk Plymouth tahun 1948, jadi masih relatif baru. Mobilnya dipasangi radio, masih jarang mobil ada radionya waktu itu. Yang mebuat saya terheran-heran, tidak ada kabelnya kok radionya bisa bunyi. Tiap minggu selalu dibawa piknik, paling tidak ke Tawangmangu. Nonton wayang orang Sriwedari atau makan di restoran sudah menjadi kegiatan rutin mingguan.

Sesudah pertengahan tahun 60-an kehidupan mulai sulit. Inflasi mencapai 600 %, beras susah, minyak tanah antri. Sekolah mulai membayar, segalau urusan harus pakai uang, disiplin menurun, orang mulai tidak takut melanggar hukum. Dan ini terus berlanjut sampai sekarang, tidak pernah ada perbaikan. Sekarang, setelah 61 tahun merdeka, hampir seluruh aspek kehidupan : ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum, lingkungan, keamanan, semakin jauh dari normal. Jadi kalau dibandingkan dengan keadaan sekarang, barangkali antara tahun 1950 sampai 1960 kita sebenarnya pernah mengalami jaman normal. Saya merasa bersyukur termasuk yang pernah menikmatinya.

Explore posts in the same categories: Sketsa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: