Mencari teman-teman lama

Oleh : Papah Doni

Salah satu kegiatan yang sudah lama ingin saya lakukan, bahkan menjadi semacam obsesi, setelah saya benar-benar pensiun ialah mencoba mencari teman-teman lama. Teman lama bisa berarti teman main di kampung, teman sekolah, teman kuliah, bekas guru, rekan di tempat kerja sampai tempat kost waktu kuliah dulu. Terus terang saya agak menyesal  karena seharusnya hal ini saya lakukan dulu-dulu, namun baru menyadarinya sekarang. Ketika saya berhasil menemukannya sebagian sudah meninggal dunia atau dalam keadaan yang memprihatinkan.

The gang of four

Di kampung dulu saya punya gang of four (empat sekawan) bersama-sama dengan Slamet(Meok), Giarto(Pruthul) dan mas Wiek (Wirawan). Wirawan rumahnya bersebelahan, saya selalu memanggilnya mas karena saya kalau memanggil ibunya Budhe Bei, walaupun sebenarnya tidak ada hubungan saudara sama sekali. Kegiatan gang mulai dari kasti, bal-balan, perang-perangan sampai mandi di sungai, melempari mangga tetangga dan mencuri tebu. Sampai SMP kita masih sering main bersama walaupun tidak ada satupun yang satu sekolahan. Waktu di SMA sudah mulai kurang, selepas SMA hampir tidak pernah ketemu lagi. Selesai SMP Slamet masuk tentara, tidak pernah mendengar khabarnya lagi. Giarto kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil dan sekarang bekerja dan tinggal di Bandung. Mas Wiek melanjutkan kuliah di Gajah Mada.

Tahun 2000-an ketika saya pulang ke Solo, saya diberitahu kakak saya kalau dia sempat ketemu dengan mas Wiek dan diberi alamatnya. Saya berhasil mencari rumahnya di Kalitan, Solo. Rupanya setelah pensiun dia memilih kembali ke Solo, karena istrinya mendapat warisan sebuah rumah kuno yang sangat antik di Kalitan. Ini pertemuan kembali setelah berpisah lebih dari 40 tahun. Dia tidak banyak berubah, awet muda, rambut masih hitam. Mungkin kalau ketemu di jalan, saya kira saya tidak akan pangling. Sampai sekarang kalau pulang ke Solo selalu saya sempatkan mampir.

Teman SD jadi tukang becak

Masih di Solo, sekitar tahun 90-an, saya mempunyai pengalaman yang sedikit mengharukan.Waktu itu saya harus naik becak dari Kleco ke Purwosari, rumah Ibu. Saya tidak sempat tawar menawar ongkosnya langsung naik saja, karena semahal-mahalnya ongkos becak di Solo pasti masih lebih murah untuk ukuran Jakarta. Belum lama saya duduk, tukang becaknya bertanya : “Saiki neng endi Roes ?” Dengan agak terkejut saya menengok kebelakang. Rupanya dia Tembong, teman baik saya waktu di SD dulu, yang tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya. Alhasil, saya kasih dia Rp20.000 untuk ongkos becak yang biasanya cuma Rp2.000. Tidak apa-apa, for old time’s sake. Saya tidak tahu apakah dia sekarang masih kuat narik becak.

Guru-guru sudah meninggal

Usaha untuk mencari bekas guru-guru SD dan SMP betul-betul saya rasakan sangat terlambat. Awal tahun 80-an ketika saya main ke SMP I Manahan, Solo, saya dapati guru-gurunya sudah baru semua, guru-guru lama sudah pensiun. Maklum sudah lebih dari 20 tahun saya meninggalkan SMP. Bahkan saya diberitahu kalau pak Isman (Kepala Sekolah), pak Djoko (guru sejarah), Bu Marni (guru bahasa Inggris), pak Tabri (guru ilmu hayat) sudah meninggal semua. Pak Hardiyatmo, gulu aljabar, yang masih masih relatif muda juga sudah pindah menjadi kepala sekolah di SMP lain.

Ketika saya iseng-iseng main ke SD Kalitan, sebetulnya saya tidak berharap akan bertemu dengan pak Harno, guru klas VI saya dulu.  Setelah sekian puluh tahun berlalu, mungkin beliau tidak lagi mengajar di sana. Ternyata setelah sempat dipindah mengajar ke Sragen, pak Harno kembali lagi ke SD Kalitan sebagai kepala sekolah. Mula-mula pembicaraan berlangsung dalam bahasa Jawa halus sebagaimana orang Jawa yang baru berkenalan. Setelah saya jelaskan bahwa saya dulu bekas muridnya, tanpa canggung-canggung pak Harno mengganti bahasanya dengan Jawa ngoko.  “Wah nek ngono tak jabel nggonku basa ya Roes.” katanya. “Lha monggo, kula nggih malah remen.” jawab saya. Betul-betul suatu pertemuan yang sangat luar biasa, karena dialog seperti suasana kelas 30 tahun yang lalu serasa hidup kembali. Dua tahun kemudian saya sempat mampir lagi ke SD Kalitan, pak Harno sudah tidak ada lagi di sana karena telah berpulang ke rachmatullah.

Mencari ibu kost

Saya mulai kuliah di UNDIP Semarang tahun 63, indekost di rumah keluarga Brotomartono di Jl Lampersari 12, Semarang Timur. Induk semang saya sangat baik sekali, penuh perhatian dan tidak terlalu komersiil. Mungkin karena pada waktu itu saya satu-satunya anak kost. Saya bisa merasakan mereka lebih banyak berkorban dengan merawat saya daripada memperoleh untung dari uang kost. Ketika teman-teman yang lain pada gonti-ganti tempat kost, saya dapat bertahan sampai hampir 6 tahun. Ketika tahun 69 saya keluar dari rumah pak Broto bukan karena tidak kerasan, tetapi karena harus menunggui rumah oom yang kosong di Jl Sultan Agung , Candi Baru.

Ketika saya belum selesai kuliahpun saya sudah berangan-angan, nanti kalau saya sudah bekerja saya akan segera kembali mencari pak Broto untuk berterima kasih dan membalas budi. Angan-angan ini tidak dapat segera terlaksana karena setelah kerja di BRI saya tidak pernah ditugaskan di Jawa Tengah atau di Semarang.

Kesempatan untuk memenuhi angan-angan saya terbuka ketika tahun 90 saya dipindahkan menjadi Pinwil Semarang. Segera setelah mulai bertugas di Semarang tanpa menunggu lama-lama lagi saya bersama istri dan anak-anak meluncur ke Lampersari.  Rumah itu masih seperti ketika dulu saya tinggalkan 20 tahun yang lalu, tidak banyak perubahan, hanya kelihatan lebih lengang. Setelah beberapa kali mengetok pintu, keluarlah seorang pria muda menggandeng anak alaki-laki berumur 3 tahun. Ternyata dia Wisnu, putera tunggal tunggal keluarga Brotomartono yang sudah berkeluarga dan sekarang menempati rumah tersebut.

“Kok sepi banget Nu, bapak ibu tindak ngendi ? “, tanya saya mengawali pembicaraan. Betapa terkejutnya saya ketika Wisnu menjawab: “Bapak karo ibu wis seda kabeh  mas”.  Wisnu menjelaskan lebih lanjut kalau bu Broto meninggal dunia kira-kira 6 tahun yang lalu karena sakit kanker, kemudian pak Broto menyusul 1 tahun kemudian karena sakit. Segala perasaan sedih, malu dan menyesal bercampur aduk menjadi satu didada saya. Mengapa dulu, ketika sering cuti ke Solo, saya tidak pernah menyempatkan diri main ke Semarang.

Sekarang kok jadi lain

. Sekitar  tahun 68 ditempat saya kost mendapat tambahan  2 penghuni baru, mas Hari, pegawai Dinas Metrologi dan mas Akhsan, pegawai  BKTN  Kantor Daerah Semarang. Dengan mas Hari saya tidak terlalu dekat, ya sekedar kenal sesama teman satu kost. Sebaliknya, dengan mas Akhsan saya sangat dekat, sering diajak nonton atau makan direstoran.  Mas Akhsan termasuk perjaka tua untuk ukuran waktu itu(30-an ), belum punya pacar, jadi kalau malam Minggu seringnya tidak punya acara. Sebagai sahabat, masalah-masalah pribadi seperti soal mengapa dia sampai telat kawin saya tahu semua.

Dari mas Akhsan inilah berawal ketertarikan saya untuk bekerja di bank. Saya lihat setiap hari kalau berangkat ke kantor dijemput bus, pakaiannya selalu necis, baju putih dengan celana  gelap dari bahan yang halus.  Tiap Minggu pagi dengan pakaian olah raga putih-putih berangkat main badminton. Saya tidak tahu posisinya apa di bank, tapi nampaknya uangnya cukup banyak.   

Ketika saya dipindah ke Kanwil Semarang, saya optimis sekali akan bisa segera ketemu lagi dengan mas Akhsan.  Ternyata dia tidak bertugas lagi di Kanwil dan sudah kurang lebih 2 tahun menjalani pensiun.  Dengan bantuan bu Tinuk, kasi seketariat, saya mengundangnya untuk datang ke Kanwil. Pertemuan dengan mas Akhsan tidak seperti yang saya harapkan. Tadinya saya membayangkan suatu pertemuan yang hangat, mesra layaknya dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu.   Ternyata dia menjadi agak pendiam, sedikit tertutup dan ada kesan malu atau takut dengan saya. Percakapan hanya sekedar basa basi saja, sangat formal dan terasa kurang akrab. Usaha saya untuk memancing percakapan dengan cerita-cerita nostalgia masa lalu juga tidak berhasil. Setelah sekian lama berpisah, sekarang kok jadi lain. Saya tidak tahu siapa diantara kita yang banyak berubah. Mungkin mas  Akhsan melihat saya sebagai sosok yang menakutkan setelah menjadi Pinwil

Jangan ditunda-tunda

Belajar dari pengalaman, saya selalu menasehati anak-anak untuk menyempatkan menengok bekas guru-gurunya dulu, khususnya guru SD atau siapa saja orang-orang yang pernah membantu atau berjasa kepada kita.. Jangan menunggu sampai selesai kuliah, atau kalau sudah dapat pekerjaaan. Kadang-kadang kita mempunyai perasaan malu untuk menemui bekas guru-guru  karena kita merasa  belum berhasil jadi “orang”. Tetapi waktu berjalan terus, begitu pula umur semakin tua. Ketika kesempatan itu datang sering sudah terlambat. Mereka sudak tiada, mendahului kita dipanggil sang Pencipta. Didalam daftar saya masih terdapat beberapa nama teman lama yang harus saya cari. Mudah-mudahan saya diberi umur panjang untuk bisa menemui mereka. 

 

 

Explore posts in the same categories: Humaniora

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: