Banyak makna dibalik nama

Oleh : Papah Doni

Di Negara-negara Barat nama orang umumnya terdiri dari minimal dua kata, yaitu first name dan last name. Last name atau surname ini sangat praktis untuk membedakan kalau ada dua orang yang kebetulan mempunyai nama depan yang sama, misalnya antara Robert Mitchum dengan Robert Wagner. Surname memang nama keluarga tetapi bukan dalam arti keluarga besar seperti kalau di daerah Tapanuli Batubara, Nasution atau Sihombing. Jadi seseorang yang surname-nya Kennedy tidak selalu satu fam dengan clan Kennedy yang terkenal itu. Pada waktu sekolah di AS dulu saya agak sulit untuk menjelaskan bahwa saya sebenarnya tidak mempunyai last name. Mereka selalu menanyakan last name karena sistem  filing-nya disusun atas dasar nama belakang. Daripada ditanya terus, setiap kali harus mengisi formulir  saya tulis saja Haryanto sebagai last name.

Pada awalnya di Eropa, seperti di sebagian besar Indonesia, tidak dikenal nama belakang. Sisa-sisanya masih ada sampai sekarang, keluarga kerajaan Inggris tidak mempunyai last name. Ratu Margaret, Ratu Elizabeth, Pangeran Charles, Puteri Anne, Pangeran Edward, Pangeran William, sekedar beberapa contoh. Dari Belanda kita mengenal Ratu Wilhelmina, Ratu Beatrix. Asal mula penggunaan  nama belakang dulu lebih dikaitkan dengan pekerjaan atau profesi orang yang bersangkutan. Kalau di desa ada dua orang yang bernama John, maka yang profesinya sebagai penjahit akan diberi julukan John Tailor (belakangan berkembang menjadi Taylor) sedang yang pekerjaannya tukang kayu dipanggil John Carpenter. Dengan pola seperti ini kita mengenal nama-nama seperti Adam Smith (tukang besi), Tony Baker (tukang roti), James Cook (juru masak), Irving Fisher (nelayan), Harry Gardner (tukang taman), Ricky Hunter (pemburu), Bob Miller (yang punya penggilingan). Hal yang kurang lebih sama juga terdapat di Negara Belanda : Timmerman (tukang kayu), Bakker (tukang roti), Schoenmaker (Tukang sepatu), de Boer (petani) atau van Dijk (dari dam/tanggul).

Nama dan feodalisme

Di Jawa, terutama untuk daerah Solo dan Yogya, aroma feodalisme terasa kuat dalam masalah pemberian nama. Nama-nama seperti Herjuno Darpito, Dorojatun, Guritno, Jatikusumo hanya boleh digunakan oleh mereka yang masih kerabat kraton. Untuk golongan menengah atau priyayi biasanya menggunakan nama-nama seperti Suryasmo, Hartarto, Susatyo, Sunindyo, Hapsoro, Hartawan. Dari kalangan orang biasa mereka cukup puas dengan nama-nama seperti Suharto, Sumardi, Purwanto, atau Sugiyono.   Sedang dari kalangan yang lebih rendah lagi seperti petani atau yang dari desa nama-nama yang banyak kita jumpai adalah Sukiman, Wagiman, Sukino, Sutinah atau Paijem. Sampai sekarang belum pernah saya menjumpai pembantu rumah tangga dari Jawa yang bernama Helen, Sita atau Diah.

Nama dan harapan

Di sebagian masyarakat Jawa sering orang tua memberi nama anaknya dengan maksud atau harapan-harapan tertentu. Seperti nama Sugeng, Widodo, Basuki, Lestari, Rahayu,  atau Waluyo dengan harapan supaya anaknya tetap sehat. Kuwat, Kukuh, Santoso, Prakoso supaya kuat dan sehat.  Bagyo, Raharjo, Sugiyo, atau Lumintu supaya banyak rejeki. Kakak saya yang lahir di Surabaya tahun 1943 diberi nama Ilham Rahardjo (makmur), katanya pada waktu itu secara ekonomi orang tua saya lagi top-topnya, tentunya dengan harapan supaya si anak seterusnya tetap “raharjo”.  Masih banyak lagi nama-nama Jawa yang semacam ini seperti : Lantip(cerdas), Tulus(jujur), Kabul(terkabul), Subur, Sabar, Tukul(tumbuh), Muji(berdoa), atau Mulyo(bahagia).

Mantan Kepala Divisi Renstra Kantor Pusat BRI dulu bernama Ngupadi Luhur, yang kurang lebih artinya mencari kemuliaan. Saya yakin orang tuanya mengharapkan si anak agar selalu mencari kemuliaan atau kebahagiaan didalam hidupnya. Kita doakan mudah-mudahan pak Ngupadi sudah menemukan pencariannya, jangan sampai seumur-umur mencari terus. Berbeda dengan Pinwil DKI sekarang, Prayogo (enak,pas) Sejati (sesungguhnya), yang secara bebas artinya nampaknya sesuai dengan jabatan yang sedang dipangku saat ini : “enak tenan”.

Semua orang di BRI pasti kenal pak Slusup Marhanto, mantan Kadiv Operasional dan terakhir Direktur PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS). Saya kurang tahu  apa harapan bapak ibunya pak Slusup waktu memberi nama ini. Beliau ini sepanjang karirnya di BRI  dan terakhir di perusahaan yang bergerak dibidang penyediaan tenaga kerja dasar untuk BRI. Mungkin akan lebih cocok kalau beliau dulu masuk di Kepolisian di Direktorat Reserse atau di Badan Intelijen Negara yang banyak berhubungan dengan kegiatan slusup-menylusup. Mas Sarasno, anggota Badan Audit Dana Pensiun BRI, sesuai namanya yang artinya “menyembuhkan” mungkin lebih pas kalau bekerja di bidang medis atau buka apotik.

Di agama Islam salah satu kewajiban orang tua kepada anak adalah memberi nama yang baik. Yang berasal dari keluarga Muslim, kalau ingin anaknya tetap beriman dipilih nama Mukmin, agar selalu bertaqwa Mutaqin, supaya ihklas Mukhlis, supaya ikhsan atau berahlak baik Muchsin. Tetapi hati-hati, kalau punya anak perempuan jangan sekali-kali diberi nama Musyrikah, karena konotasinya sangat jelek yaitu orang yang musyrik atau menyekutukan Tuhan.

Keberatan nama

Di Jawa ada kepercayaan bahwa seseorang mungkin namanya kurang cocok atau keberatan sehingga perlu diganti. Kakak saya perempuan semula diberi nama Roespijah, karena sakit-sakitan kemudian diganti menjadi Sri Maryati. Proses penggantian namanya tidak asal ganti begitu saja, tetapi melalui semacam upacara adat. Mula-mula kakak saya seolah-olah diambil anak dulu oleh orang lain, kemudian orang tua angkat yang baru yang akan mengganti namanya. Adik saya yang paling kecil dulu diberi nama Sri Subagyo, tetapi sama seperti kakak saya, sering sakit-sakitan. Melalui proses yang sama adik saya diambil anak oleh tetangga. Mereka sudah punya tiga anak laki-laki : Wiratmo, Wiratno dan Wirawan. Jadi adik saya dianggap sebagai anak ke empat diberi nama Wiharso. Presiden RI pertama terlahir dengan  nama Kusno, karena alasan yang sama sakit-sakitan, diganti menjadi Sukarno. Sampai sekarang, walaupun boleh-boleh saja, tidak akan ada orang Jawa yang berani memberi nama anaknya Paku Buwono atau Hamengku Buwono, takut kuwalat.

Nama dan profesi.

Di Jawa juga ada kebiasaan seseorang mengganti nama kecilnya dengan nama tua setelah orang yang bersangkutan “mentas” (berkeluarga) atau menduduki jabatan tertentu. Pemberian nama tua ini sering merupakan pemberian gelar yang disesuaikan dengan profesinya. Pakde saya waktu waktu kecil bernama Sutardjo. Ketika dewasa bekerja dilingkungan pamong praja, terakhir pensiun sebagai Wedana di Rembang. Begitu masuk di lingkungan pamong praja namanya kemudian berganti menjadi Tardiopranoto. Nama “pranoto”, “prodjo”, atau “nagoro” adalah nama-nama gelar untuk mereka yang berkecimpung dibidang pengelolaan pemerintahaan. Untuk yang memilih karir sebagai prajurit  akan mendapat nama gelar “Yoedo” atau “Manggolo”. Menko POLKAM kita bernama Susilo Bambang Yudhoyono. Saya kurang tahu apakah nama Yudhoyono ini sudah dari kecil atau tambahan setelah masuk Akabri.

Untuk guru-guru atau penilik, nama yang sering digunakan adalah “siswo”, seperti Siswowinarso, Siswosuharto. Yang berprofesi sebagai dalang umumnya memakai nama belakang “carito” atau “sabdo”. Jaman saya kecil dulu dikenal dalang-dalang kondang dari Jawa Tengah yang bernama Hardjotjarito, Njototjarito, Nartosabdo, Sastrosabdo. “Bekso” atau “bakso” adalah nama-nama tua untuk mereka yang menggeluti bidang seni tari. Rusman, pemain Gatutkoco wayang orang Sriwedari dulu, nama tuanya Hardjowibakso. Sedang yang memilih bidang kedokteran sebutan yang baku adalah “husodo”, contoh : Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Yang berhubungan dengan keuangan nama yang cocok adalah “hartoko”. Hartoko sendiri artinya bendahara. Dulu ada pinca BRI yang bernama Mulyo Hartoko, nah ini pas sekali antara nama dengan pekerjaaan yang digelutinya , yaitu bank atau uang. Kakeknya mas Sarasno waktu kecil namanya Sudarman. Karena pengabdiannya secara terus menerus di pabrik gula Colomado, Solo, memperoleh nama gelar dari Mangkunegaran Raden Demang Darmosarkoro. Sarkoro adalah bahasa Sangsekerta yang berarti gula.

Nama Sunda

Di masyarakat Sunda, nama umumnya juga terdiri dari dua kata, namun nama depan lebih berfungsi sebagai nama panggilan.  Jadi kalau namanya Suherman, umumnya panggilannya Maman, jadilah namanya Maman Suherman. Kalau Efendi atau Rochendi biasanya dipanggil Dedi, maka nama lengkapnya Dedi Efendi atau Dedi Rochendi. Begitu pula Ruchiyat atau Hidayat nama depannya akan menjadi Yayat. Kalau Kosasih dapat dipastikan panggilannya Engkos. Yang bernama Suryatman ada dua kemungkinan panggilan, yaitu Yayat atau Maman. Jadi nama lengkapnya bisa Yayat Suryatman atau Maman Suryatman. Untuk yang perempuan kita akan menemukan nama-nama seperti Entin Kartini, Yati Nurhayati atau Kokom Komariah.Yang belum dapat saya jelaskan karena tidak mengikuti pola ini adalah nama-nama seperti Asep Suhendar, Oenang Sudjana, Oeding Somantri, Otong Hasan, Adang Ruchyana atau Ebed Kadarusman.

Humor tentang nama

Elon Dahlan, asal Manonjaya, Tasikmalaya, ketika pindah ke Perancis ganti nama menjadi Allan Delon.  Aktor laga dari Hollywood yang terkenal, Chuck Noris, sebetulnya asli Surabaya, masih saudaranya Cak Durasim. Komisaris Utama Bank Mandiri, Binhadi, sebetulnya tidak punya nama karena “bin Hadi” adalah nama orang tuanya. Sutradara Ginting belum pernah menyutradarai satu filmpun selama hidupnya. Begitu pula Da’i Bachtiar tidak pernah memberi dakwah. Orang Jepang yang profesinya wartawan biasanya nama belakangnya memakai “moto”, seperti Hiroki Sukamoto, atau Matsui Sukamoto. Sedang yang bergerak di bisnis  perdagangan atau toko eceran umumnya memakai nama “mura”, seperti Takashimura atau Nikimura. Siapa namanya orang Ambon yang jalannya pelan-pelan ? Melky Goslaw (goes slow) Kalau wanita Ambon yang suka melihat bulan ? Grace Simon (see moon). Nah kalau orang Cina yang sering datang terlambat : Lu Kho Siang. Sekian dulu.

Explore posts in the same categories: Sketsa

One Comment pada “Banyak makna dibalik nama”

  1. ahdoy Says:

    wow! keren! makasih infonya, nambah pengetahuan😀


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: