Bagaimana Kalau Bank Century Dulu Tidak Di-bailout

Ditulis November 27, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Keuangan

Tags:

Sejauh ini opini publik telah digiring oleh media bahwa kebijakan mem-”bail out” Bank Century adalah salah, karena krisis yang dialami Bank Century (BC) tidak bersifat sistemik. Dalam acara-acara talk show di TV narasumber yang banyak berbicara umumnya dari para pengamat politik, ahli hukum dan anggota DPR. Narasumber inipun juga sudah dipilih kira-kira yang akan berfihak pada anti bailout. Sedang praktisi keuangan, khususnya yang dari perbankan, tidak pernah diundang sebagai narasumber. Dari hasil pemeriksaan pansus DPR memang terungkap bahwa prosedur pencairan dana talangan bank Century terdapat beberapa kejanggalan yang menjurus kearah tindak pidana korupsi. Namun justifikasi apakah kebijakan bailout BC tepat atau tidak, tidak pernah terungkap dengan jelas karena adanya asimetri informasi dalam membahas kasus BC. Cara pandang terthadap kasus BC terlalu sarat dengan muatan politik.

Sebagai praktisi keuangan yang mengalami langsung gejolak industri keuangan ketika terjadi krisis BC, saya mencoba berandai-andai bagaimana kalau BC tidak dibailout. Analisa saya ini tidak didasarkan pada analisa ekonomi makro dan moneter yang canggih, tetapi semata atas dasar pengalaman prkatis dan common sense saja. Pada waktu itu saya bekerja sebagai pengurus dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang money broker. Perusahaan saya memberikan jasa perantara (brokerage services) kepada perusahaan, lembaga keuangan dan bank yang memerlukan dana jangka pendek baik dalam rupiah maupun valuta asing. Pengertian jangka pendek adalah kurang dari 1 tahun. Transaksi dilakukan melalui dealing room dengan media komunikasi telpon atau telex. (makanya juga disebut transaksi call money) Jadi, setiap hari kerja, para broker kami tugasnya mempertemukan fihak-fihak yang kekurangan dana dengan fihak yang kelebihan dana. Sebagai contoh, kalau suatu bank memprediksi bahwa untuk transaksi kliring hari ini kewajiban membayarnya akan lebih besar daripada likuiditas yang tersedia, maka bank tsb dapat pinjam dana dari bank lain. Dari komunikasi dan interaksi para dealer/broker dan klien yang bergerak di bisnis ini, segera dapat diketahui bagaimana kondisi likuiditas di pasar keuangan. Orang-orang dealing room tahu bank-bank mana yang sering kesulitan likuiditas dan mana yang selalau kelebihan likuiditas.

Krisis BC berawal dari hampir bangkrutnya bank-bank besar di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2008 ketika terjadi skandal subprime mortgage. Pada waktu itu portofolio bank-bank AS dalam surat berharga yang dijamin oleh pinjaman perumahan (mortgage) merosot drastis nilainya, karena default (tak mampu bayar) semua. Olengnya bank-bank besar AS langsung berdampak ke bursa saham di Wall Street. Indeks saham gabungan New York, Dow Jones index, terjun bebas sampai tinggal 60% dari nilai pasar semula. Jatuhnya pasar saham di Wall Street juga langsung berdampak ke pasar saham di Indonesia. Indeks harga saham gabungan di bursa efek Jakarta jatuh hingga tinggal 50%. Ketika itu saham Bumi Resources yang semula bernilai Rp1,200 sempat jatuh hingga tinggal Rp100 saja. Investor asing rame-rame menjual sahamnya dan menukarnya dengan dolar untuk repatriasi ke negrinya. Akibatnya nilai rupiah jatuh dan kurs dollar dalam waktu pendek melonjak dari Rp8,500 menjadi Rp12,000 per US dollar. Penabung-penabung dalam negri juga ikut panic, mencairkan tabungan rupiahnya (rush) untuk membeli dollar. Perbankan, khususnya bank-bank kecil, langsung merasakan liquidity squeeze (pengetatan likuiditas). Bank-bank besar yang biasanya menjadi net lender (penyedia dana) mulai mengurangi pinjamannya kepada bank-bank kecil. Perbankan menunggu-nunggu kebijakan apakah yang akan diambil pemerintah dalam mengatasi krisis ini. Ketika Wapres Jusuf Kalla mengumumkan bahwa pemerintah tidak akan mengeluarkan blanket guarantee (jaminan penuh atas simpanan fihak 3 di bank), perbankan langsung menghentikan transaksi call money di pasar uang. Kebijakan blanket guarantee diambil ketika mengatasi krisis tahun 1998. Bank Century korban pertama yang kalah kliring (gagal memenuhi kewajibannya di transaksi kliring). Namun dibelakang BC sebetulnya sudah mengantre puluhan bank-bank kecil lainnya yang mengalami kesulitan likuiditas, walaupun belum sampai ketahap gagal kliring. Semua orang bank waktu itu mengetahui semua kondisi ini, termasuk bank-bank mana saja yang juga sudah kritis.

Akhirnya pemerintah memutuskan bahwa BC harus di bailout dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan jaminannya menjadi Rp2 milyar per nasabah. Dengan kedua kebijakan ini, pasar uang hidup kembali, bank-bank kecil bisa bernapas lebih longgar, rush nasabah bisa dihindari, rupiah kembali menguat dan pasar modal berangsur pulih. Jadi sudah dapat dipastikan kalau waktu itu BC tidak di bailout maka bank-bank kecil lainnya akan langsung bergelimpangan. Namun teori ini tidak dapat diuji dilapangan, karena kenyataannya BC telah di bailout. Untuk menilai apakah krisis BC akan berakibat sistemik atau tidak, tidak bisa dilihat hanya dari ukuran bank yang bermasalah saja. Jadi karena BC adalah bank kecil maka kalau collapse pengaruhnya juga kecil. Yang lebih berperan dalam memicu krisis adalah sentiment pasar. Sentimen waktu itu kuat sekali bahwa krisis perbankkan sudah diambang pintu. Sentimen ini akan mempengaruhi reaksi pelaku pasar.

Jadi, harus dibedakan antara kebijakan bailout dan prosedur pelaksanaan bailout. Menurut pendapat saya pengambilan keputusan bahwa BC harus di bailout sudah benar. Bahwa dalam implementasinya terjadi penyimpangan itu mungkin saja terjadi. Nantinya, beberapa tahun kemudian, sejarah akan mencatat bahwa rakyat akan berterima kasih Indonesia bisa keluar dari krisis dengan cepat dan ekonominya bertumbuh dengan baik karena kebijakan bailout BC ini.

Pilpres AS: Suara Terbanyak Belum Tentu Menang

Ditulis November 27, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Luar Negri

Tags: , , ,

Dalam waktu 2 minggu lagi, atau tepatnya pada tanggal 6 Nopember 2012, akan diselenggarakan pemilihan presiden Amerika Serikat (pilpres AS). Pilpres AS selalu menjadi perhatian seluruh warga di dunia. Seluruh negara di dunia berkepentingan dengan siapa yang akan menjadi presiden AS mengingat peran negara ini sebagai raksasa ekonomi dan polisi dunia. Pilpres AS kali ini akan menentukan apakah Barrack Obama atau Mitt Romney yang akan dipercaya untuk memimpin AS 4 tahun kedepan.

Pemilu di AS merupakan proses yang panjang, mahal dan melelahkan. Diawali dengan pemilihan pendahuluan atau primary, yang diselenggarakan di masing-masing negara bagian, untuk menentukan siapa yang paling layak untuk diajukan sebagai kandidat presiden mewakili partainya. Pada pemilihan tingkat primary publik memilih langsung calon yang diinginkannya. Di Amerika masing-masing negara bagian bebas menentukan sistem apa yang akan digunakan ditingkat pemilihan pendahuluan. Tidak semua negara bagian menganut system primary. Iowa, Texas, dan Washington(state) menggunakan sistem caucus. Berbeda dengan primary dimana kandidat dipilih langsung oleh publik, didalam caucus kandidat dipilih oleh pengurus partai. Jadi, pengurus partai ditingkat precinct (setingkat kecamatan) akan menentukan siapa kandidat yang akan diajukan sebagi calon presiden

Untuk partai Demokrat hanya ada calon tunggal karena presiden Obama akan maju lagi sebagai petahana, maka tidak ada proses primary. Untuk partai Republik, kandidat di tingkat primary antara lain: Newt Gingrich, Rick Santorum, Fred Karger, Ron Paul, Buddy Roemer, Rick Perry, Michelle Bachman, Mitt Romney, John Huntsman Jr. Dalam proses selanjutnya ada yang menarik diri pada saat primary atau sesudah primary, dengan hasil akhir Mitt Romney terpilih sebagai kandidat atau nominee presiden untuk partai Republik. Kedua kandidat pemenang ini baru resmi menjadi calon presiden Amerika setelah disyahkan didalam konvensi nasional yang diselenggarakan oleh masing-masing partainya

Khusus untuk pemilihan presiden sebetulnya rakyat tidak langsung memilih presidennya, tetapi melalui electoral college. Electoral college(EC) ini semacam perwakilan dari penduduk yang nantinya akan memilih langsung presiden AS. Jumlah anggota EC 538 , yang merupakan penjumlahan anggota Senat ditambah anggota DPR. Tiap-tiap negara bagian mempunyai jumlah EC yang berbeda-beda tergantung dari jumlah penduduknya. California yang penduduk terbanyak misalnya, mempunyai 55 EC. Sedang Nevada, walaupun hampir sama luasnya dengan California tetapi sedikit penduduknya, hanya mempunyai 3 EC.

Hasil perolehan suara dari masing-masing calon ditiap-tiap negara bagian akan diterjemahkan kedalam perolehan EC atau electoral votes.(EV)Hanya saja pembagian EV ini tidak proporsional sesuai perolehan suara, tetapi menganut system “the winners take all”. Jadi, misalnya di California perolehan suara atau popular votes Obama dibanding Mitt Romney 60 % : 40%, maka Obama mengambil seluruh EV yang 55 tadi. Untuk memenangkan pilpres ini salah satu kandidat harus memperoleh minimal 270 EV. Dengan system ini seseorang yang menang diperolehan popular votes belum tentu menang di electoral votes.

Pada pilpres tahun 2000, Al Gore menang tipis di popular votes tetapi kalah di electoral votes dari George Bush, sehingga yang menjadi presiden George Bush. Secara teori masing-masing anggota EC boleh memilih presiden yang bukan dari partai yang diwakilinya, tetapi dalam sejarah hal ini hampir tidak pernah terjadi. Sebagian masyarakat AS menganggap sistem ini tidak demokratis karena seolah-olah menghilangkan suara fihak yang kalah dan menggabungkan dengan suara partai yang menang. Perdebatan terus berlangsung untuk merevisi sistem ini, namun sampai sekarang masih belum berhasil.

Dalam setiap pilpres di AS tidak hanya memilih presiden, tetapi juga anggota Senat, anggota DPR dan gubernur negara bagian. Namun untuk ketiga yang terakhir ini hanya memilih anggota atau gubernur yang telah habis masa jabatannya saja. Proses pencoblosan termasuk cukup sulit. Setiap pemilih setelah diverifikasi formulir registrasinya diberi sebuah kartu semacam kartu ATM. Kartu ini akan dimasukkan kedalam sebuah mesin dan dilayar monitor akan muncul pilihan-pilihan yang harus dilakukan. Pemilih bisa melakukan beberapa skenario pilihan sebelum menentukan pilihan akhir, yaitu dengan memencet tombol merah. Sekali tombol merah ditekan maka pilihan sudah tidak dapat dirubah lagi. Seorang pemilih bisa menghabiskan waktu sampai 10 sampai 15 menit dibilik suara. Perlu diingat bahwa tidak semua orang Amerika faham tehnologi komputer. Mudah dibayangkan pemilih sering harus menunggu sampai 3 jam sebelum mendapat giliran memencet (bukan mencoblos). Bagi mereka yang sibuk, di AS juga dimungkinkan untuk memilih duluan (early voting) dengan mengirimkan hasilnya melalui pos.

Walaupun pilpres belum berlangsung namun sebetulnya sudah dapat dibuatkan peta EC-nya, karena terdapat negara-negara yang secara historis dikenal sebagai pendukung demokrat atau pendukung republik. Didukung dengan polling terakhir diseluruh negara bagian, maka peta EC menunjukkan Obama memperoleh 237, Romney 206, dan 95 belum menentukan pilihan atau swing states. Swing states ini biasanya baru menentukan pilihannya setelah mendengar debat presiden. Siapa yang akan menang? Kita tunggu saja nanti tanggal 6 Nopember.

Perlukah Perjanjian Pra-nikah?

Ditulis November 27, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Sketsa

Tags: , , , ,

Perkawinan merupakan ikatan antara dua individu, laki dan perempuan, untuk hidup bersama dibawah satu atap dalam waktu yang lama. Perikatan ini diharapkan dapat berlangsung langgeng dan kekal, bahkan sampai akhir hayat. Dari kacamata psikologi, harapan untuk bisa hidup bersama secara harmonis dalam waktu yang panjang nampaknya sulit dilakukan, karena kedua individu ini sebetulnya adalah pribadi yang berbeda. Perbedaan yang ada antara masing-masing individu bisa sangat ekstrem dan luas. Mulai dari perbedaan latar belakang keluarga, sosial, suku, agama, antar bangsa dls. Keluarga pendidik bertemu dengan keluarga pedagang, anak ulama kawin dengan anak polisi, atau anak pejabat ketemu dengan artis sinetron, anggota DPR kawin dengan penyanyi. Perbedaan-perbedaan ini sering tidak dapat dicarikan titik temunya, sehingga ikatan perkawinan tidak dapat dipertahankan lagi alias harus berakhir dengan perceraian walaupun sebetulnya masih cinta

Satistik perceraian di Amerika menunjukkan bahwa pasangan yang usia perkawinannya bisa mencapai tahun ke 5, 10, dan 15 masing-masing adalah: 82%, 65% dan 52%. Artinya, satu dari setiap lima perkawinan berakhir dengan perceraian sebelum melewati tahun ke lima. Kemudian satu dari setiap tiga perkawinan bisa mencapai tahun ke 10, dan hanya satu dari dua perkawinan yang dapat sampai berusia 15 tahun. Di Indonesia belum ada angka-angkanya, namun nampaknya tren-nya semakin meningkat, khususnya dikalangan artis,  selebrities atau pasangan yang bekerja (working couples).

Ketika suatu perkawinan harus berakhir dengan perceraian maka banyak masalah-masalah yang harus diselesaika oleh kedua pasangan. Pertama, masalah pemberian nafkah kepada istri sesudah perceraian (alimony). Biasanya diputuskan separo dari penghasilan suami harus diserahkan kepada mantan istri untuk biaya hidup bersama anak-anaknya. Ini umumnya berlaku untuk suami yang bekerja dengan penghasilan tetap setiap bulannya. Bagaimana kalau sang suami seorang pengusaha yang sukses dengan penghasilan ratusan juta? Tentu rumus separo penghasilan suami untuk mantan istri tidak berlaku. Sang suami jelas keberatan. Nah, pengadilan agama akan memberikan kesempatan kepada kedua pasangan untuk merundingkan berapa jumlah yang pantas yang disepakati oleh kedua belah fihak. Apabila tidak dicapai titik temu maka pengadilan yang akan memutuskan jumlah yang wajar, cukup untuk mempertahankan tingkat hidup seperti gaya hidup sebelum terjadi perceraian.

Masalah kedua adalah mengenai hak asuh anak, kalau mereka dikaruniai anak. Sang ibu biasanya bersikeras bahwa dia lebih berhak atas hak asuh anak. Sang suami demikian pula, tidak mau jalinan kasih saying dengan anak-anaknya tercabut begitu saja. Sebagaimana masalah diatas, kedua fihak disarankan untuk merundingkan tentang pembagian hak asuh anak-anak. Kalau tidak tercapai kesepakatan maka fihak pengadilan yang akan memutuskan. Biasanya hak asuh, demi masa depan pendidikan dan pertumbuhan jiwa anak-anak, akan diberikan kepada sang ibu. Namun tidak selalu demikian. Kalau pengadilan menilai bahwa sang ibu mempunyai kebiasaan yang membahayakan pertumbuhan dan pendidikan anak-anak, seperti pecandu narkoba, pemabok atau penjudi, maka hak asuh akan diberikan kepada sang ayah.

Masalah ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah masalah pembagian harta “gono-gini”, yaitu harta yang diperoleh sesudah perkawinan. Menurut undang-undang di Indonesia, juga dinegara-negara lain, apabila terjadi perceraian harta “gono-gini” dibagi dua antara suami dan istri. Sedang harta bawaan, yang sudah dimiliki masing-masing fihak sebelum pernikahan, tetap menjadi milik masing-masing fihak. Untuk pasangan dengan kekayaan yang sedang-sedang saja, misalnya “hanya” memiliki dua rumah dan dua mobil, mungkin pembagain harta “gono-gini” tidak terlalu memberatkan. Tinggal mobil dan rumah dibagi dua, masing-masing memperoleh satu rumah dan satu mobil. Bagaimana kalau harta “gono-gono”-nya mencai $1 milyar? Tentu terasa berat sekali bagi sang suami untuk menyerahkan setengah milyar dollar kepada mantan istri. Tidak jarang suami menjadi bangkrut sesudah perceraian karena harus melikuidasi asset-aset produktifnya untuk membayar pembagian “gono-gini’. Raja golf Tiger Woods membayar $100 juta dan alimony $20,000 per bulan untuk Elin, bekas istrinya. Aktor laga terkenal, Arnold Schwarzenegger, harus merelakan pembayaran sebesar $350 juta kepada Maria Shriver, mantan istrinya.

Melihat runyamnya permasalahan yang bisa timbul sebagai akibat perceraian, khususnya untuk pasangan-pasangan kaya, maka dinegara-negara maju banyak dibuat perjanjian pra-nikah atau prenuptial agreement.(PA) Sesuai namanya, perjanjian pra-nikah adalah perjanjian yang dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan. Perjanjian pra-nikah berisi pengaturan selama perkawinan sampai kepada hal-hal jika perkawinan harus berakhir. Kepemilikan harta benda, pengaturan keuangan, pertanggungjawaban hutang piutang dalam perkawinan, bahkan juga bisa dimasukkan klausul jika sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Di Indonesia PA belum populer, walupun untuk sementara kalangan sudah mulai mempraktekkan. Faktor agama, budaya dan nilai-nilai sosial tentang makna perkawinan yang membuat orang merasa kurang etis membuat suatu PA. Namun melihat cakupan PA, sebetulnya PA ini menjadi semakin penting sebagai asuransi perlindungan bagi kedua belah fihak. Ingat, PA tidak hanya melindungi istri dan anak, tetapi juga melindungi suami dari perempuan yang memanfaatkan lembaga perkawinan hanya untuk mengejar kepentingan materi. 10 atau 20 tahun setelah perkawinan kita tidak tahu secara materi dan ekonomi akan seperti apa keluarga kita. Ketika masih miskin mungkin tidak akan terfikirkan masalah-masalah diatas akan timbul. Tetapi setelah kayaraya bisa jadi menyesal, mengapa dulu tidak membuat PA. Untuk kalangan selebrities, dimana tingkat perceraiannya relative tinggi, PA mutlak diperlukan. Masing-masing fihak umumnya sudah mapan secara ekonomi dan mempunyai potensi untuk menjadi lebih kaya lagi. Disisi lain resiko kegagalan perkawinan sangat tinggi. Tanpa PA maka perkawinan menjadi ajang untuk saling menggerogoti kekayaan masing-masing.

Akhirnya kita kembalikan kepada calon pasangan mempelai, apakah perlu membuat perjajanjian pra-nikah sebelum melangsungkan perkawinan. Secara hukum agama (UU Perkawinan th 1974) maupun Hukum Perdata tentang perikatan, dimungkinkan untuk membuat perjanjian pra-nikah.

Petugas Wisma Itu Ternyata Calon Doktor

Ditulis November 27, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Sketsa

Tags: ,

Pada kurun waktu 2008-2009 saya sempat tinggal di Aceh selama 4 bulan. Waktu itu saya  bekerja pada kantor konsultan SMEC yang dikontrak Asian Development Bank. Klien kami adalah Bank Daerah Aceh yang memerlukan bantuan tehnis untuk mengembangkan portofolio kfredit pertaniannya. Untuk menghemat uang harian,  saya memilih tinggal di wisma, yang tarifnya bisa sepertiga tarif hotel bintang 4. Waktu itu di Banda Aceh(BA)  banyak rumah-rumah pribadi yang disulap menjadi wisma untuk melayani konsultan-konsultan asing dan NGO yang bertugas pasca tsunami Aceh. Pada waktu masih ramai-ramainya konsultan yang bekerja di Aceh, 1 wisma bisa laku Rp1 milyar per tahun. Tahun 2008 sudah banyak konsultan dan NGO yang pulang, sehingga wisma-wisma tadi kamarnya disewakan secara harian.

 

1353208464721607414

Wisma Damayanti Neusu, Banda Aceh (dok pribadi)

 

Atas saran teman, saya tinggal di Wisma Damayanti, didaerah Neusu milik orang Banda Aceh yang menjadi bupati di Simeuleu. Tarifnya Rp200,000 per hari, tetapi karena saya tinggal untuk jangka yang lama didiskon menjadi Rp150,000 per hari. Ketika pertama kali check-in saya disambut oleh seorang pria  sekitar usia 40-an, dengan penampilan celana jeans dan kaos oblong sedikit  kumal, membantu menurunkan barang-barangku dari mobil dan menaruhnya di kamar. Pada malam harinya dia juga kelihatan dikantor wisma sambil mencatat-catat sesuatu dibuku register. Sebelum masuk tidur sempat pula menanyakan untuk  besok pagi mau sarapan apa.  Saya langsung men-” judge” pasti dia petugas wisma. Untuk hari-hari selanjutnya dengan enaknya saya selalu menyuruh- nyuruh dia, dan diapun melayani saya dengan sangat baik.

Pada suatu hari, pagi-pagi saya lihat dia dengan seragam coklat2 seperti seragam pemda, siap untuk berangkat ke kantor. Penasaran, langsung saya interogasi. Ternyata dia seorang dokter hewan yang berdinas di Dinas Kehewanan Propinsi BA, sudah menyelesaikan S2 dan sedang menyelesaikan S3 di Universitas Syah Kuala BA. Dia tinggal dimuka wisma dan membantu mengurusi  wisma karena pemiliknya tidak ada di BA. Dalam hati saya malu sekali karena terlalu gegabah menilai orang. Sesudah peristiwa itu hubungan kami tidak berubah. Dia masih tetap melayani segala kebutuhan saya, tetapi saya sekarang meperlakukannya dengan lebih hormat. Calon doktor ini namanya Salahuddin atau saya biasa panggil pak Dien. Sekarang pasti sudah Doktor. Salam hormat pak Dien and I miss you very much.

 

 

 

13532080001206977146

Pak Dien (kiri) bersama penulis (dok pribadi)

Siapa Penerus Tachta Sultan HB X

Ditulis November 27, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Politik

Tags: , ,

Masalah penetapan atau pemilihan kepala daerah Yogyakarta sudah tidak perlu diperdebatkan lagi dengan disahkannya Undang-undang Keistimewaan (UUK) Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono X baru saja selesai dilantik sebagai Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sesuai dengan ketentuan UU tersebut, Sultan Jogya dan Raja Pakualam yang resmi bertahta, otomatis akan ditetapkan sebagai gubernur dan wakil gubernur. Masa jabatan gubernur tidak ada batasnya, karena raja tidak mengenal masa jabatan. Raja baru turun tachta kalau mangkat. Sultan IX menggantikan Sultan VIII yang mangkat tahun 1940, Sultan X menggantikan ayahandanya Sultan IX yang wafat tahun 1988.

Siapa penerus Sultan akan menjadi isu yang penting, karena pertama : siapapun yang menggantikan Sultan X nantinya akan menjadi pemimpin Provinsi DIY. Beliau diharapkan mempunyai kualifiaksi tidak hanya sebagai seorang raja tetapiu juga sebagai seorang kepala daerah. Kedua : Seperti diketahui, Sri Sultan HB X tidak memiliki anak laki-laki. Tidak seorang pun dari lima anak Sultan berjenis kelamin laki-laki. Tidak ada “paugeran” (peraturan) tertulis yang melarang anak perempuan menjadi penerus tachta, namun dalam sejarah keraton Jogyakarta(Mataram) belum pernah diperintah oleh seorang ratu. Karena itu, banyak pihak menilai keturunan Sultan HB X tidak bisa naik tahta.

Kalau tradisi ini diikuti maka Sultan X harus menunjuk salah satu saudara laki-lakinya sebagai putera mahkota. Sebagaimana diketahui Sultan IX menikahi 5 istri dan mempunyai 22 putera-puteri (15 putera, 7 puteri). Sultan X terlahir dari istri ke 2, KRAy Widyaningrum. Menurut sumber dari kalangan intern, GBPH Yudhaningrat atau Gusti Yudha, sesuai garis keturunan dan silsilah, calon penerus Sultan adalah Gusti Hadiwinoto, adik satu ibu dari Sultan HB X. Namun Gusti Hadiwinoto ini usianya tidak terpaut jauh dari Sultan. Penunjukkan putera mahkota sepenuhnya hak prerogatif Sultan, jauh-jauh hari sudah harus ditetapkan dan ditandai dengan pemberian nama kepada kandidat terpilih. Sebagaimana diketahui Sultan X waktu mudanya bernama Bandoro Raden Mas Herjuno Darpito. Setelah dewasa diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi. Setelah dipilih sebagai putera mahkota namanya diganti dengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Hamengku Negoro Sudibyo Rajaputro Nalendro ing Mataram. Dengan pemberian nama ini seluruh kawula Yogyakarta maklum bahwa sang putera mahkota telah diangkat. Hal yang sama juga akan berlaku untuk suksesi Sultan X nanti.

Kalau kita melihat sejarah kerajaan di Indonesia, maka pada abad ke 8 kita pernah mempunyai ratu Sima yang memerintah kerajaan Mataram lama. Juga, di jaman Majapahit kita juga mengenal ratu Tribuana Tunggadewi. Jadi, untuk orang Jawa dipimpin oleh seorang perempuan bukan hal yang ditabukan. Masyarakat Jogya sendiri dari pembicaraan sehari-hari mengisyaratkan kalau tidak keberatan dipimpin oleh seorang ratu. Dengan demikian dimungkinkan salah satu puteri Sultan X suatu saat nanti naik tachta menggantikan ayahandanya. Saya kurang tahu apa nama dan gelar yang diberikan kepada sang puteri mahkota nanti.

Masih terlalu dini mungkin untuk berspekulasi tentang kemuingkinan seorang ratu memimpin Yogyakarta. Masalah ini cukup sensitif di Yogyakarta sehingga belum ada yang berani membicarakan secara terbuka. Walaupun Sultan mempunyai hak prerogatif, namun beliau juga sepenuhnya menyadari bahwa adik-adik laki-lakinya juga merasa berhak untuk naik tachta.

Beli 3 Kok Dikasih 5 (Pengalaman Ibadah Haji)

Ditulis Oktober 28, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Catatan perjalanan

Tags: ,

Tidak terasa sudah datang musim haji lagi. Setiap melihat liputan TV tentang keberangkatan jemaah haji selalu terbesit  keinginan untuk menunaikan ibadah haji lagi. Naik haji adalah perjalanan yang luar biasa dan penuh pengalaman yang tidak  mudah terlupakan. Banyak cerita-cerita  yang menarik, aneh-aneh, bahkan ada  yang kedengarannya tidak masuk akal, dari orang-orang yang pulang haji. Banyak pula berkembang mitos kalau pengalaman haji itu merupakan cerminan dari  perbuatan jemaah sewaktu di tanah air. Jadi, kalau sewaktu ditanah air suka marah-marah sama orang, maka nanti di tanah suci ganti sering dimarahin orang.  Ada juga yang memberi nasehat, kalau ada orang yang minta-minta jangan ditolak, siapa tahu itu malaikat yang menyamar. Benar tidaknya walahualam.  Biasanya cerita-cerita semacam ini kita terima apa adanya,  kita tidak pernah mempertanyakan lebih lanjut.

Saya menunaikan ibadah haji bersama istri tahun 1994, dengan Biro Perjalanan Tiga Utama,  ikut kelompok Surabaya. Selama perjalanan lancar-lancar saja , tidak ada hal-hal luar biasa yang menghambat pelaksanaan ritual haji sejak dari keberangkatan sampai kepulangan. Di kelompok saya terdapat sepasang suami istri yang membawa pembantunya naik haji .  Sepintas lalu nampak sangat mulia perbuatan kedua orang ini. Namun dibalik ini nampaknya ada maksud tersembunyi, yaitu supaya ada orang yang selalu melayani kebutuhannya selama melaksanakan ibadah haji. Apa yang terjadi? Begitu sampai di Mekah sang pembantu langsung sakit dan lebih banyak tinggal di kamar hotel. Alhasil,  kedua suami istri ini yang terbalik harus melayani sang pembantu selama perjalanan haji. Ada juga seorang bapak di rombongan kami yang sejak awal sudah mengeluh. “Pak Roes, kayanya saya nggak kuat nanti melempar jumrah.”, katanya. Benar juga, sesampai di Mekkah dan Medinah di lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar hotel karena sakit. Untuk ritual melempar jumrah dia harus menyuruh orang lain, dengan membayar dam. Bukan main.

Apa yang saya alami sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu aneh. Mungkin hanya kebetulan, tetapi karena agak sering, saya jadi bertanya: “Ini kebetulan apa bukan yaa.?”  Ketika di Mekah, disela-sela waktu longgar kami sering jalan-jalan di pasar seng atau pertokoan untuk cari oleh-oleh. Suatu hari saya mampir ke toko jam bermaksud membeli jam untuk oleh-oleh anak-anak. Setelah  memilih sana-sini dan tawar-menawar akhirnya kami sepakat membeli tiga buah jam.  Setelah jam-jam dibungkus dan saya bayar,  saya langsung pulang ke hotel. Di kamar, betapa terkejutnya ketika bungkusan dibuka saya dapati 5 buah jam, bulannya 3. Karena dihantui cerita-cerita mitos diatas, saya langsung berreaksi kepada istri saya: “Mah,  jangan-jangan  ini kita sedang diuji kejujuran kita, mungkin harus dikembalikan.” Akhirnya 2 jam saya kembalikan. Proses pengembalian juga tidak mudah. Pertama, kita tidak bisa menjelaskan dengan bahasa Arab, sedang penjaga toko tidak bisa bahasa Inggris. Kedua, tidak ada bon pembeliannya. Yang sudah pernah ke Arab tentu sependapat dengan saya bahwa pedagang-pedagang Arab masih sangat primitif. Walaupun toko-tokonuya semewah mal Pondok Indah tapi nggak pernah pakai bon atau cash register.

Pengalaman kedua terjadi di Jeddah,  setelah selesai menjalankan seluruh ritual haji,  tinggal menunggu kepulangan ke tanah air. Didekat hotel banyak terdapat pertokoan, sehingga kami manfaatkan waktu yang tersisa untuk jalan-jalan dan belanja lagi. Istri saya ingin membeli bahan baju untuk oleh-oleh teman-teman di kantor. Karena uang riyal sudah habis maka saya bayar belanjaan saya dengan dollar. Penjual segera mengeluarkan kalkulator, menghitung berapa yang harus saya bayar dan berapa kembaliannya. Saya terima kembaliannya dalam riyal dan tidak saya hitung lagi. Sampai di hotel terjadi lagi peristiwa yang sama. Ternyata kembaliannya banyak sekali, hampir sama denga harga bahan yang saya beli. Sama ketika membeli jam diatas, kami juga takut jangan-jangan ini Tuhan sedang menguji kejujuran kita.  Akhirnya kelebihan pengembalian saya kembalikan lagi ke toko.

Pengalaman ketiga terjadi di terminal King Abdul Azis, ketika menunggu boarding untuk pulang ke tanah air.  Karena waktu boarding masih lama, saya jalan-jalan di pertokoan, barangkali masih ada barang yang bisa dibeli. Ketika melewati toko mainan,  saya tertarik untuk membelikan oleh-oleh untuk anak saya yang berumur 5 tahun. Peristiwa yang sama terulang lagi. Saya bayar dengan dollar, kasir menghitung dengan kalkulator, menghitung kembaliannya, setelah diluar toko terjadi lagi kelebihan pengembalian. Namun kali ini saya berfikir. Masak sih saya diuji terus? Karena merasa sudah selesai ibadah haji saya dan sudah mau pulang, saya tidak takut lagi dengan cerita-cerita mitos tentang malaikat dan ujian. Kelebihan pengembalian saya kantongi, saya terus pulang ke tanah air, dan alhamdullilah tidak terjadi apa-apa.

Mangan Ora Mangan Waton Kumpul dan Koreksi atas Teori Motivasi Maslow.

Ditulis Oktober 28, 2012 oleh Roes Haryanto
Kategori: Manajemen

Tags: , , , ,

Orang Jawa terkenal dengan falsafah hidup “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Artinya, lebih baik hidup susah di desa atau di kampung daripada harus berpisah dengan keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mencari makan ditempat lain. Itu dulu. Sekarang orang Jawa sudah merantau kemana-mana. Dari Sabang sampai Merauke bisa ditemukan orang Jawa. Merantau untuk mencari makanm adalah untuk memenuhi kebutuhan yang paking dasar manusia, yaitu pangan, sandang dan papan. Karena manusia bukan mahluk soliter, tetapi zoon politicon (mahluk sosial), maka manusia juga mempunyai kebutuhan untuk berkumpul dengan orang lain , bersosialisasi dan menjadi bagian dari satu kelompok. Jadi, sebetulnya apa yang dipenuhi manusia dengan bekerja ?

Abraham Maslow dalam papernya “A Theory of Human Motivation” (1943) menjelaskan tentang hierarki 5 kebutuhan manusia. Menurut Maslow manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan :

phisiologis, kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kebutuhan biologis

keamanan, kebutuhan akan keselamatan phisik maupun psikologis

sosial, kebutuhan untuk berkumpul, bergaul dengan orang lain dan diterima sebagai anggota kelompok.

self-esteem, kebutuhan akan pengakuan bahwa peranannya atau kehadirannya diperlukan oleh kelompok

aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengekpresikan serta mengembangkan bakat dan aspirasinya didalam lingkungannya.

Disebut hirearki karena pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dimulai dari kebutuhan yang paling dasar, yaitu kebutuhan phisologis, kemudian meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi seperti keamanan, sosial dan seterusnya sampai ke kebutuhan yang paling tinggi, aktualisasi diri. Jadi menurut Maslow, imbalan materi bagi orang yang bekerja adalah segala-galanya, karena dengan dengan materi tsb orang dapat memenugi kebutuhan yang paling dasar, yaitu kebutuhan phisiologis. Teori Maslow ini bertahan cukup lama dan dianggap sebagai dasar pengembangan teori-teori motivasi selanjutnya.

Didalam perkembangannya teori motivasi Maslow dikoreksi oleh Calyton Alderfer (1969) dengan ERG Theory. Pertama Alderfer mengemukan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai 3 kebutuhan pokok :

Existence, untuk bisa tetap eksis manusia harus dapat memenuhi kebutuhan phisiologisnya dan keamananya.

Relatedness, kebutuhan untuk berinterkasi dan bersosialisasi dengan orang lain .

Growth, kebutuhan untuk mengembangkan dirinya. Pengakuan atau self-esteem dan kesempatan untuk dapat mengaktualisaikan dirinya membuat manusia berkembang.

Sepintas lalu ERG Theory hanya sekedar mengelompokkan 5 kebutuhan menurut Maslow menjadi hanya 3 kebutuhan. Lantas dimana perbedaannya? Menurut Alderfer, berdasarkan bukti empiris ternyata manusia didalam memenuhi kebutuhannya tidak selalu mengikuti urutan hirearkis sesuai piramida Maslow. Untuk masyarakat tertentu kebutuhan sosialnya mungkin lebih menonjol dari kebutuhan phisiologisnya. Orang Jawa termasuk kelompok etnis yang sangat kuat ikatan hubungan kerabatnya. Mereka tidak mudah pindah kerja ke tempat lain, walaupun dengan gaji yang lebih besar, kalau  dilingkungan baru tidak banyak orang Jawanya.

Di komplek saya asisten rumah tangga(ART) sebagian besar datang dari Lampung. Bukan orang Lampung asli, tetapi keturunan transmigran asal Jawa. Mereka tidak mudah tergoda untuk pindah ke komplek lain kalau ditempat baru tidak ada komunitas Lampungnya. Walaupun falsafah mangan oran mangan waton kumpul sudah banyak ditinggalkan, namun demikian kebutuhan untuk “kumpul” pada orang Jawa masih kuat. Mereka memang sudah menjadi bangsa perantau, namun kalau bisa tetap ingin mencari tempat yang banyak komunitas Jawanya.

Berbeda dengan orang Padang, Bugis  atau Batak, mungkin falsafahnya lain. Mereka bersedia merantau kemana saja, tidak perduli apakah ditempat baru terdapat masyarakat yang satu etnis atau tidak, sepanjang ditempat baru menjanjikan rejeki. Jadi bagi orang mereka-mereka ini yang lebih tepat ungkapannya adalah : “kumpul ora kumpul waton mangan”. (meninggalkan kerabat atau keluarga tidak apa-apa asal bisa cari makan)

Beberap tahun yang lalu, tahun 90-an, pernah terjadi konflik antar etnis antar suku Madura dengan suku Dayak di Sampit, Kalimantan Tengah. Isunya masalah kecemburuan sosial. Orang Madura banyak yang berhasil dan menguasai roda perekonomian di Sampit. Ketika terjadi konflik orang Madura merasa keselamatan jiwanya terancam sehingga seluruh orang Madura meninggalkan Sampit pulang ke kampung halaman. Disini kebutuhan akan keamanan sangat menonjol atau merupakan prioritas. Walaupun secara ekonomi (kebutuhan phisiologis) daerah Sampit sangat menjanjikan tetapi mereka lebih memilih meninggalkan Sampit dalam rangka memenuhi kebutuhan keamanannya. Saya kurang tahu situasinya sekarang.

Di Solo terdapat kelompok wayang orang Sriwedari yang setiap malam menggelar pertunjukkan. Para pemainnya digaji sangat rendah (Rp10,000 – Rp20,000 sekali tampil) karena semakin kurangnya minat masayarakat menonton wayang orang. Mereka ini seniman wayang yang tetap rajin dan setia tampil karena dengan bermain wayang orang mereka bisa meng-aktualisasikan dirinya dibidang seni wayang. Menurut Maslow tidak mungkin ada orang mau mengambil pekerjaan dengan upah serendah itu. Karena imbalan materi tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, banyak yang bekerja sampingan sebagai tukang ojek atau menarik becak. Jadi jangan heran kalau di siang hari penarik becak yang anda tumpangi, dimalam hari dia akan memerankan seorang raja yang gagah dan dihormati.

Banyak orang yang bersedia bekerja tanpa imbalan seperti menjadi pengurus yayasan sosial, organisasi kemasyarakatan , klub-klub olah raga. Dengan berkecimpung dibidang-bidang ini kebutuhan akan self-esteem terpenuhi. Mereka dihargai, terkenal , dileu-elukan masyarakat. Banyak tenaga eksekutif yang tidak mudah tergoda untuk pindah kerja karena tidak yakin apakah di tempat yang baru self estem-nya dan kesempatan untuk mengaktualisasi dirinya terpenuhi, walupun dijanjikan gaji yang menggiurkan. Teman saya setelah pensiun dari BRI sempat bekerja sebagai direktur utama di salah satu bank swasta. Dia hanya bertahan 6 bulan  karena hanya dipasang sebagai pajanghan saja. Wewenangnya sebagai dirut banyak dipangkas, keputusan-keputusan penting banyak diambil alih oleh pemilik bank. Disini walaupun imbalan gajinya besar tetapi kebutuhan self-estem tidak terpenuhi.