Posted tagged ‘ibadah haji’

Beli 3 Kok Dikasih 5 (Pengalaman Ibadah Haji)

Oktober 28, 2012

Tidak terasa sudah datang musim haji lagi. Setiap melihat liputan TV tentang keberangkatan jemaah haji selalu terbesit  keinginan untuk menunaikan ibadah haji lagi. Naik haji adalah perjalanan yang luar biasa dan penuh pengalaman yang tidak  mudah terlupakan. Banyak cerita-cerita  yang menarik, aneh-aneh, bahkan ada  yang kedengarannya tidak masuk akal, dari orang-orang yang pulang haji. Banyak pula berkembang mitos kalau pengalaman haji itu merupakan cerminan dari  perbuatan jemaah sewaktu di tanah air. Jadi, kalau sewaktu ditanah air suka marah-marah sama orang, maka nanti di tanah suci ganti sering dimarahin orang.  Ada juga yang memberi nasehat, kalau ada orang yang minta-minta jangan ditolak, siapa tahu itu malaikat yang menyamar. Benar tidaknya walahualam.  Biasanya cerita-cerita semacam ini kita terima apa adanya,  kita tidak pernah mempertanyakan lebih lanjut.

Saya menunaikan ibadah haji bersama istri tahun 1994, dengan Biro Perjalanan Tiga Utama,  ikut kelompok Surabaya. Selama perjalanan lancar-lancar saja , tidak ada hal-hal luar biasa yang menghambat pelaksanaan ritual haji sejak dari keberangkatan sampai kepulangan. Di kelompok saya terdapat sepasang suami istri yang membawa pembantunya naik haji .  Sepintas lalu nampak sangat mulia perbuatan kedua orang ini. Namun dibalik ini nampaknya ada maksud tersembunyi, yaitu supaya ada orang yang selalu melayani kebutuhannya selama melaksanakan ibadah haji. Apa yang terjadi? Begitu sampai di Mekah sang pembantu langsung sakit dan lebih banyak tinggal di kamar hotel. Alhasil,  kedua suami istri ini yang terbalik harus melayani sang pembantu selama perjalanan haji. Ada juga seorang bapak di rombongan kami yang sejak awal sudah mengeluh. “Pak Roes, kayanya saya nggak kuat nanti melempar jumrah.”, katanya. Benar juga, sesampai di Mekkah dan Medinah di lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar hotel karena sakit. Untuk ritual melempar jumrah dia harus menyuruh orang lain, dengan membayar dam. Bukan main.

Apa yang saya alami sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu aneh. Mungkin hanya kebetulan, tetapi karena agak sering, saya jadi bertanya: “Ini kebetulan apa bukan yaa.?”  Ketika di Mekah, disela-sela waktu longgar kami sering jalan-jalan di pasar seng atau pertokoan untuk cari oleh-oleh. Suatu hari saya mampir ke toko jam bermaksud membeli jam untuk oleh-oleh anak-anak. Setelah  memilih sana-sini dan tawar-menawar akhirnya kami sepakat membeli tiga buah jam.  Setelah jam-jam dibungkus dan saya bayar,  saya langsung pulang ke hotel. Di kamar, betapa terkejutnya ketika bungkusan dibuka saya dapati 5 buah jam, bulannya 3. Karena dihantui cerita-cerita mitos diatas, saya langsung berreaksi kepada istri saya: “Mah,  jangan-jangan  ini kita sedang diuji kejujuran kita, mungkin harus dikembalikan.” Akhirnya 2 jam saya kembalikan. Proses pengembalian juga tidak mudah. Pertama, kita tidak bisa menjelaskan dengan bahasa Arab, sedang penjaga toko tidak bisa bahasa Inggris. Kedua, tidak ada bon pembeliannya. Yang sudah pernah ke Arab tentu sependapat dengan saya bahwa pedagang-pedagang Arab masih sangat primitif. Walaupun toko-tokonuya semewah mal Pondok Indah tapi nggak pernah pakai bon atau cash register.

Pengalaman kedua terjadi di Jeddah,  setelah selesai menjalankan seluruh ritual haji,  tinggal menunggu kepulangan ke tanah air. Didekat hotel banyak terdapat pertokoan, sehingga kami manfaatkan waktu yang tersisa untuk jalan-jalan dan belanja lagi. Istri saya ingin membeli bahan baju untuk oleh-oleh teman-teman di kantor. Karena uang riyal sudah habis maka saya bayar belanjaan saya dengan dollar. Penjual segera mengeluarkan kalkulator, menghitung berapa yang harus saya bayar dan berapa kembaliannya. Saya terima kembaliannya dalam riyal dan tidak saya hitung lagi. Sampai di hotel terjadi lagi peristiwa yang sama. Ternyata kembaliannya banyak sekali, hampir sama denga harga bahan yang saya beli. Sama ketika membeli jam diatas, kami juga takut jangan-jangan ini Tuhan sedang menguji kejujuran kita.  Akhirnya kelebihan pengembalian saya kembalikan lagi ke toko.

Pengalaman ketiga terjadi di terminal King Abdul Azis, ketika menunggu boarding untuk pulang ke tanah air.  Karena waktu boarding masih lama, saya jalan-jalan di pertokoan, barangkali masih ada barang yang bisa dibeli. Ketika melewati toko mainan,  saya tertarik untuk membelikan oleh-oleh untuk anak saya yang berumur 5 tahun. Peristiwa yang sama terulang lagi. Saya bayar dengan dollar, kasir menghitung dengan kalkulator, menghitung kembaliannya, setelah diluar toko terjadi lagi kelebihan pengembalian. Namun kali ini saya berfikir. Masak sih saya diuji terus? Karena merasa sudah selesai ibadah haji saya dan sudah mau pulang, saya tidak takut lagi dengan cerita-cerita mitos tentang malaikat dan ujian. Kelebihan pengembalian saya kantongi, saya terus pulang ke tanah air, dan alhamdullilah tidak terjadi apa-apa.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.