Puasa yang khusuk

Posted September 11, 2008 by Papah Doni
Categories: Renungan

quran bismillah

Perintah untuk menjalankan puasa terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 :

Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la allakum tataquun”

“ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.”

Dalam bulan Ramadhan ini sebagian besar rakyat Indonesia menjalankan ibadah puasa. Ada bermacam-macam motivasi orang beribadah. Umumnya kita berpuasa karena kita menyadari bahwa itu sebagai suatu kewajiban, seperti kewajiban sholat, zakat, atau haji. Tetapi ada juga orang yang melaksanakannya karena terpaksa. Kita ambil contoh sholat. Ada orang yang sholat karena terpaksa. Mengaku sebagai orang Musllim malu kalau tidak sholat. Jadi dia hanya sholat pada hari Jum’at saja atau kalau pas Lebaran, sholat Ied. Pada hari-hari lain dia tidak sholat, toh tidak ada yang tahu. Atau, ada yang sholat kalau lagi dirumah mertua karena takut sama mertua. Atau, anak-anak yang dipaksa sholat. Ada juga yang naik Haji karena malu, teman-teman sekantor, saudara-saudara sudah naik Haji semua. Ibadah yang dilakukan karena terpaksa pasti dirasakan berat sedkali, merupakan beban dan dijamin tidak khusuk.
Ada sebagian orang lain yang beribadah karena memang menyadari itu sebagai kewajiban, sebagaimana yang disyaratkan dalam rukun Islam. Karena sudah menyadari sebagai kewajiban maka rasanya enteng-enteng saja dalam melaksanakannya. Kalau lupa atau tidak sempat sholat ada rasa berdosa.
Namun sebetulnya yang lebih baik seharusnya kita menjalankan ibadah karena sudah merupakan suatu kebutuhan rohani. Bagi kelompok ini, melaksanakan sholat dirasakan sebagai sesuatu kegiatan yang dapat memberikan kenikmatan, kedamaian dan ketentraman jiwa. Ada sesuatu yang terasa kurang kalau waktu sholat tiba tapi kita tertunda-tunda melakukannya. Seperti orang yang biasa minum kopi tiap pagi, tapi sampai siang belum minum juga. Untuk orang-orang semacam ini, kalau sampai ketiduran padahal belum sempat sholat I’sa maka pada tengah malam serasa ada yang membangunkan untuk sholat I’sa. Ada yang pulang naik Haji kapok, tidak mau kesana lagi. Ini karena hajinya dijalankan dengan rasa terpaksa, jadi terasa berat. Sebaliknya ada yang setiap musim Haji selalu ingin lagi berangkat ke tanah suci, walaupun sudah naik haji berkali-kali

Puasa karena terpaksa
Begitu pula dalam ibadah puasa. Banyak yang berpuasa karena terpaksa. Sama seperti sholat, mengaku KTP-nya Islam kok nggak puasa, malu dong. Apalagi orang-orang dirumah, dikomplek, dan dikantor puasa semua. Bagaimana ciri-cirinya orang yang berpuasa karena terpaksa? Memang kita tidak boleh su’udon, hanya Allah Swt. yang mengetahui niat seseorang didalam menjalankan ibadah. Namun dari cara seseorang menyikapi datangnya bulan Ramadhan dapat sedikit terdekteksi. Orang-orang type ini sangat sedih kalau Ramadhan tiba, dan senang sekali kalau Lebaran sudah semakin dekat. Sehari menjelang puasa bisasanya akan pesta, makan-makan sepuasnya, seolah-olah esok hari the end of the world dimana tidak akan ada makanan sama sekali. Jam-jam menunggu datangnya bedug Maghrib diisi dengan membayangkan apa yang akan dimakan nanti. Bahkan sejak jam 2 siang sudah mulai mengumpulkan makanan yang akan digunakan untuk berbuka. Begitu terdengar adzan Maghrib langsung menyerbu meja makan, semuanya dilahap habis, balas dendam karena merasa telah kelaparan seharian.
Di Indonesia nampaknya yang banyak kelompok ini. Ini terbukti dalam bulan Ramadhan pengeluaran untuk bahan makanan meningkat drastis. Harga-harga kebutuhan pokok dan makanan melambung tinggi, angka inflasi naik. Secara teori seharusnya konsumsi makanan berkurang karena kita seharian mengurangi makan. Yang terjadi justru sebailknya, konsumsi makanan meningkat baik dari segi kuantitas maupun jenisnya. Makanan-makanan yang dibulan-bulan lain sulit dijumpai, dibulan puasa ini ada semua.
Ungkapan “Marhaban ya Ramadhan” hanya berlaku untuk orang-orang yang merindukan datangnya bulan Ramadhan. Orang-orang beriman yang menunggu-nunggu datangnya bulan suci ini, dan menangis ketika akan ditinggalkan Ramadhan.

Agar lebih khusuk puasanya
Beberapa tahun terakhir ini saya hampir tidak pernah memenuhi undangan berbuka puasa. Saya takut tidak bisa khusuk lagi dalam menjalankan ibadah puasa. Undangan berbuka puasa, khususnya kalau kantor yang menyelenggarakan, selalu dipenuhi berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Ketika menunggu buka saya tidak bisa mencegah pikiran saya untuk tidak memikirkan makanan yang lezat-lezat tersebut. Bahkan sejak berangkat dari rumahpun yang kebayang hanya makanan saja.
Dirumah saya juga tidak pernah minta dimasakkan menu khusus untuk buka. Tidak ada perubahan menu, atau tambahan snack selama bulan Ramadhan. Apapun yang dimasakkan istri saya, saya makan dengan senang dan ikhlas. Apakah rasanya terlalu asin, kemanisan, atau terlalu asem, tidak pernah saya menegornya. Khiusus dibulan suci ini saya tidak ingin ibadah saya terganggu hanya karena soal makanan. Walaupun perut tersa lapar, tenggorokan terasa haus, saya berusaha untuk tidak memikirkan makanan sama sekali. Saya merasa dengan cara ini saya dapat lebih khusuk dalam menjalankan ibadah puasa.

Perkawinan yang kekal

Posted September 7, 2008 by Papah Doni
Categories: Sketsa

Perkawinan merupakan ikatan antara dua individu, laki dan perempuan, untuk hidup bersama dibawah satu atap dalam waktu yang lama. Perikatan ini diharapkan dapat berlangsung langgeng dan kekal, bahkan sampai akhir hayat. Di perkawinan Jawa, harapannya selalu agar tiap pasangan sampai kaken-kaken lan ninen-ninen (kakek-kekek dan nenek-nenek) kaya mimi lan mintuna. Mimi dan mintuna adalah binatang laut yang kemana-mana selalu kelihatan berdua dengan pasangannya. Dari segi psikologi, harapan untuk bisa hidup bersama secara harmonis dalam waktu yang panjang nampaknya sulit dilakukan, karena kedua individu ini datang dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan yang ada antara masing-masing individu bisa sangat ekstrem dan luas. Mulai dari perbedaan latar belakang keluarga, sosial, suku, agama, antar bangsa dls. Keluarga pendidik bertemu dengan keluarga pedagang, anak ulama kawin dengan anak polisi, atau anak pejabat ketemu dengan artis sinetron, anggota DPR kawin dengan penyanyi.
Walaupun mereka mungkin masih berasal dari satu bangsa, tapi masing-masing membawa nilai-nilai, tatanan, adat-istiadat dan kebiasaan keluarga yang berbeda. Orang Sunda ketemu orang Jawa, orang Solo yang serba halus dipersunting orang Batak, orang Bali kawin dengan orang Padang. Belum lagi perkawinan dari pasangan yang berbeda agama, atau beda bangsa.
Jadi dari kacamata psikologi, yang lebih wajar sebetulnya ikatan perkawinan ini akan putus ditengah jalan, karena adanya berbagai perbedaan diatas. Satistisk perceraian di Amerika menunjukkan bahwa pasangan yang usia perkawinannya bisa mencapai tahun ke 5, 10, dan 15 masing-masing adalah: 82%, 65% dan 52%. Artinya, satu dari setiap lima perkawinan berakhir dengan perceraian sebelum melewati tahun ke lima. Kemudian satu dari setiap tiga perkawinan bisa mencapai tahun ke 10, dan hanya satu dari dua perkawinan yang dapat sampai berusia 15 tahun. Di Indonesia belum ada angka-angkanya, namun nampaknya tren-nya semakin meningkat, khususnya dikalangan artis atau pasangan yang bekerja (working couples).
Menurut Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Nazarudin Umar, Indonesia berada diperingkat tertinggi yang memiliki angka perceraian paling banyak dalam setiap tahunnya, dibandingkan negara Islam didunia lainnya. Tulisan singkat ini berusaha membahas: Apa yang dapat membuat suatu perkawina berlangsung lama, langgeng dan tetap harmonis?

Pertunangan: perlu atau tidak?
Ada silang pendapat mengenai perlu atau tidaknya pertunangan. “Tunangan itu perlu. Buat penjajakan sebelum nikah. Kalo nggak cocok ya putus saja. Lebih mudah putus tunangan daripada cerai setelah menikah,” kata seorang wanita. “Nggak usah pakai tunangan. Biar kata udah nikah, ada anak segala, kalo emang udah nggak bisa diselamatkan ya divorce,” kata wanita lainnya lagi. “Mau pakai engagement atau langsung married, masalahnya ada nggak niat untuk me-manage hubungan? Masa sih nikah buat bercerai? Lantas buat apa kita pacaran serius?” wanita lainnya menimpali.
Sebelum memasuki gerbang perkawinan, umumnya prosesnya adalah perkenalan, saling tertarik, pacaran dan dilanjutkan ke pertunangan. Masa pertunangan sebetulnya dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua belah fihak untuk saling mengenal pribadi masing-masing dan menyesuaikan atau memperkecil (fine-tuning) perbedaan-perbedaan yang ada diantara mereka. Bahkan di negara-negara Barat yang nilai-nilai moralnya sangat longgar, pada masa pertunangan kedua pasangan sudah hidup bersama satu rumah, sebagaimana layaknya suami istri. Kalau demikian tujuan petunangan, maka logikanya semakin lama masa pertunangan tentunya akan semakin berhasil suatu perkawinan. Gejolak dan kejutan-kejutan yang muncul sebagai akibat perbedaan nilai, kebiasaan, kepribadian, diharapkan sudah tidak ada lagi. Nampaknya tidak selalu demikian.
Dalam masa pertunangan, walaupun kedua belah fihak telah berusaha untuk saling terbuka, namun tetap ada sisi-sisi pribadinya yang tidak seluruhnya terungkap kepada pasangannya. Menurut teori Joharry window, tidak semua jendela pribadi kita dapat dilihat oleh pasangan kita. Masing-masing berusaha menyenangkan pasangannya dengan menutupi kekurangannya. Kalau ceweknya penggemar berat lagu dangdut, padahal cowoknya tidak suka, maka si cowok masih berpura-pura menyenangi lagu dangdut. Kalau cowoknya suka makan pete, padahal ceweknya paling nggak tahan bau pete, maka si cewek masih berpura-pura bilang “ah nggak apa-apa”. Dalam masa pertunangan semua yang dilakukan pasangannya tampak indah. Lagu yang selalu dinyanyikan adalah “disini senang disana senang”.
Jadi walaupun pertunangan memang diperlukan untuk saling menyesuaikan diri, namun lamanya masa pertungan tidak menjamin langgengnya suatu perkawinan. Setelah memasuki dunia perkawinan perbedaan-perbedaan yang selama ini tidak kelihatan, muncul semua. Kepribadian aslinya keluar semua. Lagunya akan berubah menjadi : “Buah semangka berdaun sirih, aku begini engkau begitu.”

Apa peran cinta?
Untuk generasi kita, umumnya perkawinan dilandasi oleh cinta. Ada juga beberapa kasus dimana perkawnan tidak didasari cinta, misalnya karena dijodohkan, atau terpaksa karena sudah terlanjur tua daripada tidak kawin. Pertanyaannya: Perlukah cinta dalam menjalin hubungan suami istri dan membina rumah tangga ? Jawaban yang diterima biasanya adalah “perlu, bahkan mutlak!”. Tetapi sebagian antropolog berpendapat “penelitian terhadap sekian banyak masyarakat primitive membuktikan masyarakat tersebut tidak mengenal apa yang kita namakan cinta”. Tidak usah jauh-jauh, orang-orang tua kita dari generasi sebelum tahun 50-an banyak yang perkawinannya dijodohkan, jadi tanpa melalui proses cinta. Perkawinan ini langgeng, jarang sekali ada perceraian terjadi di perkawinan-perkawinan lama. Barangkali falsafahnya : lebih baik mencintai orang yang dinikahi daripada menikahi orang yang kita cintai.”
Dikelompok etnis tertentu, seperti warga keturunan Arab, perkawinan diusahakan terjadi didalam kelompoknya. Laki-laki Arab masih bisa kawin dengan perempuan non-Arab, tetapi untuk perempuannya harus kawin dengan sesama Arab. Jadi, disini tidak ada kebebasan untuk memilih jodohnya atas dasar cinta.
Apakah perkawinan yang dilandasai cinta lebih awet dibanding dengan perkawinan tanpa cinta? Belum ada penelitiannya. Mungkin ya, tetapi sekali lagi, cinta saja tidak menjamin langgengnya suatu perkawinan. Dari pasangan-pasangan yang berakhir dengan perceraian, sering terdengar ungkapan: “sebetulnya saya masih cinta, tapi nampaknya perbedaan diantara kita sudah tidak dapat dikompromikan lagi”. Jadi, cinta yang begitu kuat dan mendalam tidak bisa menghilangkan adanya perbedaan.

Daya tarik fisik.
Tidak bisa dipungkiri bahwa cinta diawali dengan ketertarikan fisik. Semua orang senang melihat dan memiliki sesautu yang indah dan cantik. Setiap orang ingin mempunyai istri/suami yang cantik/cakap, walaupun kecantikan itu relatif untuk masing-masing orang. Pepatah mengatakan “beauty is in the eyes of the beholder”, atau kecantikan itu tergantung dari siapa yang melihatnya. Salah satu kebutuhan dasar wanita adalah ingin tampil cantik. Wanita, dalam situasi apapun, ingin selalu tampak cantik dan menarik. Segala macam cara tersedia untuk membuat wanita tampil cantik. Mulai dari bedah plastik, vermaak hidung, sedot lemak, pasang susuk semuanya ada, asal kuat bayarnya. Di Amerika pernah ada suatu penelitian, pada masa resesi ekonomi salah satu industri yang tidak terpengaruh adalah industri kosmestik. Artinya, walaupun dalam keadaan ekonomi sulit wanita berusaha untuk tetap tampil menarik.
Wanita juga ingin kelihatan cantik dimata suaminya. Tentu harapannya agar suami tetap sayang, betah dirumah dan tidak melirik wanita lain. Memang ada benarnya. Suami mana yang betah dirumah kalau setiap hari lihat istrinya awut-awutan, nggak menjaga badannya, nggak pernah dandan. Tetapi kecantikan saja tidak menjamin sang suami tetap setia dengan satu istri. Banyak suami-suami yang istrinya cantik-cantik tetap saja selingkuh. Ada ibu-ibu yang tiap tahun operasi plastik suapaya tetap cantik, masih saja ditinggal suaminya pacaran. Tamara Brezenky, Sofia Lajuba, Dewi Sandara, Halimah, kurang apa cantiknya. Toh perkawinannya juga kandas ditengah jalan. Mungkin diperlukan lebih dari sekedar kecantikan fisik untuk mempertahankan langgengnya perkawinan. Istilahnya sekarang “inner beauty” atau kecantikan yang memancar dari dalam.

Bagaimana dengan anak-anak?
Kehadiran anak sangat diantikan oleh semua pasangan. Saya kira ini sangat universal dan manusiawi, walaupun di negara-negara Barat ada juga aliran yang mau kawin tapi tidak mau punya anak. Suami istri mulai gelisah dan cemas, (termasuk kedua orang tua) setelah perkawinan berlangsung empat atau lima tahun tetapi belum juga dikarunia anak. Banyak pasangan yang harus bercerai dengan alasan tidak punya anak. Suami kawin lagi karena ingin punya keturunan. Biasanya yang selalu disalahkan fihak wanita, yang dianggap tidak bisa memberi keturunan. Sebetulnya kalau yang diinginkan adanya kehadiran anak-anak, masih ada jalan keluarnya. Misalnya dengan mengambil anak angkat.
Lantas, kalau sudah punya anak banyak tentunya tidak akan bercerai, kalau anak merupakan salah satu tujuan perkawinan. Banyak perceraian tetap saja terjadi walaupun sudah dikaruniai anak banyak. Memang faktor adanya anak menjadi salah satu pertimbangan yang paling berat sebelum memutuskan untuk bercerai. Tetapi adanya anak-anak tidak menjamin bahwa perceraian tidak akan terjadi. Adanya anak tidak menghilangkan perbedaan yang ada diantara suami istri.

Sumber konflik
Adanya perbedaan-perbedaan diatas apabila tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber konflik dan dapat memicu perselisihan antar suami istri. Ketidaksepahaman dapat terjadi untuk masalah-masalah :

  1. Masalah keuangan, termasuk cara memperoleh dan membelanjakan penghasilan keluarga.
  2. Lingkungan pergaulan dan pertemanan suami atau istri. Suami yang dididik dengan aturan moral dan agama yang ketat, tidak bisa menerima pergaulan istri yang terlalu bebas diluar.
  3. Pendidikan anak-anak, misalnya dalam pemilihan sekolah ataupun cara medisiplinkan anak-anak.
  4. Persoalan hubungan dengan keluarga besar istri atau suami, seperti mertua yang terlalu ikut campur, saudara-saudara atau ipar yang terlalu sering minta bantuan dls.
  5. Persoalan pemilihan kegiatan rekreatif, minat terhadap kegiatan diluar rumah antar suami dan istri.
  6. Persoalan pembagian tigas domestik dan non-domestik antar pasangan.
  7. Aktivitas tertentu atau hobi dari salah satu pasangan yang tidak disukai oleh suami/istri. (minuman keras, judi, narkoba)

Sumber-sumber konflik diatas kalau tidak dapat dikelola dengan baik akan menjadi awal dari pecahnya suatu perkawinan.

Mengelola perbedaan
Jadi, dapat disimpulkan masa pertunangan, rasa cinta yang mendalam, daya tarik fidik, dan kehadiran anak-anak tidak akan menghilangkan adanya perbedaan antar pasangan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dikelola dengan seksama. Perbedaan itu indah karena membentuk berbagai corak dan warna dalam suatu sinergi yang serasi. Cara mengelola perbedaan ialah dengan mencoba menghargai dan memahami cara berfikit fihak lain. Kita harus sadar bahwa istri atau suami adalah orang lain, dan akan tetap menjadi orang lain sampai kapanpun. Dalam berkomunikasi kita harus selalu mencoba menempatkan diri kita sebagai istri/suami kita untuk memahami mengapa dia berpendapat demikian atau mengambil tindakan tersebut. (put on someone else’s shoes) Komunikasi harus dilandasi kesetaraan, kejujuran, saling percaya dan menganggap istri/suami kita sebagai bagian dari team work. Dengan berjalannya perkawinan, diantara kedua belah fihak akan timbul rasa saling toleransi dan menghargai. Kunci dari kekalnya perkawinan adalah saling toleransi, saling menghargai dan memahami satu sama lain.

Cita-cita

Posted Juli 27, 2008 by Papah Doni
Categories: Sketsa

Sejak kecil anak-anak sudah sering ditanya :”Nanti kalau sudah besar mau jadi apa.”. Sebenarnya yang ingin ditanyakan apa cita-citanya nanti. Cita-cita seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan terdekatnya, seperti apa yang dikerjakan orang tua, ayah atau ibunya, sangat mempengaruhi pilihan cita-cita mereka. Yang ayahnya dokter akan cenderung memilih dokter sebagai cita-cita, begitu pula yang ayahnya polisi nanti kalau sudah besar ingin jadi polisi. Lingkungan terdekat kedua adalah sekolahan. Setelah anak mulai masuk sekolah, hampir sepertiga waktunya dihabiskan di sekolah. Tambahan pengetahuan dari guru tentang berbagi-bagai jenis profesi akan membentuk idealisme cita-cita anak-anak.

Ayah saya dulu seorang tentara, tetapi bukan bagian perang. Waktu revolusi memimpin pabrik karet yang disulap menjadi bengkel persenjataan di daerah Batujamus, Karangpandan, Surakarta, dengan tugas memperbaiki senjata dan menyiapkan amunisi untuk para pejuang. Sesudah penyerahan kedaulatan ditugaskan untuk menjadi komandan Dinas Tehnik Tentara (DTT), atau kalau sekarang namanya Peralatan Angkatan Darat (PALAD), di Solo. Sejak kecil saya dan kakak-kakak saya nampaknya tidak begitu tertarik untuk menjadi tentara. Mungkin karena tidak pernah mendengar cerita-cerita pengalaman heroik dari ayah saya. Sedang cerita-cerita masalah tehnik pabrik senjata agak sulit untuk dicerna anak-anak. Jadi kalau ditanya, saya dan kakak-kakak, tidak pernah bilang ingin jadi tentara.

Ayah saya tukang radio

Ayah saya adalah seorang tehnisi komplit, hasil pendidikan jaman Belanda dulu. Mulai dari mekanik (mobil, alat-alat listrik dan mesin-mesin besar), elektronik (radio dan alat-alat komunikasi) sampai ke presisi seperti jam dan alat-alat ukur lainnya, bisa semua.. Berkat keahliannya ini, dijaman Belanda ayah bekerja sebagai tehnisi di pelabuhan dengan gaji disamakan dengan gaji seorang tehnisi Belanda. Ayah saya sering bernostalgia betapa enaknya hidup di jaman kolonial dulu. Namun yang menjadi spesialisasinya adalah elektronik, atau pada waktu itu utamanya radio.

Sehabis pulang kantor, jam 2 siang, ayah bisa berjam-jam menghabiskan waktunya utntuk mengotak-atik radio. Biasanya ayah membeli radio bekas atau amplifier yang rusak, kemudian diperbaiki, lantas kalau ada yang berminat dijual. Bisa untuk menambah penghasilan memang, namun sebenarnya lebih banyak untuk menyalurkan hobinya dibidang elektronik. Karena selalu laku dijual maka di rumah hampir tidak pernah punya radio yang bagus untuk dipajang. Ibu selalu mengeluh, tukang radio kok nggak pernah punya radio.

Di rumah sosok ayah lebih nampak sebagai tukang radio daripada seorang tentara. Sejak awal ayah juga tidak pernah berusaha memperkenalkan dunia elektroniknya kepada anak-anak. Walaupun kalau lagi memperbaiki radio saya sering disuruh-suruh untuk mencari alat-alat ini dan itu, tetap saja dunia keradioan tidak menarik bagi saya. Bukan berarti saya tidak menikmati hasil kerja ayah saya. Berkat radionya yang canggih saya bisa menangkap siaran Radio Hilversum Nederland atau Radio ABC, Australia, mengungguli teman-teman di sekolah.

Guru tokoh idola

Setelah mulai sekolah saya betul-betul kagum dengan profesi guru. Bagi saya guru adalah sosok yang hebat sekali. Bukan saja sebagai pendidik, tetapi juga sebagai teman, bapak dan tempat dimana segala macam pertanyaan bisa diajukan. Salah satu guru saya yang sangat berkesan dalah Bu Narti, guru klas empat. Beliau sering mengisi jam-jam pelajaran terakhir dengan bercerita. Cerita tentang apa saja, pengalaman-pengalamannya, cerita dari buku-buku atau film yang pernah dibaca atau ditontonnya. Namun yang paling berkesan adalah Pak Harno, guru klas enam. Masih muda, mungkin kira-kia usia 20-an, ganteng dan selalu kelihatan necis dengan bajunya yang bagus-bagus. Karena penampilannya, pak Harno bukan hanya menarik sebagai seorang guru, tetapi juga menarik sebagi seorang laki-laki. Saya bisa merasakan anak-anak perempuan di kelas nampaknya pada jatuh hati pada pak Harno. Saya kurang tahu persis pada waktu itu apakah beliau sudah berkeluarga atau masih bujangan.

Guru pada waktu itu memang mempunyai status sosial yang tinggi di masayarakat. Sampai tahun 60-an gaji guru masih relatif tinggi dan lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari. Ukurannya sepeda yang dinaikinya, bukan sepeda motor atau mobil, karena hanya orang yang kaya yang bisa beli motor atau mobil. Rata-rata guru memiliki sepeda-sepeda seperti Raleigh, Humber, Fongers, Gazelle, merk-merk sepeda mahal pada waktu itu. Mungkin kekaguman saya terhadap profesi guru lebih banyak dipengaruhi penampilan fisiknya, yang kelihatannya serba enak dan berkecukupan.

Sampai SMA saya masih bercita-cita ingin jadi guru. Salah satu guru saya yang saya kagumi adalah pak Hartanto, guru bahasa Indonesia. Saya masih ingat ketika di kelas membahas penyair Chairil Anwar dengan sajaknya yang terkenal “Aku”. Beliau begitu bagusnya dan intens dalam memperagakan penyair ini sehingga kita bisa membayangkan seperti apa tokoh yang terkenal kontorversial ini. Begitu pula dengan pak Suwadji, guru Aljabar ayahnya pak Pranowo Suwadji. Beliau ini terkenal galak, keras dan disiplin, namun semuanya dengan obsesi bagaimana supaya anak didiknya menjadi pintar. Lama sekali kekaguman saya kepada bekas guru-guru saya membekas di lubuk hati kami. Guru bukan hanya sekedar digugu dan ditiru, tetapi juga dihormati dan dikagumi.

Kapan ingin menjadi bankir?

Pada waktu saya kuliah, kira-kira awal tahun 60, ketika itu sedang jaya-jayanya perusahaan negara(PN) seperti Panca Niaga, Dharma Niaga, Kerta Niaga. Jamannya jual lisensi, kuota, dan monopoli yang diberikan pemerintah, membuat PN betul-betul berkibar. Saya perhatikan kehidupan pejabatnya kelihatan enak-anak dengan rumah dinas, mobil bagus dan berbagai fasilitas lainnya. Sedang disisi lain, ekonomi semakin memburuk, inflasi tinggi, harga-harga membubung terus dan kehidupan semakin sulit. Profesi pegawai negri dan guru saya lihat sudah tidak menarik lagi. Jadi sekarang saya ganti cita-cita, ingin kerja di PN kalau sudah selesai kuliah nanti.

Sekitar tahun 68 ditempat saya kost mendapat tambahan 2 penghuni baru, mas Hari, pegawai Dinas Metrologi dan mas Akhsan, pegawai BKTN (BRI) Kantor Daerah Semarang. Dengan mas Hari saya tidak terlalu dekat, ya sekedar kenal sesama teman satu kost. Sebaliknya, dengan mas Akhsan saya sangat dekat, sering diajak nonton atau makan direstoran. Dari mas Akhsan inilah berawal ketertarikan saya untuk bekerja di bank. Saya lihat setiap hari kalau berangkat ke kantor dijemput bus, pakaiannya selalu necis, baju putih dengan celana gelap dari bahan yang halus. Tiap Minggu pagi dengan pakaian olah raga putih-putih berangkat main badminton. Suatu ritme kehidupan yang ideal sekali. Saya tidak tahu posisinya apa di bank, tapi nampaknya uangnya cukup banyak. Untuk orang indekost-an, ukuran orang kaya itu sederhana, baju bagus ditambah tiap minggu bisa nonton atau makan di restoran sudah cukup.

Persepsi atas sukses

Begitu lulus dari fakultas ekonomi Undip tahun 1972, saya ikut-ikutan teman-teman yang lain ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Cita-cita untuk kerja di PN atau bank hilang semua. Pokoknya pekerjaan apa saja yang pertama didapat akan saya ambil, supaya bisa survive di Jakarta. Pertama kali saya mendapat pekerjaan sebagai auditor junior di SGV-Utomo, sebuah kantor akuntan patungan Indonesia-Pilipina yang berkantor di jalan Thamrin. Saya hanya bertahan setahun di kantor ini. Saya tidak melihat prospek yang cerah di kantor ini, karena latar belakang pendidikan saya bukan akutansi. Disamping itu sebagai orang yang biasa bertahun-tahun di daerah, hidup di Jakarta ternyata susah juga. Saya masih ingat gaji saya waktu itu Rp30,000. Untuk bayar kamar Rp12,500, sisanya untuk makan dan transport(bus kota), betul-betul kehidupan yang pas-pasan.

Ketika membaca iklan sebuah bank pemerintah (BRI) mencari tenaga untuk dididik menjadi calon pimpinan, maka tanpa menunggu-nunggu lagi saya langsung mendaftar. Bayangan saya dengan bekerja di bank saya akan mempunyai kesempatan menjadi pejabat, punya pangkat, kedudukan dan kehidupan yang enak. Cita-cita, apakah mau menjadi guru, tentara, pegawai PN atau bankir sebetulnya tidak relevan lagi. Yang ada keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tidak perduli profesinya apa. Kalau kebetulan lowongan yang muncul pertama dulu Pertamina, atau Departemen Keuangan, atau Garuda, mungkin saya tidak akan menjadi pejabat di BRI..

Jadi di masyarakat yang disebut sukses itu punya pangkat, jabatan dan kaya. Kalau ada seseorang dengan jabatan tinggi tetapi melarat dianggap bodoh dan gagal. Kalau seseorang ingin jadi polisi, jaksa, hakim, bankir, bupati, atau menteri, sebetulnya tidak selalu untuk memenuhi idealisme sejak kecil, tetapi lebih banyak sebagai sarana untuk mencari sukses dalam pengertian diatas. Ketika pertama diterima bekerja di BRI dulu, gaji saya Rp16.500 sebulan ditambah beras 15 kg, tetapi saya optimis bahwa di BRI saya akan bisa hidup lebih baik. Ketika ada lowongan pegawai negri, ribuan orang melamar, walaupun kita tahu menjadi pegawai negri sipil (PNS) gajinya kecil. Persepsi bahwa PNS hidupnya enak-enak mendorong banyak orang meniti karir sebagai Pegawai negri.

Orang tua dan cita-cita anak-anak.

Seperti orangtua yang lain, tadinya saya juga bercita-cita agar anak-anak menjadi sarjana semua. Ketika Doni, anak saya yang paling besar, lulus SMA, saya dorong untuk meneruskan kuliah. Saya tidak terlalu mengarahkan harus kuliah dimana. Pengalaman kurang menyenangkan berurusan dengan penegak hukum sewaktu bertugas di BRI, membuat saya berharap anak-anak tidak memilih profesi dibidang hukum seperti : jaksa, hakim, pengacara atau polisi. Doni berhasil menyelesaikan Sarjana Tehnik-nya dari Trisakti dan memperoleh MBA dari University of Baltimore, Maryland. Pulang dari Amerika bekerja di Astra-Graphia, sampai sekarang.

Vitry, adiknya yang selisih 5 tahun, sedikit berbeda. Ketika selesai SMA tidak mengatakan ingin kuliah dimana, tetapi ingin bekerja dibidang jurnalisme. Jadi sejak awal memang sudah jelas profesi yang akan dipilihnya nanti. Ketika dia kuliah, obsesinya bukan untuk mencari gelar sarjana, tetapi mencari ilmu dan keahlian dibidang jurnalisme. Sejak SMA memang sudah kelihatan bakatnya dalam event-organizing atau mengelola majalah dinding. Vitry berhasil memperoleh S1 dari University of Oregon dibidang journalism dengan spesialisasi broadcasting. Setelah kembali ke Indonesia sempat bekerja di beberapa advertising agency selama 2 tahun. Sekarang dia mengelola perusahaan sendiri yang bergerak dibidang iklan dan promosi, pembuatan brosur, company profile, annual report dan website.

Saya kurang tahu mewarisi dari siapa, tetapi nampaknya darah seni mengalir ditubuh Didit, anak saya nomer 3. Ketika masih SMP klas 1, di Surabaya, minta dibelikan gitar. Saya masih ingat betapa susahnya, dengan bantuan Handono, oomnya, dia mencoba menguasai ABC-nya chord gitar. Ketika SMA, diluar dugaan saya, bakat musiknya, baik gitar maupun tarik suara, berkembang pesat. Saya coba salurkan dengan membelikan seperangkat alat musik lengkap. Ketika selesai SMA, berbeda dengan kakak-kakaknya, tidak terdengar kata-kata sedikitpun tentang rencananya selepas SMA. Walaupun tidak pernah diutarakan, saya bisa merasakan kalau Didit bercita-cita ingin menjadi pemusik.

Perlu diingat bahwa seniman cenderung berpembawaan santai, seenaknya, acuh, kurang perduli terhadap lingkungannya. Seniman juga kurang senang dengan hal-hal yang serba teratur dan yang bersifat sudah mapan. Ahli psikologi mengatakan seniman lebih kuat otak kanannya, sehingga lebih menyukai situasi yang memberikan dia ruang untuk berkreasi dan berimajinasi. Hal-hal yang sifatnya anlalitis dan memerlukan kemampuan logika kurang disukai.

Berbekal dengan pengetahuan diatas saya tidak akan meminta Didit untuk sekolah yang konvensional, seperti hukum, ekonomi, atau bisnis. Sebagai gantinya saya kirim ke sekolah manajemen perhotelan di Blue Mountain, Australia. Hanya bertahan satu setengah tahun, gagal. Ternyata mengirim anak ke sekolah perhotelan hampir seperti mengirim anak ke akademi militer. Jadwal yang padat, kehidupan asrama dengan disiplin yang keteat,  tugas-tugas yang berat sangatt tidak cocok dengan jiwa anak saya yang seniman.

Kembali dari Australia Didit saya beri kebebasan untuk sekolah kemana. Dia memilih mengambil D3 dibidang desain computer dan multi media, bidang-bidang yang lebih mudah dicerna jiwa senimannya. Namun kali ini lebih bersemangat, karena disamping sekolah juga bisa menyalurkan bakat musiknya. Sekarang dia bekerja sebagai creative designer di perusahaan kakaknya dengan tetap main musik sebagai profesi.

Novi, anak saya yang ke empat, perempuan, adalah anak mamah. Kita terlalu protektif sejak kecil, kemana-mana diantar. Bahkan saya tidak pernah mengijinkan dia pergi-pergi dengan naik kendaraan umum, takut ada apa-apa. Akibatnya dia tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, walaupun kemampuan intelegensianya tinggi. Selepas SMA juga tidak ingin meneruskan kuliah, tetapi memilih sekolah mode.

Selesai sekolah di ESMOD, sekolah mode dari Perancis yang membuka cabang di Indonesia, kemudian melanjutkan mengambil fashion business di LASSALE. Sempat bekerja selama satu tahun di perusahaan garment milik orang India. Tidak tahan, karena jam kerjanya seperti rodi dengan gaji kecil. Sekarang dia bekerja dirumah dengan menerima jahitan. Cukup berhasil, karena banyak menerima pesanan dari ibu-ibu klas atas atau dari kantor-kantor. Namun masih tetap stress berat kalau ada langganan yang mengeluh soal kualitas jahitan.

Pelajaran buat orang tua

Sebagai orang tua sebaiknya kita tidak memilihkan cita-cita untuk anak-anak kita. Biarkan mereka menentukan cita-citanya sendiri. Yang lebih penting mempersiapkan anak-anak dengan memberi bekal nilai-nilai moral yang baik. Nilai-nilia seperti disiplin, kejujuran, amanah dan integritas perlu ditanamkan sejak dini. Pemilihan pendidikan anak-anak juga harus memperhatikan pembawaan, bakat dan karakteristik kejiwaan anak. Jangan terlalu memaksa anak-anak untuk jadi sarjana. Memang bangga punya anak-anak sarjana semua, tetapi apa gunanya punya anak-anak sarjana kalau nganggur semua. Biarkan mereka memilih pendidikan yang sesuai dengan bakatnya dan memudahkan mereka untuk mencapai cita-citanya, walaupun tidak memberi gelar sarjana.

Wisata kuliner Jogya (1)

Posted Juni 23, 2008 by Papah Doni
Categories: Catatan perjalanan

Pendahuluan

Sejak Ari, anak saya yang paling kecil, kuliah di UGM , saya jadi sering ke Jogya. Paling tidak 2 bulan sekali saya ke sana sama nyonya. Disamping untuk menengok anak, juga untuk sejenak ganti suasana , melepaskan diri dari panas, kotor, bising dan macetnya kota Jakarta. Kalau ke Jogya sering bingung mau bawa pakaian apa. Soalnya merasa sudah ninggal beberapa pakaian disana tetapi selalu lupa yang mana. Maklum sudah kepala enam, jadi sering lupa. Jadi supaya tidak lupa dan kalau ke Jogya tidah usah banyak-banyak bawa ganti, sebaiknya saya catat dan saya masukkan ke blog. Buka sok internetan, tapi kalau dicatat di tempat lagi nanti susah lagi nyarinya. Yang sudah ditinggal di tempat kost Arie antara lain :
2 Kaos golf panjang
3 T shirt
2 kaos oblong untuk tidur

1 celana training

1 handuk besar

1 baju lengan pendek

Kalau pas ada di Jogya sering diajak teman-teman main golf di Adisucipto. Nah saya juga nyimpan perlengkapan golf. Supaya tidak usah berat-berat bawa alat-alat golf, sebaiknya dicatat juga apa saja yang sudah saya simpan di sana.
Perlengkapan olah raga
1 set golf clubs tanpa putter
1 sepatu sepatu golf kulit + kaos kaki
1 sepatu golf karet
1 sepatu jogging
1 tas ganti golf
1 tas bola + glove dan bola
2 topi golf
Tulisan diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wisata kuliner, tapi hanya untuk membantu ingatan saya soal bawa ganti baju.

Soto sapi pak Ngadiran

Hari Minggu pagi, tgl 15 Juni 2008, jam 7.30 pagi saya sudah mendarat di Adisucipto Airport. Dari rumah berangkat habis sholat Subuh, berarti belum sempat sarapan. Sampai di Sawit Sari, tempat kost Ari, pertanyaan pertama ; “Makan dimana Ri?”. Ari langsung menyarankan ke soto daging sapi Pak Ngadiran. Dia tahu, kalau di Jogya saya selalu mencari makanan-makanan yang tradisional, yang enak tapi dengan harga yang realtif murah. Bukan mau ngirit, tetapi serasa ada kenikmatan tersendiri kalau bisa makan murah tapi rasanya masih mak nyuus.
Soto Pak Ngadiran terletak di daerah Klebengan, masuk dari Gading Mas, atau dari selokan Mataram. Agak susah kalau harus nyari sendiri, mungkin lupa lagi bisa nggak ketemu.
Resto ini nampaknya memang murah meriah. Pagi-pagi sudah penuh pengunjung, terutama dari kalangan mahasiswa. Menu andalan memang hanya soto sapi, tetapi dengan beberapa variasi : misalnya soto sapi campur (nasi), soto pisah, soto sapi daging dobel. Ada juga soto campur kuah (alias tanpa daging). Wah kalau yang ini namanya sudah ngirit banget. Mungkin untuk mahasiswa yang lagi telat kirimannya. Untuk sekedar informasi harga, soto daging campur Rp4.500, tempe goerng Rp300, es jeruk Rp1.500.

Tips untuk Anda, makan soto Pak Ngadiran tidak lengkap rasanya kalau tidak ditemani tempe goreng tepungnya yang berukuran mini dengan rasanya yang maxi. Kalau mau lebih nikmat lagi, pesanlah babat gorengnya yang bernuansa manis-gurih untuk melengkapi citarasa hidangan anda. Jangan lupa dengan krupuk kritingnya. Sambelnya enak, dicampur kecap bisa untuk teman makan tempe, hanya menurut saya agak terlalu pedas


Warung Makan Lombok ijo,
sego abang

Saya makan disini untuk pertama kali dibawa Pak Bambang Setiari, pensiunan BRI yang berwiraswasta dengan usaha tanaman hias di jalan Kaliurang. Lokasinya agak jauh dari pusat kota, di daerah Pakem di pinggir jalan raya menuju Tempel. Tepatnya di Jl Pakem Turi Km 1, Sleman.
Sangat tradisional, bangunan dari bambu sederhana, suasana sangat rumahan sekali. Bisa duduk di kursi atau lesehan, ditemani gemericik air yang mengalir di sawah dan ditiup angin sejuk dan segar dari gunung Merapi. Makanannya sangat sehat, khas Gunung Kidul yang jarang ditemui lagi di kota-kota besar. Beras merahnya gurih dan pulen. Daging empal dan ayam gorengnya empuk sekali, dibumbu agak manis tetapi terasa pas di lidah. Sayur lodehnya hanya berisi tempe dan irisan cabe ijo. Sayur daun papayanya tidak terasa pahit sama sekali, malah agak sedikit manis. Dan jangan lupa pesan teh kenthel gula batu. Sambil menunggu pesanan, kita bisa ngemil rempeyek kedele hitam. Pelayanan cepat, walaupun banyak tamu tetapi tidak terlalu lama menunggu. Pemiliknya sangat ramah. Ketika kelihatan minuman sudah hampir habis, dia sendiri yang mengisi lagi. Begitu pula ketika kita selesai makan dan mau pulang, dia ikut mengantar sampai kedepan. Betul-betul keramahan Jogya yang sukar dilupakan.

Menu favorit ;
Nasi beras merah
Empal daging
Ayam goreng
Tahu/tempe bacem
Sayur lodeh lombok ijo
Sayur daun papaya
Bothok mlanding
Teh poci gula batu
Trancam

Menu diatas adalah sudah standar, artinya begitu kita duduk tidak usah pesan langsung disediakan. Sistemnya hampir kaya rumah makan Padang, tidak usah dihabiskan semua, kita hanya bayar yang kita makan. Praktis sekali.

Cowmad, tempatnya penggila sapi

Senin malam, medio Juni 2008,  Ari sama Ariana, pacarnya, ngajak makan malam di Cowmad, warung makan baru serba sapi, yang terletak Deresan, belakang Percetakan Kanisius, sebelah utara Happy Holy Kids.

Cowmad adalah warung makan untuk para penggila sapi, begitu kata si-empunya warung. Sajian utamanya memang daging sapi. Mulai dari sate, iga bakar, sup iga, sup buntut, sampai brongkos kikil. Tapi selain sapi-sapian, ada juga sayuran seperti brokoli bawang putih, kangkung hot plate dan tauge cah ikan asin. Minumannya juga beraneka ragam, mulai dari minuman tradisional seperti kunir asem dan jamu komplit sampai dengan aneka juice dan minuman dengan nama sapi-sapian seperti The Matador dan Sexy Cowmad. Untuk yang tidak ingin makan berat, Cowmad juga menyediakan cemilan berupa kentang goreng dan pisang goreng/bakar. Lengkap lah pokoknya!

Kami berempat memesan menu yang berbeda-beda, supaya bisa saling mencicipi menu masing-masing. Saya pesan Sapi bumbu mongolian, karena digambar kelihatan enak dan porsinya besar. Ternyata porsinya kecil sekali. Nyonya pesan sup buntut goreng, yang rupanya kurang begitu meresap bumbunya dan dagingnya agk keras. Ariana pesan iga bakar hoisan. Wah yang ini siip banget, mak nyuus. Ari pesan sup iga “selangit”, ternyata tidak selangit rasanya. Kurang lebih sama dengan sup buntunya.

Tempatnya cukup nyaman. Tempat makan utama berada di rumah kayu dengan gaya joglo, meja sisanya ditata di taman sekeliling rumah. Di bagian belakang sekarang sedang dibangun meeting room, jadi bagi yang ingin rapat sambil makan daging sapi, langsung saja datang ke Cowmad (kalau meeting room-nya sudah jadi.. hehehe…)

Harga makanan dan minuman Cowmad tidak murah untuk ukuran Jogya, namun cukup terjangkau. Tamu yang naik motor juga berani mapir ke sini. Harga minuman sekitar 8000 rupiah dan makanan berkisar di 19.000 rupiah sampai 25.000.

Brongkos Bu Padmo

Brongkos adalah seperti sayur lodeh tetapi memakai kluwek sehingga warnanaya kehitam-hitaman. Berbeda dengan brongkos vegetarian yang isinya didominasi sayuran (labu siem dan kacang tolo), brongkosnya bu Padmo isinya hanya daging sapi. Orang Surabaya bilang ini rawonnya orang Jawa. Walaupun cukup banyak warung nasi brongkos di Jogya, tetapi kalau kita tanyakan ke penggemar brongkos pasti mereka akan me-rekomendasikan ke warungnya Bu Padmo, Namanya Warung Ijo Bu Padmo, tempatnya di Pasar Tempel, dibawah jembatan kali Krasak yang menghubungkan perbatasan Jateng – DIY. Warungnya yang berwarna hijau nyempil ditengah kios-kios pasar lainnya. Saking sempitnya, kalau ada tamu lain yang selesai makan duluan kira sering harus berdiri semua untuk memberi jalan lewat.
Sekarang dibawah tulisan warung ijo ditambahi kata-kata “mak nyuus”. Mungkin ini gara-gara pernah dikunjungi Pak Bondan, pengasuh acara Wisata Kuliner dari Trans-TV. Jangan sampai keliru, karena disekitar lokasi tersebut sekarang bermunculan warung-warung makan lain yang juga menyajikan menu brongkos.
Disamping brongkos, disini kita juga bisa memesan nasi pecel, nasi terik daging, atau nasi koyor, tapi tetap menu andalannya brongkos. Memang beda dengan brongkos vegetarian, brongkos yang satu ini aromanya khas masakan daging dengan keharuman rempah yang menghanyutkan. Rasanya sangat gurih dengan gigitan rasa pedas yang membuat tidak enek. Dagingnya empuk sekali dan lumayan banyak, satu porsi cukup kenyang untuk orang-orang seusia saya. Secara keseluruhan brongkos daging ini enak banget, meskipun sepertinya lebih cocok untuk makan siang karena citarasanya yang lebih berat.
Harganya betul-betul bersahabat. Tujuh ribu satu porsi, ditambah minum, krupuk dan tempe goreng jadi sepuluh ribuan. Warung ijo ini ternyata sudah lumayan lama beroperasi, 50-an tahun. Dan yang lebih hebat lagi, Bu Padmo walaupun sudah sepuh, 80 tahun, masih ada dan masih sering mengecek keaslian rasa brongkos yang layak mendapat titel pusaka kuliner Jogya ini. Tapi harap diingat, meskipun sudah sangat beken warung yang satu ini tidak pernah buka cabang di tempat lain.

Bakmi Pak Mardi, Muntilan

Kalau ke Jogya biasanya tidak pernah saya lewatkan untuk makan bakmi Jawa. Dulu sewaktu masih dinas di BRI, setiap turne ke Joigya tiap malam selalu makan bakmi Jawa. Jadi kalau dinasnya tiga hari, ya tiga malam makan bakmi terus. Teman-teman turne sering kesel, karena tentunya bosen tiap malam kok makan bakmi terus. Hampir semua warung bakmi di Jogya sudah saya coba, ada Mundiyo, Kadin, Prawirotaman, Jombor, mbah Mo di Bantul sampai Pakem.
Kali ini saya diajak pak Bambang untuk mencoba bakmi Pak Mardi, yang katanya lain dari yang lain. Tempatnya di Tugu Besi, Lakar Santri, Muntilan. Untuk lebih tepatnya, kalau mau ke sana tanya saja sama BRI Muntilan. Di Muntilan ternyata terdapat suatu lokasi yang kalau malam hari penuh dengan warung-warung tenda yang berjualan segala jenis masakan, namun kebanyakan bakmi Jawa atau sate kambing.
Warung pak Mardi ini juga warung tenda yang kecil, diisi dua meja panjang dengan 10 kursi. Waktu saya datang kelihatan sepi, hanya ada dua orang yang sedang makan. Ternyata kami sudah tamu yang ke 15. Rupanya untuk pelanggan yang sudah tahu, karena tidak mau menunggu lama-lama, mereka pesan jauh-jauh sebelumnya. Jadi baru datang kira-kira kalau gilirannya sudah hampir tiba. Harap maklum, bakmi Jawa dimasak satu persatu, jadi harus sabar menanti. Kami beruntung karena memang sudah pesan sebelumnya, lewat salah satu pegawai BRI Muntilan, jadi tidak harus berlama-lama menunggu.
Bakmi pak Mardi sebetulnya tidak jauh berbeda dengan bakmi Jawa yang lain, hanya rasa bawang putihnya yang sangat menonjol. Juga berbeda dengan warung bakmi Jawa yang lain, bumbu-bumbu tidak disiapkan sebelumnya tetapi diracik secara mendadak setiap kali memasak pesanan. Akibatnya pada waktu dimasak aroma bawang putihnya terasa sangat keras dan betul-betul menggugah selera. Disini menawarkan menu bakmi godog, bakmi goreng, magelangan (bakmi goreng campur nasi) dan nasi goreng. Menurut saya yang paling mak nyuus adalah bakmi gorengnya.
Bagaimana dengan harganya ? Saya tidak tahu persis berapa per porsinya, tetapi untuk 8 orang dengan minum jeruk anget dan tambah uritan (telur muda) saya membayar Rp82 ribu. Saya kira cukup murah.
Sedikit sejarah, pak Mardi ini dulu sebelum jualan bakmi jadi kuli bangunan, tugasnya mengaduk semen. Sekarang tiap malam mengaduk bakmi dan nasi goreng. Bakmi pak Mardi memang lain dari yang lain, hanya sayang agak jauh dari Jogya. Ingat kalau ke sana sebaiknya pesan tempat dulu, jangan langsung datang.

Kekayaan bahasa Jawa

Posted Mei 26, 2008 by Papah Doni
Categories: Sketsa

Di Indonesia ada tren, khususnya di kalangan pejabat, kalau berbicara didepan publik selalu dicampur-campur dengan bahasa asing (Inggris). Mungkin memang karena tidak ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang pas, tetapi lebih banyak untuk gagah-gagahan supaya kelihatan modern dan pinter. Di lingkungan akademisi atau dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, penggunaan kata-kata asing memang sulit dihindari. Mencari padanannya dalam bahasa Indonesia disamping susah juga dapat menimbulkan salah arti, atau sulit dimengerti dikalangan ilmuwan. Malaysia lebih maju dari kita. Di sana ada upaya yang serius untuk secara maksimal menggunakan bahasa Malaysia dalam dokumen-dokumen resmi, walaupun untuk komunikasi lisan dikalangan intelektual dan bisnis umumnya menggunakan bahasa Inggris.

Sampai sekarang kalau ngobrol dengan teman-teman, khususnya dengan yang berasal dari Jawa, saya masih suka campur-campur dengan bahasa Jawa. Saya merasa dengan berbahasa Indonesia tidak dapat sepenuhnya menyampaikan maksud yang ingin saya utarakan. Bahasa Jawa rasanya lebih mengena dan mempunyai istilah yang lebih tepat untuk situasi-situasi tertentu. Coba simak ungkapan berikut ini: “Anake mati konduran truk.” Maksudnya adalah, anaknya mati karena ketabrak truk yang bergerak mundur kebelakang. Kita tidak bisa menterjemahkan dengan “anaknya mati ketabrak truk”, karena ketabrak itu pengertiannya bisa dari depan atau dari belakang. Begitu pula dengan ungkapan: “Dalane gronjalan.” Yang ingin kita katakan adalah jalannya rusak, tidak rata dan mungkin berlubang-lubang, tetapi tidak ada satu kata Indonesia yang pas yang mewakili pengertian gronjalan. Kalau ada salah satu keluarga kita yang meninggal, apakah istri, anak atau orang tua, masyarakat Jawa mempumyai istilah khusus, yaitu kesripahan. Begitu pula pemberitahuan kalau ada yang meninggal, namanya “lelayu.” Kalau kita pergi ke undangan resepsi (bukan undangan rapat) disebutnya jagong.

Untuk rasa yang berhubungan dengan sakit perut, bahasa Jawa mempunyai beberapa istilah, seperti : mlilit (rasa seperti kalau telat makan), senep (rasa seperti menusuk di perut), mules (kalau kita sedang diaree), dan sebah ( perut seperti penuh makanan dan terasa keras). Untuk baju atau kain yang robek ada beberapa istilah sesuai dengan tingkatan robeknya, dimulai dari yang paling rendah : suwek, bedhah dan yang paling parah amoh. Bahasa Indonesia hanya mengenal satu kata untuk “melempar”, tidak membedakan apakah alat yang digunakan untuk melempar itu batu kecil, sedang atau batu besar. Orang Jawa membedakan antara dipathak (dengan batu kecil), dibalang (sedang) atau dibandhem (dengan menggunakan batu besar). Miskram atau keguguran hanya untuk manusia, kalau untuk binatang istilahnya keluron. Kalau ada yang mendorong dari belakang sehingga kita jatuh tertelungkup, disebut kejongor atau kejlungup. Kalau sebaliknya, sehingga kita jatuh tertelentang, disebut kejengkang.

Menurut ahli sosiologi, orang Jawa yang dulunya mayoritas agraris, mempunyai banyak waktu luang untuk mengotak-atik apa yang terjadi disekelilingnya, termasuk budaya bahasa. Barangkali hanya di Jawa kita mempunyai nama-nama yang lengkap khusus untuk anak-anak binatang. Kita mengenal anak anjing disebut kirik, anak sapi pedhet, anak kerbau gudel, anak kuda belo, anak harimau gogor, anak kucing cemeng, anak burung piyik, anak ayam kuthuk dstnya. Kata “malu” digunakan untuk ungkapan rasa bersalah karena telah berbuat tidak sepatutnya terhadap orang lain atau takut ditertawakan orang lain. Bahasa Jawa mengenal beberapa ungkapan : isin atau lingsem (takut ditertawakan orang lain), sungkan atau rikuh (takut merepotkan orang lain), klincutan (malu, misalnya karena datang terlambat), wirang (malu karena telah berbuat hal yang tidak senonoh).

Berikut beberapa kausa kata bahasa Jawa yang susah dicarikan penggantinya yang pas dalam satu kata bahasa Indonesia: Cotho, tidak bisa mengerjakan sesuatu karena ada peralatan yang hilang. Misalnya kita akan memperbaiki sepeda yang rusak, tetapi ada salah satu kunci pas yang hilang sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sering juga kita mendengar ungkapan: Wah cotho, Iyah(pembantu RT) mudik nggak pulang-pulang. Prigel, mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus secara cepat dengan hasil yang baik. Prigel ini tingkatannya lebih tinggi dari terampil. Merak ati, ini berlaku untuk wanita yang dari segi penampilan menarik untuk dipandang. Merak ati tidak harus cantik, barangkali istilah Inggrisnya yang lebih tepat charming. Dalam sastra Jawa sering kita mendengar: Merak ati eseme ngujiwat. Wah, yang ini lebih susah lagi mengalihkannya kedalam bahasa Indonesia. Gandhes, masih berhubungan dengan wanita yang dari tingkah laku serba luwes dan menarik. Cucuk, ini sebetulnya ada padanannya, yaitu “sepadan” antara hasil dengan pengorbanan. Namun diantara orang Jawa lebih senang menggunakan istilah cucuk.

Beberapa contoh lain : Ingah-ingih, penampilannya agak malu-malu seperti yang kurang percaya diri (PD). Clila-clili, hampir seperti ingah-ingih, tetapi ini karena kurang mengenal medannya. Seperti kalau kita datang ke undangan atau rapat sendiri dan ternyata disana tidak ada yang kita kenal, maka kita merasa clila-clili. Kapiran, tidak ada yang mengurusi sehingga menjadi terlantar. Sembada, kira-kira artinya tanggung jawab dan mampu mencukupi apa yang dibutuhkan. Misalnya kita mengundang teman main ke Jogya, lantas kita katakan :” Sudah jangan kawatir, nanti nginep dan makannya saya yang tanggung.” Gendulak-gendulik, orang yang ragu-ragu mengambil keputusan. Hari ini mengambil keputusan A, tidak lama berselang berubah B. Yang B belum dilaksanakan sudah ganti ke A lagi. Orang Jawa mengatakan: Gendulak-gendulik, apa sida apa ora. Cengengesan, sering ketawa sendiri tanpa alasan yang jelas. Dapat juga berkonotasi negatif, yaitu orang yang kalau diajak bicara tentang suatu hal memberi jawaban yang lain, dengan maksud untuk melucu tetapi tidak pada tempatnya.

Kalau ingin dilanjutkan masih ada beberapa contoh lagi : Jenggirat, tiba-tiba bangun, baik karena kaget atau takut. Awang-awangen, malas melakukan sesuatu karena takut tidak mampu melakukannya dengan baik. Mak jegagik, berhenti melakukan sesuatu karena tiba-tiba ada yang muncul didepan kita. Keblondrok, merasa tertipu misalnya membeli barang tidak ditawar sehingga kemahalan. Kemepyar, lepas-lepas, tidak lengket untuk nasi atau rasa segar dibadan sehabis meminum teh atau kopi panas. Grusa-grusu, berhubungan dengan tingkah laku yang serba buru-buru dan agak kasar. Kudu ngguyu, ingin ketawa sendiri karena ingat sesuatu pengalaman yang lucu.

Mungkin karena dirasa lebih mengena, banyak kata-kata bahasa Jawa yang sudah diadopsi dan diterima sebagai bahasa Inbdonesia. Antara lain : otak-atik, tetek-bengek, mumpung, ketimbang, risi(h), jajal, ampuh, bablas, bludag, brangus, wadhah, (m)entas, gembar-gembor, gledhah, godhog, kemplang(ngemplang), kinclong.

Contoh-contoh yang kami uraikan diatas adalah bahasa Jawa versi Solo, untuk Jogya barangkali lain. Dospundi Pak Wondo? mBok menawi kangungan wawasan sanes? Sumonggo.

Pemilihan Gubernur BI: Presiden cukup mengajukan 1 calon

Posted Februari 24, 2008 by Papah Doni
Categories: Manajemen

gubernur-bi.jpg

Dalam bulan Mei mendatang masa jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) akan berakhir. Dalam 2 bulan mendatang DPR akan punya “gawe” besar, memilih Gubernur BI yang baru. Sesuai ketentuan Undang-undang(UU), paling lambat 3 sebelum berakhirnya masa jabatan tersebut Presiden sudah harus mengajukan nama-nama calon Gubernur BI yang baru kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Memenuhi ketentuan UU ini, Presiden sudah menyampaikan kepada DPR nama-nama calon Gubernur BI yang baru. Silang pendapat dan reaksi yang nadanya menentang telah bermunculan di kalangan masyarakat(politisi), walaupun proses pemilihan resminya belum dimulai. Beberapa kalangan di  DPR, dengan mengatasnamakan masyarakat, menyatakan bahwa calon yang diajukan tidak memenuhi aspirasi masyarakat. Beberapa anggota DPR bahkan secara apriori menuduh pemerintah atau Presiden telah melakukan intervensi terlalu dalam karena tidak mengikutsertakan calon dari intern BI.

Di Indonesia, setiap terjadi pengangkatan pejabat publik yang harus mendapat persetujuan DPR, hampir selalu menimbulkan suasana permusuhan antara pemerintah dengan DPR. Tidak terkecuali, pemilihan Gubernur BI telah menjadi komoditas politik yang panas yang menimbulkan tarik ulur kepentingan antara Presiden dengan DPR. Siapapun yang diajukan pemerintah selalu ditanggapi negatif oleh DPR. Belajar dari beberapa kali proses pemilihan anggota Dewan Gubernur BI, mungkin perlu direnungkan kembali apakah mekanisme pemilihan yang selama ini telah berjalan masih perlu dipertahankan. Atau perlu beberapa penyempurnaan, dengan mengacu pada best pratices di negara-negara maju, agar prosesnya dapat berjalan lebih transparan, obyektif dan tidak kontraproduktif terhadap pasar,

Haruskah 3 calon?

Didalam pasal  41 ayat 1 UU Bank Indonesia no 3/2004, disebutkan bahwa Gubernur, Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Didalam pasal ini tidak disebutkan secara tegas berapa jumlah calon yang harus diajukan Presiden, namun didalam penjelasan UU tersebut disebutkan bahwa Presiden dapat menyampaikan sebanyak-banyaknya 3 calon. Memenuhi ketentuan pasal ini Presiden sudah menyampaikan 2 nama, yaitu Agus Martowardoyo dan Raden Pardede, sebagai  calon Gubernur BI yang baru.   Jadi, dengan hanya mengajukan 2 nama, Presiden sebetulnya tidak melanggar ketentuan pasal 41 UU BI. Bahkan kalau perlu Presiden dapat mengajukan satu nama. Juga, karena jabatan Gubernur dapat diperpanjang untuk kedua kali, Presiden dapat mengusulkan kembali Gubernur yang lama.

Di kalangan masyarakat, khususnya anggota DPR, pasal 41 ini nampaknya ditafsirkan sebagai suatu keharusan bagi Presiden untuk mengajukan 3 calon, atau minimal lebih dari satu calon untuk setiap lowongan jabatan yang ada.  Selanjutnya DPR akan memilih, melalui proses “fit and proper test”, siapa yang dianggap paling layak.dan patut memimpin bank sentral kita. Dengan keharusan mengajukan lebih dari satu calon, sebenarnya menempatkan Presiden dibawah DPR. Kewenangan Presiden hanya sebatas  mengusulkan, sedang DPR-lah yang sebenarnya menentukan siapa yang akan menjadi Gubernur BI.

Sistem di Amerika Serikat

Walaupun sama-sama memerlukan persetujuan dari DPR, pemilihan Gubernur BI sedikit berbeda dengan dengan pegangkatan Chairman of the Fed (Gubernur Bank Sentral-nya Amerika). Federal Reserve Act mengatur : The Chairman of the Board of Governors of the Federal Reserve System appointed(ditunjuk) by the President and confirmed(disyahkan) by the Senate. Jadi ketika Allan Greenspan, Gubernur lama,  harus diganti, Presiden Bush menunjuk Ben Bernanke sebagai penggantinya dan selanjutnya meminta  pengesyahan dari Senat. Karena calon yang diajukan hanya satu, Senat tidak memilih lagi tetapi menilai apakah calon dianggap patut(proper) memimpin the Fed. Penilaian lebih banayk didasarkan pada integritas, ahlak, moral dan track record calon, bukan kepada kualifikasi, keahlian dan kemampuan tehnisnya.

Di AS, disamping Gubernur Bank Sentral, terdapat beberapa jabatan publik yang memerlukan  persetujuan Senat, yaitu : hakim agung, jaksa agung, duta besar dan  anggota kabinet tertentu. Namun didalam prosesnya tidak pernah terjadi Senat memilih calon yang diajukan Presiden, karena Presiden hanya mengajukan satu calon.  Opsi Senat hanya menolak atau menyetujui kandidat yang diajukan Presiden. Di AS pernah terjadi pencalonan seorang hakim agung ditolak Senat karena kedapatan mempekerjakan tenaga imigran illegal dirumahnya. Jadi, ditolaknya bukan karena dinilai tidak mampu, tetapi karena masalah integritas. Sistem calon tunggal ini sebetulnya bukan barang baru untuk Indonesia. Didalam pengangkatan Panglima ABRI, Presiden juga hanya mengajukan satu calon. Ketika Marsekal Djoko Suyanto habis masa jabatannya, Presiden hanya mengajukan satu nama yaitu Jendral Djoko Santoso sebagai penggantinya.

Pengangkatan kembali Gubernur lama

Bagaimana kalau gubernur yang lama dinilai mempunyai prestasi yg sangat bagus dan perlu dipertahankan? BI merupakan instrumen yang strategis dan mempunyai peran yang besar dalam menciptakan kondisi moneter dan makro yang kondusif bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Walaupun kepemimpinan di BI bersifat kolektif, namun arah kebijakan bank sentral akan sangat diwarnai oleh kualitas Gubernurnya. Gubernur yang dinilai berhasil, kredibel dan diterima pasar, sebaiknya jangan terlalu sering diganti agar terjamin kontinuitas dan konsistensi kebijakan. Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS yang sangat legendaris,  mengakhiri tugasnya setelah menjabat lebih dari 18 tahun.

 Marilah kita anggap tidak ada kasus aliran dana BI dan Burhanudin Abdullah dari beberapa kritreria dinilai berhasil seperti : menjaga kondisi perbankan dan moneter yang aman, rupiah stabil, tidak pernah ada kontroversi atau gejolak yang disebabkan kebijakan BI. Selain itu, koordinasi pemerintah dan BI dirasakan sangat baik dalam penentuan berbagai kebijakan seperti penentuan inflasi dan suku bunga sehingga membuat para pelaku pasar, baik dalam maupun luar negri, merasa nyaman beroperasi di Indonesia.

Dengan mekanisme pemilihan seperti sekarang ini maka kesempatan untuk mengangkat kembali Gubernur lama menjadi berkurang.  Walaupun Presiden dapat  mengusulkan kembali Gubernur lama, namun adanya keharusan mengajukan lebih dari satu calon memungkinkan DPR memilih dari calon-calon baru. Dengan adanya 3 calon, kans Gubernur lama untuk diangkat lagi adalah 0-33%. Sebaliknya dengan 1 calon kans-nya 0-100%.

Cukup satu calon

Mekanisme pemilihan harus dirubah. Memilih Gubernur BI seharusnya tugas eksekutif, bukan tugas DPR. Sebagaimana dalam pengangkatan Panglima ABRI, Presiden cukup mengajukan 1 calon saja. Memang DPR mempunyai hak untuk menolak usulan Presiden, tetapi penolakan DPR harus atas pertimbangan bahwa calon dinilai tidak patut (proper), bukan karena tidak layak (fit) untuk memimpin lembaga yang sangat prestisius ini. Sistem penilaian harus dipisah antara fitness test dengan proper test. Penilaian pengalaman, keahlian dan kemampuan, sepenuhnya merupakan kompentensi pemerintah atau Presiden. Sedang domain DPR hanya sebatas  penilaian atas ahlak, moral, integritas dan track record calon.

Dengan sistem calon tunggal Presiden akan lebih focus pada satu figur yang dianggap paling mampu untuk memimpin BI, tanpa harus menyertakan calon-calon pendamping yang kualifikasinya dibawah calon yang diunggulkan. Siapapun yang dicalonkan pasti sudah melalui pertimbangan yang masak dengan mendengar masukan dari para penasehat dan pembantu-pembantunya, khususnya dari team ekonomi.  

Dengan hanya mengajukan 1 calon juga akan memberikan keleluasaan dan  kewenangan  yang lebih besar kepada Presiden untuk memilih anggota Dewan Gubernur BI. Posisi Presiden tidak lagi sekedar mengusulkan, tetapi meminta pengesyahan DPR atas calon yang telah ditunjuk. Disisi lain dapat mengurangi kesempatan DPR untuk menyeret BI kedalam arena dan agenda politik DPR, setiap kali terjadi pemilihan anggota Dewan Gubernur BI. Dengan bertambahnya kewenangan Presiden tidak bisa ditafsirkan sebagai intervensi terhadap independensi BI. Siapapun yang menjadi Gubernur BI, independensinya dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari dilindungi oleh pasal 9 UU no 23/1999.

Acara foto-foto yang mengganggu

Posted Februari 5, 2008 by Papah Doni
Categories: Sketsa

perkawinan.jpg

Pada acara resepsi perkawinan, prosesi umumnya dimulai dengan kirab penganten, yatitu masuknya rombongan pengantin ke gedung pertemuan. Kemudian setelah pengantin dan kedua  orang tua menempati kursi pelaminan, acara dilanjutkan dengan sambutan mewakili kedua orang tua dan pembacaan doa. Sambutan biasanya singkat saja karena merupakan formalitas ucapan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran para tamu dan kepada semua fihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Pembacaan doa selamat umumnya juga singkat saja, karena untuk orang Islam rasanya kurang afdol melakukan suatu hajatan besar tanpa diawali doa.  Selesai pembacaan doa baru para tamu undangan dapat memberikan ucapan selamat.

Kalau saya perhatikan baik untuk sambutan maupun pembacaan doa, hampir tidak pernah ada yang mendengarkan. Undangan umumnya sibuk ngobrol sendiri, disamping sudah tidak sabar lagi untuk memberi ucapan selamat dan segera menikmati hidangan. Untuk itu sebetulnya untuk pemilihan siapa yang akan memberi sambutan dan membaca doa, kita tidak perlu repot-repot mencari orang yang hebat-hebat. Karena disamping mahal honornya juga mubazir, karena toh tidak ada yang mendengarkan. Malah kasihan sebetulnya, kalau yang memberi sambutan atau yang membaca doa orang yang sangat terpandang tetapi tidak ada yang memperhatikan.

Resepsi perkawianan biasanya diselenggarakan antara jam 11.00–13.00 kalau siang hari, sedang untuk malam hari antara jam 19.00-21.00. Untuk undangan jam 19.00 seharusnya tepat jam 19.00 pengantin dan kedua orang tua sudah siap untuk menerima ucapan selamat. Yang sering terjadi, untuk undangan jam 19.00 baru setengah jam kemudian para tamu bisa memberikan ucapan selamat. Baik karena datangnya rombongan pengantin yang terlambat, atau karena lamanya acara sambutan2. Atau kadang-kadang sengaja rombongan pengantin baru muncul menunggu setelah cukup banyak tamu yang berkumpul di gedung resepsi.

tari-jawa.jpgAda juga tuan rumah yang ingin menampilkan tari-tarian daerah agar acara kelihatan lebih bagus dan semarak. Masalahnya sering sesi tari-tarian ini merupakan bagian dari prosesi. Jadi, tari-tarian ditampilkan sebelum sambutan dan pembacaan doa. Akhirnya para tamu yang datang awal atau tepat waktu harus menunggu sampai satu jam sebelum dapat memberikan doa restu. Acara perkawinan dengan adat Padang selalu menyajikan tari-tarian sebagai bagian dari prosesi. Sambutannya juga panjang-panjang karena ada petatah-petitih. Kalau tahu acaranya menggunakan adat Padang, saya selalu datang satu jam lebih lambat supaya tidak terlalu lama menunggu.. Kalaupun ingin menampilkan tari-tarian  boleh-boleh saja tetap dilakukan, tetapi pada waktu selesai acara pembacaan doa, jadi tidak memperlambat prosesi.

Didalam beberapa resepsi yang pernah saya hadiri, acara sambutan dan pembacaan doa ditiadakan. (Perkawinan putri Bp Dono Indarto, mantan Komisaris BRI) Jadi, ketika rombongan pengantin sudah datang dan siap untuk menerima ucapan selamat, pembawa acara menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih sambil mempersilahkan. para tamu untuk langsung memberikan ucapan selamat. Menurut saya ini lebih tepat dan praktis, karena pembacaan doa seharusnya dilakukan pada saat acara akad nikah yang merupakan bagian dari ritual perkawinan.  

Bahkan pernah saya menghadiri acara perkawinan di hotel dimana pengantin dan kedua orang tua menunggu di pintu gerbang untuk menerima ucapan selamat. Setelah sebagian besar undangan datang dan memberikan ucapan selamat baru mereka menempatkan diri di pelaminan. Untuk tamu-tamu yang datang terlambat dapat langsung ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.

Yang sangat mengganggu adalah acara foto-foto para tamu VIP. Ketika kita sedang antri menunggu giliran untuk memberikan ucapan selamat, sering diinterupsi dengan datangnya tamu VIP yang langsung didahulukan tanpa harus antri. Ditambah lagi tamu VIP ini masih diminta kesediannya untuk diabadikan bersama kedua pengantin. Mendahulukan tamu VIP masih bolehlah, tetapi menurut saya acara foto-foto ini sebaiknya dihilangkan atau dikurangi seminimal mungkin. Karena disamping mengganggu dan menyinggung perasaan tamu undangan lainnya, juga toh hasilnya setelah dicetak tidak pernah dikirim ke kita. Pengalaman waktu saya masih menjabat dulu, sering diminta untuk foto bersama pengantin tetapi tidak pernah diberi hasilnya. Saya kira para tamu VIP ini juga risi, karena kedatangannya telah merepotkan tamu-tamu lainnya.

Pada waktu saya mengawinkan anak saya, pukul 19.00 tepat saya bersama kedua pengantin telah siap di pelaminan. Sambutan dan pembacaan doa saya lakukan sendiri. Disamping efisien waktu juga efisien biaya karena tidak usah pakai honor. Tepat pukul 19.10 para tamu sudah bisa mulai memberikan doa restu. Saya beritahu panitya bahwa tidak akan ada acara pengambilan foto tamu VIP. Sebagai gantinya saya wanti-wanti  kepada MC agar jeli mengamati setiap tamu penting yang datang. Kepada beliau-beliau ini supaya diberi sambutan selamat datang dan ucapan terima kasih secara pribadi dengan menyebutkan namanya secara lengkap.

Intinya adalah, para tamu harus kita hormati karena kita sangat mengharapkan kedatangannya. Mereka telah bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk memenuhi undangan kita. Jangan biarkan mereka berlama-lama menunggu, Semua undangan adalah terhormat. Mereka yang tidak masuk dalam daftar tamu VIP  mungkin banyak yang termasuk orang-orang VIP di tempat lain. Jangan sampai keinginan kita untuk menghormati tamu-tamu VIP menganggu kenyamaman tamu-tamu lain (yang notabene juga VIP) dalam menghadiri acara kita. 

Karena panjangnya antrian, sering MC mempersilahkan para undangan untuk mennikmati hidangan dulu sebelum memberi ucapan selamat. Ini juga kurang pas, karena kita menganggap seolah-olah para tamu datang untuk sekedar mencari makanan. Disamping itu berarti kita tidak menghargai para undangan yang datangnya tepat waktu.  Akhirnya, bisa-bisa orang yang datang terlambat langsung makan, sedang tamu-tamu yang disiplin kehabisan makanan.   

Selain hal-hal diatas, sudah barang tentu yang tidak kalah pentingnya adalah masalah makanan. Kalau harus memilih antara kualitas dan kuantitas saya lebih memilih kuantitas. Jadi jangan sampai tamu yang datang belakangan tidak kebagian makanan,  Harus ada anggota panitya yang khusus mengawasi makanan. Tidak semua perusahaan catering jujur, yang mau mengeluarkan seluruh makanan yang sudah dipesan. Kalau kira-kira anggarannya terbatas ya undangannya yang dibatasi, sehingga kualitas dan kuantitas hidangan dapat terpenuhi. Semoga tulisan singkat ini bermanfaaat, khususnya mereka yang belum mantu.

 

Tentang wong Solo

Posted Januari 15, 2008 by Papah Doni
Categories: Sketsa

 

keraton-solo2.jpgJudul tulisan ini sengaja kami buat “Memahami wong Solo”, bukan memahami orang Jawa, karena memang orang Solo berbeda dengan orang Surabaya, orang Semarang, orang Banyumas, walaupun semua yang terakhir ini oleh orang luar sering disebut orang Jawa. Bahkan orang Solo berbeda dengan orang Yogya. Orang Solo pakai beskap, orang Yogya pakai surjan. Orang Solo pakai blangkon, orang Yogya pakai mondolan. Sampai saat ini orang Solo masih bertengkar terus dengan orang Yogya, masing-masing mengklaim sebagai pusatnya kebudayaan Jawa. Sebetulnya dulu sama, tetapi Belanda yang membeda-bedakan agar antara keraton Solo dan Yogya tidak bersatu menjadi satu kekuatan politik dan militer yang kuat. Bahkan antar keluarga Yogya atau keluarga Solo sendiri juga dipecah-pecah. Sehingga di Yogya sekarang kita mengenal ada Kasultanan dan Pakualaman, di Solo kita mengenal ada Kasunanan dan Mangkunegaran.

Priyayi Solo

Jaman dulu, didalam tatanan masyarakat Solo kelompok ningrat, bangsawan atau golongan berdarah biru, mempunyai derajat yang paling tinggi. Kemudian menyusul kelompok ambtenaar atau priyayi, baru kelompok pedagang. Priyayi, walaupun banyak pula yang menyandang gelar, bukan termasuk kelompok ningrat, sebagaimana yang diduga orang selama ini. Priyayi adalah mereka yang duduk dalam infrastruktur administrasi Hindia Belanda di Indonesia. Mereka ini berpendidikan Belanda (HIS, HBS, MULO), dan menduduki jabatan-jabatan seperti onderwijzer (guru), opziener (penilik), beheerder(kepala kantor), commies(komis) dan jabatan-jabatan di pangreh praja. (Baca Priyayi-priyayi karangan Umar Khayam)

Menjadi priyayi merupakan idaman setiap orang pribumi, karena gajinya besar, bisa bergaul dan Nederlands spreken (ngomong bahasa Belanda) dengan orang-orang Belanda. Ini juga menjelaskan mengapa orang-orang Jawa dulu selalu bercita-cita menyekolahkan anaknya setinggi mungkin agar bisa menjadi pegawai negri. Golongan ningrat menganggap profesi pedagang sebagai pekerjaan rendah, tukang menipu, kulakan (modalnya) Rp100,- bilangnya Rp150,-. Orang kraton tidak ada yang mau berdagang, karena dianggap akan menjatuhkan martabatnya. Kalaupun ada kesempatan berbisnis, biasanya tidak dikerjakan sendiri tetapi diserahkan ke Cina.

Dulu orang-orang kaya Solo adalah pengusaha batik yang tinggal mengelompok di satu daerah namanya Laweyan. Mereka ini mendapat julukan galgendu (pengusaha kaya) Ada cerita orang Laweyan yang saking kayanya sampai-sampai dinding dan bak kamar mandinya ditempeli uang emas semua. Walaupun mereka ini kaya-kaya sekali namun tidak pernah ada yang mendapat anugerah gelar kebangsawanan dari keraton. Sebaliknya ada seorang Cina yang rajin memelihara, meneliti dan membukukan pusaka-pusaka kraton mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT).

Tidak to the point

Orang Solo sering dituduh kalau punya maksud bicaranya melingkar-lingkar, tidak straight to the point. Berbeda dengan orang Surabaya yang lebih lugas dan straightforward. Untuk yang tidak mengerti memang benar, agak melingkar-lingkar. Untuk orang Solo sendiri sebetulnya ini merupakan tehnik diplomasi yang tinggi. Kalau misalnya saya mau pinjam mobil ke Pak Indaryono, yang sama-sama orang Solo, saya akan datang kerumahnya dan mengatakan : “ Pak Indar, sebetulnya besok itu saya ada rencana mau ke Sragen, ada undangan manten, tetapi mobil saya masih di bengkel”. Pak Indaryono sebagai orang Solo, tanggap in sasmito langsung bisa menangkap : Wah Pak Roes ini pasti mau pinjam mobil. Kalau Pak Indar berkenan meminjamkan mobilnya beliau akan mengatakan : “Lha monggo, pakai mobil saya saja kebetulan saya juga tidak kemana-mana.” Kalau Pak Indar tidak berkenan, beliau akan mengatakan : “ Wah kebetulan saya sendiri besok mau ke Semarang, nengok besan sakit.” Dalam hal ini saya tidak akan merasa sakit hati ditolak, karena toh saya tidak pernah mengatakan mau pinjam. Sebaliknya Pak Indar juga tidak perlu merasa bersalah, toh tidak pernah mengatakan menolak. Pas dengan filsafat Jawa, menang tanpo ngasorake (menang tanpa mengalahkan). So the business is settled, nobody gets a hard feeling.

Bagimana caranya orang Solo minta tambah minum ? Waktu bulan kemarin saya ke Solo nengok ibu, saya sempat mampir kerumahnya mas Sarasno (terakhir Inspektur Jogya) di Ngasem, Kartosuro. Tidak lama setelah duduk, suguhan keluar. Teh panas manis kenthel, pisang goreng sama kacang rebus. Ngobrolnya kesana kemari asyik sekali, tau-tau teh di gelas sudah habis, tapi ditunggu-tunggu koq nggak diisi lagi. Wah ini harus pakai tehnik melingkar lagi. Saya akan pura-pura bertanya : “ Mas dalan mburi ngomah kuwi joge nang endi.?” (Mas jalan belakang rumah itu nyampainya ke mana ?) Tetapi dalam kosakata bahasa Jawa jog juga bisa berarti tambah. Mas Sarasno segera tahu kalau saya minta tambah teh lagi,

Pemimpin adalah rojo

Orang Solo percaya bahwa seseorang bisa menjadi raja karena mendapat “pulung”, semacam wahyu. Kalau dia mendapat kesempatan menjadi pemimpin, apakah itu pemimpin cabang, pemimpin wilayah atau direktur, dia percaya bahwa telah mendapat “pulung”, yang orang lain tidak memilikinya. Jadi bukan hanya karena pandai saja. Makanya di Jawa ada ungkapan ketiban pulung, artinya kejatuhan rejeki. Sang pemimpin akan menganggap dirinya sebagai “rojo”(raja). Apalagi kalau dia benar-benar masih keturunan ningrat. Raja bebas berbuat apa saja terhadap kawulanya. Raja bebas mendekati kawulanya, guyon, bercanda, bicara dengan bahasa Jawa ngoko(bahas Jawa kasar), tetapi kawula tidak. Kawula tetap harus hormat dan menjaga jarak terhadap rajanya.

Hati-hati kalau anda punya bos orang Solo. Kalau kemudian dia kelihatan begitu akrab dengan anda, relaks, suka bercanda, cengengesan, jangan cepat-cepat GR. Kalau dia ngajak ngomong Jawa ngoko, jangan coba-coba membalas dengan ngoko. Jangan coba-coba pula ikut cengengesan. That’s a very serious offence. Anda tetap harus menjawab dengan bahasa Jawa halus, kalau bisa. Kalau tidak bisa lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja. Jadi lebih enak jadi orang Padang yang bisa ngomong Jawa. Kalau ngomong Jawanya kasar orang maklum, tetapi kalau bisa ngomong halus wah hebat kali kau. Mohon maaf kepada orang-orang BRI yang pernah menjadi bawahan saya.

Sombongnya orang Solo

Bagaimana orang Solo memamerkan kekayaannya ? Coba simak dialog antar ibu-ibu berikut pada suatu pertemuan arisan. Bu Dibyo : “Coba mbakyu apa ndak pusing, itu lho Heny, masak masih SMA saja dikasih uang saku Rp100.000,- sehari ndak cukup.” Bu Puji : “ Dasar anak sekarang, itu lho jeng, Anto, baru kuliah semester 1 saja sudah minta BMW 318i. Ya sudah, terpaksa saya belikan daripada nggak mau sekolah.” Sebetulnya kedua ibu ini tidak bermaksud mengeluhkan kenakalan anak-anaknya, tetapi hanya ingin memamerkan bahwa mereka mampu memberi uang Rp100.000 sehari atau membelikan BMW seri terbaru.

Sehabis sholat Jum’at di Kanpus saya sempat ngobrol dengan Pak Djokosantoso (waktu itu Dirut BRI). Saya katakan : “Pak sekarang ini hasil tromol Jum’at semakin baik, tidak pernah kurang dari Rp1 juta. Hanya minggu kemarin saja dapatnya sedikit , cuma Rp500.000,-. “Kenapa ?” : tanya Pak Djoko dengan nada curiga. “Karena minggu kemarin saya tidak Jum’atan disini. Ha…ha..ha..” Jawab saya sambil cepat-cepat ngeloyor pergi. Nah ini juga termasuk sombongnya orang Solo. Untuk yang non-muslim kalau pengin tahu artinya tromol Jum’at, silahkan tanya sama temannya yang muslim.

Prasmanan tidak jalan

Anda pernah menghadiri undangan resepsi perkawinan di Solo ? Disana ada istilah USDEK, singkatan dari Unjukan (minuman + kue), Sop, Dahar (makan), Es (pudding) dan Kondur(pulang). Tamu-tamu yang datang akan langsung mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Umumnya mereka datang tepat waktu, sebab kalau anda terlambat bisa mengganggu prosesi dan anda akan klincutan (malu) sendiri. Setelah semua undangan hadir dilanjutkan dengan upacara adat. Selesai upacara adat hidangan akan disajikan dengan urutan unjukan, sop, dahar, ditutup dengan es atau pudding. Sambil menikmati hidangan anda dihibur dengan tari-tarian atau ular-ular (nasehat) perkawinan. Dengan keluarnya es berarti ini isyarat bahwa tamu-tamu dipersilahkan kondur (pulang). Temanten berdua didampingi kedua orang tua akan menuju ke pintu keluar untuk menerima ucapan selamat dan doa restu dari para undangan.

Orang Solo agak canggung datang ke undangan dengan sistem prasmanan. Mereka terlalu gengsi untuk mengambil makanan sendiri. Prinsipnya saya ini kan diundang dengan hormat, koq disuruh ngambil makanan sendiri, ya dilayani dong.

Humor Solo

Seperti orang Jogya, orang Solo dikenal mempunyai rasa humor yang tinggi. Hanya, guyonnya orang Solo sering dikiritk agak cynical. Ada orang Solo minum es campur di warung. Setelah hampir habis baru tahu kalau ada seekor lalat didalam gelasnya. Dia tidak akan marah, tetapi malah pesan es lagi : “mBak minta es campur lagi tapi nggak pakai lalat ya.” Si mbak ini rupanya tidak mau kalah : “Pakai coro(kecoak) saja ya mas.”

Di Bandung saya pernah mau makan mi kocok di restoran Kabita, karena katanya terkenal mi kocoknya enak. Saya tunggu-tunggu sampai setengah jam belum datang juga pesanan saya. Saya panggil pelayannya, saya pesan : “Neng, ulah lami-lami nya ngocokna.” (mBak jangan lama-lama ya ngocoknya)

Mas Mardi, asal Banjarsari, kebetulan mau ke Jakarta naik kereta ekonomi Senja Utama. Kereta penuh sekali sehingga terpaksa harus berdiri. Tiba-tiba dia merasa kakinya terinjak oleh pria yang sama-sama berdiri disebelahnya, Mula-mula didiamkan saja, tetapi lama-lama terasa sakit. Mas Mardi tidak tahan lagi : “Mas, mas apa sampeyan anggota ABRI.” “Bukan”, jawab pria itu. “Apa punya saudara ABRI”, “Ndak”, jawabnya lagi. “Apa punya teman-teman ABRI”. “nDak, memangnya kenapa “? tanya pria itu. “Kalau bukan maaf mas tolong jangan diinjak kaki saya.” kata mas Mardi.

Di Jogya ada minuman hangat yang terkenal namanya bajigur, yaitu sejenis minuman yang dibuat dari santan yang dimasak dengan daun pandan dan gula merah. Minuman ini kurang laku si Solo. Kata “bajigur” di Solo adalah kata untuk misuh (mengumpat), sedikit lebih halus dari kata “bajingan”. Bagi orang Solo yang dididik dalam lingkungan tata krama halus, agak sulit untuk mengucapkan kata bajigur. Jadi kalau kita ke warung kepengin minum bajigur sering serba salah. Mau pesan bajigur lidah terasa kelu untuk mengucapkannya, tidak pesan sering keduluan penjualnya :”Bajigur mas ?”, gantian kita yang di-pisuhi.

Pak Djokosantoso, waktu masih menjabat Dirut BRI, ketika berkunjung ke Kanwil Semarang untuk memberikan pengarahan mengenai transformasi organisasi sempat mengeluh. “Mas, orang Semarang ini bagaimana, Dirut cape-cape memberikan pengarahan koq tidak ada keploknya (tepuk tangannya).” kata beliau. Sebagai orang Solo saya jawab pelan-pelan : “Mohon maaf Pak, kalau di Semarang yang biasanya dikeploki itu doro (merpati).” Jadi di Jawa itu kalau ada burung merpati baru keluar rumah biasanya ditepukin ramai-ramai supaya terbang tinggi ke angkasa.

Alon-alon

Untuk ukuran Jakarta ritme kehidupan di Solo terasa lamban sekali. Alon-alon asal kelakon. Di sana tidak ada bus kota, angkot atau tukang becak rebutan penumpang. Bus kota yang sering saya naiki kondisinya masih bagus sekali, sebagus lima tahun yang lalu, karena tidak pernah kebut-kebutan rebutan penumpang. Orang Solo juga sering dituding terlalu nrimo. Sebetulnya bukan nrimo, hanya saja orang Solo tidak mau upaya mencari materi di dunia ini mengganggu keseimbangan bathinnya. Siapa orangnya yang tidak ingin kaya, tetapi tidak usah ngoyo. Semuanya sudah ada yang mengatur, yang Diatas. mBok-mbok yang jualan nasi liwet langganan ibu saya, bisa menyekolahkan anaknya di Gajah Mada. Buat apa cepet-cepetan, yang datang duluan belum tentu lebih senang dari kita, Buat apa rebutan rejeki, yang lebih kaya belum tentu lebih bahagia dari kita. Di kantor kalau kita naik pangkat duluan kadang-kadang malah terasa risi, terkucil, seolah-olah keluar dari circle.

Lantas apakah orang Solo statis dan tidak kreatif. Saya kira tidak juga. Pasar Klewer adalah pusat perdagangan textil yang terbesar di Jawa Tengah. Dibanding dengan Semarang dan Jogya, tingkat pertumbuhan ekonomi paling tinggi justru di Solo. Campursari yang sekarang ini popularitasnya nomor dua setelah dangdut, lahir di Solo. Pinca-pinca yang di tempatkan di Kanwil Jogya, kalau disuruh memilih antara Semarang, Solo dan Jogya pasti milih Solo.

Perubahan

Solo sekarang sudah banyak berubah, terutama untuk generasi mudanya. Mereka meninggalkan Solo selepas SMA untuk sekolah dan mencari nafkah di tempat lain. Di tempat yang baru mereka menyerap nilai-nilai baru. Generasi tua sudah banyak yang tiada, tanpa sempat mewariskan nilai-nilai luhur budaya Solo. Solo dulu terkenal dengan sebutan kota yang tidak pernah tidur, banyak warung jajanan yang mulai buka jam 10.00 malam sampai pagi. Sesudah kerusuhan Mei 1998, warung-warung tadi bukanya sore, jam 10.00 sudah tutup. Harga makanan juga sudah mulai mahal. Yang makan nasi liwet Wongso Lemu, Keprabon, umumnya wisatawan atau orang Solo yang sudah lama tinggal di luar. Bakmi godog Pak Hardjo, Pasarkembang, satu porsi Rp7.000,-, hampir sama dengan harga bakmi Jawa di Pejompongan.

Pamit

Tidak terasa malam semakin larut, udara semakin dingin dan saya harus cari becak untuk pulang ke mBaturan, rumah ibu. Becak Solo agak berbeda dengan becak Jakarta atau Surabaya. Tempat duduknya lebih lebar serta lebih menyandar ke belakang. Kalau jaraknya agak jauh pasti ngantuk, tertidur. Saya pernah mempunyai pengalaman naik becak yang sedikit mengharukan. Belum lama saya duduk, tukang becaknya bertanya : “Saiki neng endi Roes ?” (Sekarang di mana Roes) Dengan agak terkejut saya menengok kebelakang. Rupanya dia Tembong, teman baik saya waktu di SD dulu, yang tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya. Alhasil, saya kasih dia Rp50.000 untuk ongkos becak yang biasanya cuma Rp2.000. Tidak apa-apa, for old time’s sake. Saya tidak tahu apakah dia sekarang masih kuat narik becak. Saya harus bersyukur masih bisa bekerja dan pensiun dengan selamat dari BRI.

Tiba-tiba salah seorang tukang becak teriak-teriak :” Den pakai becak saya saja, ditanggung pasti tidak digigit nyamuk.” Ada apa lagi ini, naik becak koq tidak digigit nyamuk. Saya mendekat sambil bertanya :”Lho apa hubungannya naik becak dengan digigit nyamuk ?” “Soalnya becak saya pakai tiga roda,” jawabnya sambil menyanyi ……nyamuk ini cuma takut tiga roda……. Wah tukang becak ini pasti terlalu sering nonton iklan obat nyamuknya Basuki. Sekian dulu, maturnuwun.

BRI Unit yang modern: antara persepsi dan realitas

Posted Januari 15, 2008 by Papah Doni
Categories: Manajemen

bri-unit.jpgDi Indonesia, sampai dengan tahun awal tahun 90-an belum banyak orang naik mobil matic (mobil dengan transmisi otomatis). Saya sendiri baru memakai mobil matic tahun 1997. Itupun karena disediakan BRI sebagai mobil dinas, kalau untuk membeli sendiri mungkin masih mikir-mikir. Orang beranggapan bahwa persnelling otomatis susah perawatannya, kalau mogok tidak bisa didorong, tidak bisa lari, kalau dijual lagi susah dls. Padahal kenyataannya tidak demikian. Tehnologi transmisi otomatis hampir sama usianya dengan tehnologi mobil itu sendiri. Di Amerika Serikat (AS) cukup banyak mobil matic produk tahun 60-an yang sampai sekarang masih jalan bagus. Sekarang, trend-nya justru ke mobil matic, terutama di Jakarta sudah merupakan kebutuhan karena jalanannya selalu macet. Orang merasa lebih bergengsi naik mobil matic. Bahkan untuk merk-merk seperti Nissan Sentra, Serena atau X-Trail seri terbaru tidak mengeluarkan model manual.

Kalau ditanyakan mana yang lebih aman naik pesawat dibanding dengan naik kereta api atau naik bus, orang akan langsung menjawab naik pesawat resikonya lebih tinggi . Alasannya sederhana saja. Kalau ada pesawat jatuh, hampir tidak ada yang selamat, sedang kalau ada tabrakan kereta atau bus paling hanya beberapa puluh saja yang tewas. Disamping itu kalau ada pesawat jatuh, liputan medianya besar-besaran, gaungnya kemana-mana. Agak berbeda dengan kalau ada bus masuk jurang atau kereta anjlog. Realistasnya, statistik membuktikan bahwa lebih banyak orang meninggal karena kecelakaan didarat dibanding dengan kecelakaan udara.

Kalau kita ke resepsi naik mobil Mercy, walaupun itu Baby-Benz tua tahun 90-an, pasti kita mendapat layanan VIP dari Satpam, sehingga bisa parkir di dekat lobby. Sebaliknya kalau kita naik Toyota New Camry atau Nissan Cefiro, atau bahkan Audi A-6, walaupun itu mungkin keluaran tahun 2004, tetap saja disuruh parkir di basement. Jadi Satpam taunya Mercy itu mobil paling mahal, yang naik Mercy pasti orang kaya, atau paling tidak yang punya Mercy pernah kaya.

Pandangan atau anggapan bahwa mobil matic sulit perawatannya, yang punya Mercy pasti orang kaya, atau naik pesawat lebih ber-resiko daripada naik bus disebut “persepsi”. Jadi, persepsi adalah suatu proses dimana seseorang meng-interprestasikan dan memberi arti kesan-kesan yang diperoleh dari pengamatannya terhadap sesuatu peristiwa, benda, orang atau situasi. Persepsi tidak selalu benar dan tidak harus sama dengan kenyataan. Dua orang bisa mempunyai persepsi yang berbeda atas obyek yang sama. Masyarakat mempunyai persepsi sendiri tentang pegawai negri, polisi, jaksa, artis, bank pemerintah, bank swasta, atau anggota DPR. Demikian pula, masyarakat mempunyai persepsi sendiri tentang BRI atau BRI Unit.

Persepsi dan perilaku

Mengapa kita konsern dengan persepsi, walaupun kita tahu perepsi tidak selalu sama dengan realita. Karena perilaku manusia lebih banyak didasarkan atas persepsi atas suatu realita bukan atas dasar realita itu sendiri. Mengapa demikian ? Hal ini lebih banyak berhubungan dengan fungsi otak. Kita mengenal fungsi otak sadar dan fungsi otak bawah sadar. Otak sadar berfungsi me-respon masa kini, segala sesuatu yang sedang kita hadapi saat ini. Kita haus ingin minum, kita lapar cari makanan, bermain golf, mengerjakan soal ujian, semuanya ini fungsi dari otak sadar. Logika, akal dan analisa sangat berperan dalam proses otak sadar.

Otak bawah sadar sangat dipengaruhi masa lalu, seperti : kesan-kesan, pengalaman, cerita, kata orang, mitos, legenda, trauma dan persepsi. Tindakan manusia dibawah pengaruh otak bawah sadar adalah melakukan pilihan atas dasar pengalaman, kesan, dan cerita masa lalu serta persepsi yang berkembang waktu itu. Logika dan akal pikiran tidak berperan lagi dalam proses bawah sadar. Pertanyaannya : mana yang lebih dominan antara otak sadar dan otak bawah sadar didalam mempengaruhi perilaku manusia ? Sedikit mengejutkan, berdasarkan penelitian tingkah laku manusia 12 % dipengaruhi oleh fungsi otak sadar dan 88 % dipengaruhi oleh fungsi otak bawah sadar. Jadi mudah dimengerti kalau perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi.

Di AS pemuda-pemuda kulit hitam (Afro-American) menganggap menjadi pemain basket, baseball atau football lebih mudah daripada harus meneruskan kuliah ke college untuk menjadi Medical Doctors. Harus diakui di ketiga cabang olah raga tersebut memang didominasi oleh atlit-atlit hitam. Jadi persepsi yang berkembang adalah menjadi pemain basket lebih mudah daripada meneruskan kuliah. Bahwa banyak atlit kulit hitam yang sukses dan kaya raya mungkin benar, tetapi bahwa menjadi pemain basket dan bisa masuk ke National Basket Associationd(NBA) lebih mudah daripada sekolah di college belum tentu benar. Banyaknya Insinyur Pertanian yang kerja di bank mungkin juga karena persepsi bahwa kalau kerja di bank lebih cepat jadi “orang” ketimbang kerja di Departemen Pertanian.

Kalau sekarang anda harus mengirim undangan, misalnya undangan perkawinan, saya berani bertaruh anda akan menggunakan jasa pengiriman (courier service) bukan menggunakan jasa PT Posindo. Karena apa ? Karena (persepsi) anda tidak yakin dengan menggunakan PT Posindo undangan bisa sampai ke alamat yang dituju tepat waktu. Mungkin sekarang kualitas layanan PT Posindo sudah jauh lebih baik, tetapi siapa yang berani ambil resiko.

Modernisasi BRI Unit

Program on line (Brinets) pada saat ini telah selesai diimplementasikan diseluruh kantor cabang BRI. Secara bertahap BRI Unit juga akan di-on line-kan. Sampai dengan akhir 2004 BRI Unit yang sudah on line mencapai 450 unit. Dengan perkembangan tehnologi informasi ini maka nasabah BRI Unit yang sudah on line dapat melakukan transaksi-transaksi seperti : pengambilan dan penyetoran simpanan BritAma, Simpedes, Simaskot antar cabang/unit, transfer antar cabang/unit, informasi saldo dan pengambilan tunai melalui fasilitas ATM secara lebih cepat dan mudah. Bukan hanya itu, bahkan nasabah juga bisa memperoleh kemudahan untuk membayar tagihan telpon,. listrik atau kartu kredit melalui BRI Unit yang sudah on line.

Dengan kemampuan pelayanan seperti diatas, dari segi tehnologi sebetulnya BRI Unit sudah sama dengan Kantor Cabang atau bank-bank umumnya lainnya. Orang BRI pasti tahu bahwa sebagian BRI Unit sudah on line. Sebagian nasabah BRI Unit pasti juga menyadari bahwa banknya sekarang kemampuan pelayanannya sudah jauh meningkat. Pertanyaannya : Bagaimana dengan persepsi masyarakat tentang BRI Unit kita? Apakah masyarakat sudah melihat bahwa BRI Unit sedang dalam dalam proses untuk menjadi bank yang modern. Atau, mereka masih menganggap BRI Unit masih seperti dulu : tradisional, kuno, sederhana, manual, belum on line, hanya cocok untuk rakyat pedesaan atau pedagang di pasar dan sebagainya. Realitanya, sebagian BRI Unit telah mampu melaksanakan transaksi perbankan secara elektronik. Namun sepanjang persepsi masyarakat masih menganggap bahwa BRI Unit masih seperti yang dulu, maka peningkatan kemampunan sistem penyaluran (delivery system) tidak akan efektif dalam meningkatkan daya saing untuk menjaring nasabah-nasabah baru.

BritAma adalah salah satu produk tabungan BRI yang sudah diakui sangat berhasil dan dapat disejajarkan dengan produk-produk tabungan bank lain seperti Tahapan-BCA, Taplus-BNI, atau tabungan Mandiri. Sebelum lahirnya BritAma, BRI sudah mempunyai Tabanasbri. Tabanasbri sudah lama dikenal masyarakat sebagai produk tabungan tradisonal BRI, belum on line, belum sistem bunga harian , tidak bisa menggunakan ATM, hanya dapat mengambil atau menyimpan di cabang asal dsbnya. Seandainya tetap menggunakan nama Tabanasbri, walaupun fiturnya sudah jauh berbeda, saya tidak yakin akan bisa memperoleh tingkat keberhasilan sebagimana yang dicapai BritAma sekarang ini. Jadi perubahan nama dari Tabanasbri menjadi Britama merupakan salah satu cara untuk merubah persepsi masyarakat bahwa BritAma bukan lagi seperti Tabanasbri yang dulu.

Bagi pengambil kebijakan di BRI, pertanyaan yang perlu diajukan adalah : Apakah seluruh, atau sebagian besar, BRI Unit akan di-on line-kan ? Kalau jawabannya ya, maka pertanyaan lanjutannya : Bagaimana kita ingin BRI Unit kita dipersepsikan oleh masyarakat setelah kini mampu memberikan pelayanan secara on line dengan segala macam fiturnya? Apakah kita ingin tetap di-persepsi-kan sebagai bank yang tradisional, simple, mudah dan ramah terhadap orang kecil atau kita ingin BRI Unit kita dipersepsikan sebagai yang modern yang sejajar dengan Capem BCA atau Danamon yang beroperasi tidak jauh dari kantor-kantor kita.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyarankan agar BRI Unit ditampilkan secara modern, atau menyarankan supaya BRI Unit tetap seperti sekarang ini. Diperlukan penelitan pasar yang lebih tajam untuk mengetahui persepsi masyarakat dan harapan-harapan mereka terhadap BRI Unit saat ini. Sementara ini dikalangan orang BRI terdapat anggapan agar penampilan BRI tetap dipertahankan sederhana, jangan terlalu mewah, sedikit kotor tidak apa-apa agar orang kecil yang pakai sarung dan sandal jepit tidak takut masuk kantor BRI Unit. Apakah memang demikian persepsi masyarakat, atau ini hanya persepsinya orang BRI sendiri ?

Hubungan PB PP BRI dengan Pendiri dan Dana Pensiun BRI

Posted Januari 15, 2008 by Papah Doni
Categories: Pengetahuan umum

gd-bri.jpgPada saat ini terdapat 3 fihak yang sangat berperan didalam upaya-upaya yang menyangkut perbaikan nasib dan masa depan penisunan BRI, yaitu Pengurus Besar Persatuan Pensiunan (PB PP) BRI, Pendiri atau Direksi BRI dan Dana Pensiun (DP) BRI. Ketiga organ ini seluruhnya dikelola oleh orang-orang yang berasal dari satu almamater, yaitu BRI, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Di perusahaan lain dapat ditemukan dana pensiun yang sepenuhnya dikelola oleh professional yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan pendiri maupun pensiunan. Ini terjadi karena perusahaan tersebut tidak mempunyai cukup tenaga yang ahli dibidang keuangan.

Tidak mengherankan apabila pengalaman sewaktu masih berdinas di BRI maupun hubungan emosional dimasa lalu banyak mewarnai komunikasi dan hubungan kerja diantara ketiga organisasi ini. Padahal dari secara legal masing-masing organ ini merupakan entitas yang terpisah (separate entity) yang memiliki hak, kewajiban dan otonomi sendiri. Tulisan singkat ini bermaksud memberikan masukan bagaimana seharusnya masing-masing fihak memposisikan dirinya dan berkomunikasi satu sama lain.

Pengurus Besar dan Pendiri

Persatuan Pensiunan(PP) BRI adalah organisasi dan satu-satunya wadah resmi pensiunan pegawai BRI yang dibentuk oleh pensiunan untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan pensiunan BRI. Pengurus dipilih oleh dan dari para pensiunan yang dipercaya dan dinilai mampu serta bersedia untuk melayani kebutuhan para pensiunan di tingkat cabang. Jadi kualifikasi untuk bisa menjadi pengurus PP adalah dapat dipercaya(amanah), mampu, dan bersedia. Dari ketiga kriteria ini, umumnya kriteria yang terakhir (mempunyai waktu dan bersedia) yang paling sulit ditemukan. Harap diingat bahwa menjadi pengurus PP lebih banyak merupakn tugas sosial, karena tidak mendatangkan keuntungan finansial. Mekanisme pemilihan kepengurusan ini kurang lebih sama baik di tingkat Cabang , Komda sampai ke Pengurus Besar.

Kalau di koperasi kekuasaan tertinggi berada di tangan rapat anggota , di Perseroan Terbatas berada di Rapat Umum Pemegang Saham maka untuk PP BRI berada ditangan anggota melalui forum Musyawarah Besar (MUBES). Siapa yang akan menjadi Ketua Umum adalah sepenuhnya pilihan anggota melalui mekanisme MUBES. Fihak-fihak diluar pensiunan BRI tidak bisa mempengaruhi, menentukan atau meminta seseorang tertentu untuk menjadi ketua umum. Bahkan Direksi BRI-pun tidak dapat mempengaruhi atau menentukan siapa-siapa yang bisa menjadi Ketua Umum PB PP BRI. Hal ini sudah kita buktikan dengan beberapa kali MUBES.

Sudah barang tentu kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang ketua umum jauh lebih tinggi daripada seorang ketua PP. Disamping pengetahuan dan pengalaman dibidang organisasi, ketua umum juga diharapkan memiliki kualifikasi antara lain:

a. Menguasai permasalahan program pensiun BRI termasuk aspek-aspek keuangan dan bisnis pengelolaan Dana Pensiun BRI.

b. Dapat bekerja sama baik dengan pengurus Dana Pensiun BRI maupun dengan anak-anak perusahaan dilingkungan DP BRI.

  1. Kritis, analitis dan mampu mengikuti perkembangan permasalahan yang dihadapi oleh BRI, Dana Pensiun maupun Anak-anak Perusahaan.
  2. Mampu berkomunikasi dengan Direksi BRI/Pendiri secara independen (mandiri) pada posisi yang sederajat.

Dari mekanisme pemilihan pengurus diatas membuat persatuan pensiunan BRI ini sebagai organisasi yang independen atau mandiri. Independen dalam arti PB tidak berada dibawah siapa-siapa dan tidak menginduk kepada organisasi lain. Bahkan PB independen dari Direksi BRI dan tidak menerima perintah dari BRI. Hubungan antara PB dan Direksi BRI adalah sejajar karena Ketua Umum tidak diangkat oleh Pendiri(Direksi BRI). Posisi PB adalah satu level dengan pendiri. Komunikasi antara PB dengan pendiri lebih banyak membahas isu-isu strategis yang menyangkut kesejahateraan pensiunan bukan masalah-masalah yang sifatnya tehnis operasional. Bahkan untuk masalah-masalah atau kebijakan yang sangat mendasar akan mempengaruhi nasib pensiunan, PB mempunyai hak untuk meminta penjelasan kepada pendiri. (semacam interpelasi)

Disamping sifatnya yang independen, ciri yang ke dua dari organisasi PB adalah sifatnya yang demokratis. Proses pemilihan Ketua Umum PB berlangsung sangat demokratis, dimana calon-calon diajukan oleh anggota dan dipilih oleh anggota secara bebas dan terbuka. Desakan anggota untuk menyelenggarakan MUBESLUB pada bulan Maret yang lalu, menunjukkan betapa demokratisnya organisasi pensiunan ini. Ketika terjadi kevacuuman kepemimpinan karena meninggalnya Pak Djumeri, diambil kebijakan untuk mengangkat ketua kolektif. Karena didalam anggaran dasar tidak dikenal adanya jabatan ketua kolektif, maka anggota tetap menuntut agar ketua yang baru dipilih melalui MUBESLUB.

Pendiri dan Dana Pensiun BRI

Direksi BRI, dalam hubungannya dengan pensiunan disebut sebagai Pendiri, karena yang mendirikan Dana Pensiun (DP)BRI. DP didirikan untuk melaksanakan tugas pokoknya atau misinya yaitu : memelihara kesinambungan penghasilan pegawai BRI setelah purna tugas dari BRI. Aplikasi dari misi ini adalah pengelolaan kekayaan DP dan pelayanan kepada para pensiunan yang berupa administrasi dan pembayaran manfaat pensiun. Walaupun didirikan oleh pendiri(BRI), Undang-undang No 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun menetapkan bahwa dana pensiun adalah badan hukum yang berdiri sendiri terpisah dari pendirinya. Pengurus atau direksi dana pensiun mempunyai otonomi didalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, termasuk dalam mengelola investasinya sepanjang tidak melanggar arahan investasi sebagaimana yang digariskan dalam Undang-undang atau arahan investasi dari pendiri.

Dikeluarkannya UU No 11 th 1992 adalah dalam rangka melindungi kepentingan pensiunan dengan mencegah intervensi yang terlalu dalam dari pendiri terhadap manajemen DP sebagaimana yang pernah terjadi ketika DP masih berbadan hukum yayasan.(YDP BRI). Kita tentu masih ingat pada waktu itu Kantor Pensiun BRI, yang merupakan unit kerja YDP BRI, ditempatkan sebagai salah satu urusan di kantor pusat dan Direktur Personalia secara ex-officio menjadi ketua yayasan. Mudah dimengerti kalau pada waktu itu cukup banyak kebijakan investasi yang diambil direksi BRI yang tidak sepenuhnya untuk kepentingan terbaik (the best interest) pensiunan, seperti investasi tanah dan bangunan yang kurang produktif, penyertaan pada Bank Industri serta pembelian keanggotaan pada beberapa klub golf.

Walaupun undang-undang menjamin otonomi DP, namun DP tidak sepenuhnya independen karena pengangkatan pengurus/direksi DP dan penetapan rencana kerja tahunan masih merupakan kewenangan pendiri. Jadi hubungan antara Pendiri dengan DP seharusnya lebih menyerupai hubungan antara pemegang saham dengan direksi perusahaan, bukan seperti hubungan antara Kantor Pusat BRI dengan Kantor Wilayah atau antara Kantor Wilayah dengan Kantor Cabang.

PB dan DP BRI

Pensiunan BRI mempunyai hak untuk ikut mengawasi pengelolaan DP BRI dengan duduk sebagai anggota Dewan Pengawas DP BRI. Undang-undang DP menjamin hak pensiunan untuk menjadi anggota Dewan Pengawas. Peraturan Dana Pensiun BRI pasal 12 ayat 5 menyatakan salah satu anggota Dewan Pengawas adalah : 1(satu) orang wakil dari pensiunan yang diajukan oleh organisasi resmi pensiunan yang diakui pleh pendiri. Kemandirian PB memberikan hak sepenuhnya untuk menunjuk siapa yang akan mewakili pensiunan BRI untuk duduk dalam Dewan Pengawas. Perlu di klarifikasi bahwa pendiri tidak mengangkat tetapi hanya mengesyahkan anggota Dewan Pengawas dari unsur pensiunan. Siapa yang akan ditunjuk diserahkan sepenuhnya kepada PB, yaitu yang dinilai PB mampu dan mempunyai kompetensi untuk mengawasi DP BRI.

Dari uraian diatas, kalau saya menempatkan posisi PB dengan pendiri adalah sejajar, maka dari segi pengawasan, PB lebih tinggi dari DP BRI. Hal ini karena PB melalui wakilnya dapat ikut mengawasi manajemen DP. Sedang dari segi pelayanan kepada pensiunan, Dana Pensiun adalah mitra kerja PB dalam rangka memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pensiunan BRI. Komunikasi PB dengan DP lebih banyak menyangkut hal-hal yang bersifat tehnis operasional sehari-sehari, yaitu untuk masalah-masalah yang masih dalam batas kewenangan DP.

Harapan

Harapan kami kepada PB agar nilai-nilai organisasi yang sangat berharga dan telah dimiliki selama ini, yaitu sebagai organisasi yang mandiri dan demokratis dapat dipertahankan. Dalam rangka memperjuangkan kepentingan dan aspirasi anggotanya, PB hendaknya mampu berkomunikasi dengan Direksi BRI/Pendiri secara independen pada posisi yang sederajat atau pada level yang sama. Memang harus diakui bahwa PB sering dalam posisi yang memohon fasilitas dan kebaikan hati pendiri dalam memperbaiiki kesejahteraan pensiunan. Untuk itu PB harus pandai-pandai membina hubungan kerja yang sebaik-baiknya dengan pendiri, karena kewenangan untuk memperbaiki nasib pensiunan berada ditangan pendiri. Namun kalau sampai dihadapkan pada situasi dimana harus memilih antara membela kepentingan pensiunan dengan menjaga hubungan baik dengan Pendiri, PB harus berani memilih untuk membela pensiunan BRI karena untuk tujuan itulah organisasi ini didirikan.